
Pagi itu terasa lebih indah dari pagi di hari-hari sebelumnya. Kabar kehamilan kedua Sheila disambut bahagia oleh semua orang. Terutama si Kecil Michella yang sudah tak sabar menantikan kelahiran adiknya. Kondisi Michella pun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Gadis kecil itu bahkan sudah boleh makan es krim yang selama ini tidak diizinkan oleh sang ayah.
Kini, semuanya telah kembali pada tempatnya semula. Marchel tetap bekerja di Rumah Sakit Cipta Harapan sebagai seorang dokter ahli kardiologi. Sedangkan Dokter Willy telah diangkat menjadi kepala rumah sakit milik keluarga Darmawan itu.
Pak Arman yang telah pensiun dan menikmati hari tuanya. Di sisi lain, Rayhan dipercaya memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan Darmawan Group mewakili Sheila.
Audry pun telah diberangkatkan keluar negeri oleh Sheila untuk menjalani pengobatannya. Sheila memberikan apapun yang diperlukan selama wanita itu berada di luar negeri. Sedangkan Maya, setelah drama panjang yang menjadi hukuman dari kesalahannya di masa lalu, berkat bantuan Rayhan, ia dapat melanjutkan kembali pendidikannya.
Pagi itu, sudah pukul delapan, namun Sheila masih betah bergelung di bawah selimut seorang diri. Kehamilan kali ini membuatnya sangat manja dan menjadi pemalas.
Sedangkan Marchel, pagi-pagi buta sudah menghilang dari kamar. Entah kemana dan sedang apa.
Dengan senyum mengembang, seorang pria sedang berkutat dengan kegiatan penting di dapur. Bagai seorang koki handal, Marchel sedang berusaha membuatkan sarapan untuk sang istri. Ingin menebus kesalahannya pada kehamilan pertama Sheila yang dijalani wanita itu sendirian, kini Marchel ingin membayar apa yang pernah terlewati. Mengganti rasa sakit yang pernah ditorehkannya secara tak sengaja dengan memberi sang istri perhatian lebih pada ibu dari anak-anaknya itu.
Dengan memakai celemek dan sebuah buku panduan memasak, Marchel mengerutkan alisnya membaca kata demi kata yang tertulis dalam buku itu. Tidak pernah menyentuh apapun yang berurusan dengan dapur membuat sang dokter kebingungan sendiri. Ia melirik bahan yang baru saja diambilnya dari kulkas dengan tatapan bingung.
"Cuci semua bahan dan potong-potong." gumam-gumam kecil sambil membaca petunjuk dalam buku. Marchel pun mencuci dan memotong bahan-bahan itu kecil-kecil, hingga tanpa sadar pisau mengiris jarinya sendiri. "Auh... Jariku!" Dengan segera Marchel mencuci tangan dan mengambil plester obat di kotak obat.
"Sekarang, panaskan wajan." Walaupun bingung laki-laki itu tetap mengambil wajan dan meletakkannya di atas kompor yang baru saja dinyalakan. "Lalu bagaimana aku tahu wajan sudah panas atau belum? Masa iya aku harus menyentuhnya. Sudah cukup jariku yang berkorban."
Beberapa menit kemudian, kepulan asap mulai terlihat. Marchel pun menjadi panik. Ia mematikan kompor dan mengibaskan tangannya agar asap segera hilang.
Ibu yang melihat asap dari arah dapur segera menuju ke sumber asap. Khawatir jika rumahnya sampai kebakaran. "Marchel, kau sedang apa?"
"Aku sedang membuatkan sarapan untuk Sheila, Bu."
"Membuat sarapan? Sarapan apa?"
"Nasi goreng. Dia sangat suka nasi goreng buatan Bibi Yum. Jadi aku mau membuatkannya." jawab Marchel berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Biar ibu saja yang buatkan," tawar ibu.
"Tidak usah, Bu. Biar aku saja. Aku bisa, tenang saja."
"Baiklah."
Wanita paruh baya itu pun meninggalkan dapur, menuju ruang keluarga tempatnya biasa bermain dengan cucu kesayangannya.
Sementara di dapur, Marchel melanjutkan drama masak-memasaknya.
"Masukkan minyak secukupnya." Marchel berpikir sejenak. "Secukupnya itu sebanyak apa? Setengah liter atau satu liter? Kenapa buku ini tidak menjelaskan sebanyak apa?" Sepertinya sang dokter mulai gemas dengan buku yang dibacanya.
Karena bingung, akhirnya Marchel memasukkan sedikit-sedikit. "Segini saja dulu. Nanti kalau kurang akan ku tambah."
Kompor kembali dinyalakan. Beberapa saat kemudian, setelah meyakini minyak telah panas, Marchel memasukkan beberapa bahan secara bersamaan ke dalam wajan. Sesekali ia terlihat masih bingung membaca petunjuk dari buku itu. Namun, keinginannya untuk membahagiakan Sheila dengan memberinya perhatian lebih mengalahkan segalanya.
"Masukkan nasi putihnya, dan aduk hingga semua bumbu merata." Sambil berdecak Marchel mengaduk nasi nasi gorengnya dengan agak keras, sehingga berhamburan kemana-mana.
Berselang beberapa menit kemudian, nasi goreng dengan warna sedikit gelap di beberapa bagian telah jadi. Marchel menatap nasi gorengnya dengan raut wajah penuh tanya. Ia membandingkan nasi goreng buatannya dengan gambar yang ada di dalam buku. "Tunggu, kenapa warnanya tidak sama ya? Yang di buku agak merah, dan buatanku agak hitam di beberapa tempat. Padahal cara masak dan bumbunya sama."
Ia kembali meneliti buku itu, mencari nama penulis yang tertera di sana. "Aku merasa petunjuk di buku ini seperti petunjuk sesat yang sering Willy ajarkan padaku. Untung saja Willy itu dokter. Kalau tidak, aku akan mengira buku ini ditulis oleh Willy."
*****
"Selamat pagi, Sayang!" Marchel muncul dari balik pintu dengan membawa menu sarapan nasi goreng buatannya sendiri. Bahkan ia lupa membuka celemek yang masih melekat di tubuhnya.
Sheila menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, ketika mencium aroma kurang sedap yang tiba-tiba menguar di kamar itu.
"Kak Marchel bawa apa?"
"Aku habis memasak nasi goreng untukmu. Kau sangat suka nasi goreng kan. Karena ini akhir pekan dan aku sedang libur, jadi aku yang membuatkannya."
Sheila membenarkan posisinya dan duduk bersandar di tempat tidur. Ia meneliti curiga wajah suaminya itu. "Kak Marchel bisa memasak?"
"Apa susahnya memasak? Kan ada buku petunjuk. Hanya saja warnanya yang agak berbeda dari yang ada di buku." Laki-laki itu mengambil piring berisi nasi goreng itu.
Aroma masakan itu bahkan membuat Sheila merasa mual. Dan warnanya yang agak gelap meyakinkan Sheila yakin bahwa nasi goreng buatan Marchel itu gosong.
"Aku suapi ya?" tawar Marchel.
"Tidak mau! Baunya tidak enak."
Marchel pun mengendus nasi goreng buatannya sambil berpikir keras. "Tidak, baunya biasa saja. Mungkin pengaruh kehamilan. Buka mulutmu! Aku suapi."
"Tidak mau! Kak Marchel coba dulu, kalau enak baru aku makan."
"Baiklah, lihat ya, aku makan!" Marchel memasukkan satu suap nasi goreng ke mulutnya. Dan, matanya membulat sempurna ketika merasakan nasi goreng itu menyiksa indera perasanya. Namun, susah payah, laki-laki itu menelannya.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Sheila.
Marchel meraih segelas air putih dan meneguknya hingga gelas tandas. Matanya sampai memerah karena rasa aneh masakan buatannya itu.
"Em .... Sayang, aku rasa ini lumayan enak. Hanya saja garamnya kebanyakan dan agak gosong. Hehe... Bagaimana kalau aku ambilkan menu sarapan yang lain?"
"Kalau rasanya sudah kacau begitu, lalu apanya yang lumayan enak?"
Marchel meletakkan piring berisi nasi goreng itu di atas meja, sambil bibir mengerucut. "Aku kan mau seperti tokoh Dimas di novel Bukan Pernikahan Biasa. Dia seorang suami yang sempurna di mata para wanita."
Sheila menghela napas panjang mendengar ucapan suaminya itu. Namun, dalam hati ada rasa bahagia. Karena sejak kehamilan keduanya, Marchel menjadi sangat perhatian dan memanjakan Sheila. Kondisi yang sangat berbeda dengan kehamilan pertamanya yang penuh perjuangan.
Bahkan Marchel rela melakukan apapun yang diinginkan sang istri untuk memenuhi ngidamnya.
******