Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Rencana Pernikahan


"Elma, kau mau kemana, sayang? Ada mama sama papa Edo ingin bertemu."


Mami Aline merasa tidak enak hati pada kedua orang itu karena tingkah putri nya yang tadi sempat membuat orang-orang khaatir lalu tiba-tiba saja kabur saat didatangi dua orang itu.


Sedangkan mama Edo seakan tahu kepanikan Elma hanya tersenyum menanggapi hal itu.


"Tidak apa, Jeng. Mungkin calon menantu ku kebelet buang air." Tante Dena terkekeh pelan setelah berkata demikian. Karena dia tahu dengan persis wajah Elma tadi yang baru saja bangun dan belum sempat dicuci.


"Maafkan atas kelakuan putri saya yang tidak sopan, nyonya." Mami Aline masih merasa tak enak walau pun mama Edo biasa saja.


"Tidak apa-apa, Jeng. Saya memaklumi," Tante Dena menanggapi dengan senyuman." dan jangan panggil saya dengan sebutan nyonya. Sebentar lagi kita akan jadi besan. Panggil nama saya saja." Tegur nya, merasa tak nyaman dipanggil Nyonya. Sedangkan mami Aline merasa tak enak jika hanya memanggil nama terlebih derajat sosial mereka berbeda.


"Apa tidak apa-apa? Saya merasa tidak sopan jika harus memanggil nama langsung, kalau begitu saya panggil Bu Dena saja."


Mama Edo tersenyum mendengar nya, "Ya, terserah Jeng Aline saja. Yang penting jangan panggil saya Nyonya."


Dan rencana nya hari ini tante Dena dan mama Aline akan mengajak Elma mendatangi sebuah butik gaun pernikahan pesanan tante Dena. Sebelumnya tante Dena sudah lebih dulu memilih gaun yang cocok untuk Elma setelah memperkirakan postur tubuh Elma yang dilihat  dari foto, dan hari ini Elma hanya tinggal mencoba beberapa gaun pilihan tante Dena yang cocok untuk Elma.


sedangkan para lelaki akan melanjutkan obrolan mereka mengenai bisnis yang dibangun Edo. Papa Edo menyarankan putra nya untuk kembali merintis perusahaan di sini, yaitu membangun rumah sakit di kota ini. Bagaimana pun, keahlian Edo yang sebagai dokter harus tetap di gunakan agar ilmu nya bermanfaat. Tapi kembali lagi, semua keputusan papa Edo serahkan pada putra nya karena yang menjalani hidup adalah dia.


Papa Edo tidak ingin mengatur apalagi mengekang pergerakan putra nya, sedangkan papa Edo hanya sebatas memberi saran serta masukan.


"Selamat pagi, Tante." Elma yang baru saja datang dari arah kamar mandi dengan wajah lebih segar dari sbelum nya langsung berinisiatif mengambil telapak tangan Tante Dena dan mencium punggung tangan nya. Mama Edo tersenyum melihat kesopanan Elma, dia senang karena Edo tak salah mencari istri. Ternyata apa yang dikatakan Edo benar, Elma adalah gadis yang sangat baik.


"Om," Elma beralih mencium tangan Papa Edo. Papa edo yang sejak tadi hanya terdiam menatap lekat Elma pun memberi usapan di puncak kepala nya.


"Bagaimana kabar mu, nak?" Tanya papa Edo setelah Elma menegakkan tubuh. "aku dengar kau bisa menyelesaikan studi mu dalam waktu satu tahun. Itu artinya kau murid cerdas."


Elma hanya menanggapi perkataan Papa Edo dengan senyum  kikuk, lalu ekor mata nya menatap Edo yang berdiri di sebelah papa nya dengan tatapan kesal tetapi tak tahu apa yang menyebabkan Edo menatap nya seperti itu. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja.