
kereta kuda yang sinyya dan juga lu chenyu tumpangi telah sampai di wilayah frondes.di akibat kan jalanan yang licin dan juga banyak pohon tumbang serta serpihan-serpihan reruntuhan rumah yang menghalangi jalan.perjalanan yang harus nya hanya memakan waktu 2 jam kini harus di tempuh dalam waktu 3 jam lamanya.
sinyya mengikuti langkah lu chenyu turun dari kereta kuda,dengan berhati-hati menjadikan tangan suaminya itu sebagai tumpuan.ia menatap ke arah sekitar.sinyya yakin banjir bandang kali ini cukup parah.melihat keadaan rumah penduduk yang terlihat rusak.dengan banyaknya barang-barang serta puing-puing bangunan rumah berceceran di mana-mana.kerugian akibat banjir kali ini pasti sangat lah besar melihat betapa parahnya keadaan sekitar.
apalagi dengan banjir yang belum benar-benar surut ini terlihat menggenang hampir sekitar betis sinyya.sinyya tak bisa membayangkan betapa paniknya warga di wilayah ini ketika mendapat kan tempat tinggal mereka mengalami kebanjiran pada menjelang pagi.apalagi banyak rumah yang mengalami kerusakan dan barang-barang yang hilang terbawa arus banjir.syukurlah lu chenyu berujar tidak ada korban pada banjir kali ini,selain hilangnya barang-barang,serta rumah warga yang terendam banjir.
lu chenyu menepuk pundak sinyya menyadarkan wanita itu dari lamunan nya.
ia tersenyum ke menatap ke arah sinyya
"ayok kita akan berjalan menuju tempat pengungsian.akan susah bila kita menggunakan kereta kuda,mengingat jalan menuju sana yang tak memungkinkan untuk di lewati kereta kuda"
"ah,ya.ayok" ajak sinyya seraya menyunggingkan senyum manisnya
________
lu chenyu berjalan seraya terus memperhatikan langkah sinyya yang terlihat biasa saja ketika berjalan di antara air yang menggenang di setiap jalan nya.ia sedikit terkejut melihat sikap sinyya yang berbeda dari apa yang dia fikirkan sebelum sampai di sini.ia kira istrinya itu akan menjadi sedikit risih ketika berjalan di antara pemukiman yang terlihat kacau,dengan ke adaan jalan berlumpur dan juga tergenang oleh banjir yang belum surut sepenuhnya.mengingat wanita itu semasa hidupnya hanya tinggal berdiam diri di rumah mewah serta bersih tanpa debu yang berceceran sedikit pun.harusnya wanita itu merasa tertekan karena baru menginjakan diri ketempat yang kotor seperti ini.namun lihat wanita itu malah berjalan santai seraya tersenyum memandang prihatin keadaan sekitar.tanpa ada raut jijik sedikitpun pada wajahnya.
lu chenyu menghela nafasnya pelan.haruskah ia bersyukur? karena ternyata dugaannya salah.sepertinya sinyya akan menikmati waktunya dalam membantu menangani warga di sini.ataukah ia harus kecewa? karena sinyya tak memutuskan kembali ke istana seperti fikirannya tadi sebelum mengajak istrinya itu kemari.ya,lu chenyu kira istrinya itu akan meminta di kembalikan untuk pulang ke istana ketika melihat keadaan sekitar yang kacau dan kotor.karena itu lu chenyu tanpa fikir panjang langsung mengijinkan sinyya untuk ikut kemari,dengan beranggapan bahwa wanita itu akan kembali juga nantinya ketika sudah sampai di sini.jujur ia begitu menghawatirkan keadaan sinyya saat ini.tidak menutup kemungkinan ketika pulang dari sini istrinya itu bisa saja akan terjatuh sakit akibat suhu yang lumayan rendah dengan wilayah yang terlihat kotor di sini.
"apakah kita sudah sampai pangeran?"tanya sinyya menoleh sekilas ke arah lu chenyu.setelah 15 menit mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.dan kini telah di hadapkan dengan sebuah bangunan di depan sana
"ekhem" lu chenyu berdehem untuk menetralkan keterkejutannya setelah sedari tadi terdiam memikirkan sesuatu di dalam kepalanya "iya,kita sudah sampai" jawab lu chenyu seraya tersenyum tipis
sinyya mengangguk lalu menarik lu chenyu untuk masuk ke dalam sebuah bangunan yang lumayan tinggi dari bangunan lainnya, terlihat banyak penjaga dan juga warga yang berlalu lalang di depan bangunan itu.
tempat yang ia masuki bersama lu chenyu dan para pengawal di belakang nya ini.merupakan sebuah balai,di mana balai ini di gunakan sebagai tempat di langsungkan nya ,rapat,acara penting maupun pesta panen pada tahun biasanya.namun saat ini tempat ini di jadikan sebagai tempat pengungsian untuk warga yang terdampak bencana banjir.mengingat balai ini berada di titik ketinggian yang tak memungkinkan untuk banjir sampai menyentuh atau menenggelamkan balai.
sinyya menatap ke sekitar ketika sudah masuk kedalam balai itu.banyak warga yang menunduk hormat padanya dan juga lu chenyu ketika berpapasan, di dalam sana banyak warga yang tengah melakukan aktivitas nya masing-masing dari yang tengah makan,tidur,maupun mengobrol dengan warga lainnya.sinyya kira ketika masuk ia akan melihat suasana yang tak kondusif dengan keadaan acak-acakan di sekitar sini.namun ia salah balai ini sangat luas,rapih dan juga bersih.para pengungsi terlihat rapih dengan tempat tidur yang berjejeran rapih.serta alat-alat pribadi mereka yang tersimpan rapih di masing masing tempat penyimpanan.untuk makanan pun tersedia di tempat nya sendiri dengan banyak meja dan kursi yang berjejeran rapi.ia seperti tengah melihat sebuah restoran besar di tempat yang begitu luas ini.terdapat koki yang di tugaskan untuk memasak. hingga warga yang mengungsi di sini tak perlu repot-repot untuk memasak makanan mereka.
lu chenyu berujar terdapat 3 balai yang sama luasnya dengan balai ini.di wilayah frondes. balai itu juga di jadikan sebagai tempat pengungsian sementara.mengingat hampir semua warga di wilayah ini terdampak banjir.jadi sangat tidak mungkin untuk menampung mereka semua dalam satu balai saja.
lu chenyu menatap puas kinerja para bawahannya dalam membantu melayani warganya yang tengah di landa musibah.ia memberikan perlakuan yang sama untuk setiap balai yang di jadikan tempat mengungsian.agar semua warga merasa nyaman walaupun hanya tinggal di tempat pengungsian.selagi menunggu banjir surut serta rumah mereka yang mengalami kerusakan akibat banjir, di renovasi kembali seperti sediakala.
sinyya menatap lu chenyu yang pergi meninggalkannya,setelah meminta ijin padanya untuk menemui pemimpin wilayah ini.ia terdiam tidak tau akan melakukan apa karena semuanya sudah selesai di lakukan oleh para pekerja ke empat suaminya itu.ia akui mereka sangat kompeten dalam menangani masalah di sini.sehingga warga di sini terlihat tercukupi dengan sinar lega di wajahnya masing-masing walaupun di wilayah Mereka tengah di landa banjir bandang.
sinyya berjalan ketika melihat seorang gadis kecil tengah terduduk seraya mencoret-coret sesuatu pada kertas kasar di hadapannya dengan sebuah tinta hitam.sinyya memutuskan untuk duduk di sebelah gadis itu.melihat hal apa yang tengah ia lakukan pada kertas coklat yang terlihat kasar di hadapannya itu.
"kau sedang menggambar apa?"tanya sinyya menunduk menatap wajah gadis itu
gadis kecil itu terlihat sedikit terusik mendengar sebuah pertanyaan di barengi dengan kehadiran seseorang di sebelahnya.ia mendongak lalu menoleh ke arah suara itu.gadis itu terlihat mengedipkan-ngedipkan mata bulatnya polos ketika melihat keberadaan sinyya tidak jauh dari diri nya.
tak berselang lama gadis itu tiba-tiba turun dari kursi seraya membungkuk menghadap sinyya "holmat hamba yang mulia putli" ucapnya
sinyya terbengong sebentar melihat pergerakan gadis kecil itu,sebelum kembali tersadar.ia tersenyum lalu mengelus pucuk kepala gadis kecil itu
"tegakan badan mu"perintah nya
"kau mengenalku?" tanya sinyya masih dengan senyuman yang terpatri dari wajahnya
tak lama gadis kecil itu mengangguk antusias menjawab pertanyaan sinyya "ya aku mengenal yang mulia,ibu ku celing mencelitakan anda,aku pelnah melihat yang mulia cekali saat arak-arakan pelnikahan anda di kota"
sinyya mengangguk mengerti
"duduklah kembali,kau tak perlu terlalu kaku berbicara padaku,panggil saja aku kakak"perintah sinyya
gadis kecil itu dengan cepat menaiki kursinya kembali dengan susah payah di bantu oleh sinyya.lalu tak lama gadis itu menoleh ke arah sinyya.ia menggelengkan kepalanya pelan.membuat sinyya mengerutkan alisnya bingung
"aku tak boleh memanggil yang mulia kakak kalena itu tidak copan,kata ibuku jika kita tidak copan pada anggota kelajaan kita akan mati di penggal"tutur gadis itu seraya mencekik lehernya dengan lidah menjulur keluar,memperaktikan seseorang yang tengah dalam keadaan mati
sinyya terkekeh melihat nya.ia mengusap kepala gadis itu pelan "hemm.kalau begitu kau panggil saja aku putri.tanpa embel-embel yang mulia dengan begitu kau tak akan mati terpenggal" balas sinyya seraya tersenyum geli memandang wajah gadis mungil di hadapannya
gadis itu mengangguk seraya tersenyum cerah"baik putli"
sinyya mengangguk."oh ya.siapa namamu?"tanya sinyya
"nama ku leline" jawab gadis itu seraya tersenyum lucu
"OHH namamu leline"angguk sinyya
tapi gadis kecil itu malah menggeleng kecil
"bukan.tapi leline" ujar gadis kecil itu merevisi
"iya namamu leline kan?"balas sinyya seraya tersenyum
terlihat gadis kecil itu merengut menatap sinyya seolah apa yang di katakan sinyya adalah salah.gadis kecil itu menghela nafas panjang seperti tengah memiliki beban yang begitu berat.sinyya tersenyum kecil melihat tingkah nya "nama ku itu leline.el.e.el.i.en.e. leline." tekan gadis kecil itu di setiap ejaan nya
sinyya mengerutkan dahi nya tak mengerti.tak lama ia tergelak di buatnya.ah sinyya mengerti sepertinya gadis kecil itu tak bisa menyebutkan huruf 'R' dengan benar karena masih cadel "OHH namamu rerine"ujar sinyya masih dengan kekehan nya
gadis kecil itu mengangguk seraya tersenyum
"iya leline"
sinyya tersenyum menatap gemas gadis itu.ia mencubit pipi tembam gadis itu sekilas seraya berkata"baiklah. kalau begitu aku akan memanggilmu rine" seru sinyya semangat.
"oke rine,mau kah kau berteman dengan ku?"lanjut sinyya seraya memperlihatkan jari kelingkingnya
gadis itu terbengong menatap sinyya yang terlihat tersenyum cantik menatapnya,tak lama ia tersadar dan langsung menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sinyya antusias. "melupakan cuatu keholmatan hamba putli,bica belteman dengan anda" jawab gadis itu dengan bahasa formal lalu terkikik geli karena ulah nya sendiri
sinyya tertawa kecil menanggapi
"wahh.pintar nya" balas sinyya dengan mencolek hidung gadis itu gemas