Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Tragedi


Dengan mata berkaca-kaca, Marchel membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas itu. Memejamkan matanya sesaat, Marchel teringat Sheila yang sudah menjelaskan beberapa kali bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Marchel, namun tak sedikitpun lelaki itu percaya pada sang istri.


"Kau lihat? Hasilnya positif. Anak itu adalah anakmu." Willy menjelaskan.


Marchel menjatuhkan setitik air matanya. "Artinya gadis yang bersamaku di penginapan itu benar-benar Sheila. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya? Dia sangat berbeda."


"Dasar bodoh kau ini. Istrimu sendiri saja tidak bisa kau kenali."


memasukkan kembali secarik kertas itu ke dalam amplop dan berdiri dari duduknya. "Will, aku harus pergi. Aku mau menemui Sheila dan meminta maaf padanya."


Tanpa mempedulikan apapun, Marchel meninggalkan ruangan Willy. Bahkan Willy beberapa kali memanggilnya, namun Marchel tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Sheila dan anaknya.


Bagaimana mungkin aku tidak mempercayai Sheila. Dia sudah menjelaskan padaku, tapi aku malah tidak percaya padanya. Apa dia akan memaafkanku? batin Marchel.


Dengan segera, Marchel melajukan mobil meninggalkan halaman rumah sakit itu, menuju tempatnya meninggalkan Sheila tadi pagi.


****


"Audry, kau yakin dia tinggal di sini?" tanya ibu sambil menatap sebuah rumah yang sangat sederhana.


"Iya, Bu. Aku melihat Marchel di sini kemarin," balas Audry seraya memajukan mobilnya.


Ibu terlihat menggeram. "Sejak kepulangannya, Marchel tidak pernah tidur di rumah. Dia hanya pulang untuk ganti baju dan pergi lagi."


"Sepertinya dia tinggal di sini bersama si culun itu! Ayo kita temui dia, Bu. Beri dia peringatan untuk menjauhi Marchel. Aku yakin anak haram yang dia kandung itu bukan anak Marchel." Wajah ibu semakin terlihat penuh dengan amarah. Sepertinya telah termakan oleh hasutan wanita di sampingnya. Audry tersenyum licik melihat raut wajah ibu. "Marchel mana mau menyentuh gadis kampungan sepertinya. Dia pasti hamil dengan orang lain. Lagi pula Marchel sudah pergi sebelum dia ketahuan hamil, kan?"


"Iya. Ibu juga meragukan anak itu."


"Sampai kapan pun aku tidak rela kalau dia bersama Marchel, Bu! Hanya aku yang layak untuk Marchel." Kedua wanita itu turun dari mobil, menuju rumah sederhana itu.


"Rumah ini benar-benar tidak layak huni. Tapi dimana dia?" Audry memutar bola matanya kesana-kemari, mencari sosok Sheila. Sesaat kemudian, gadis angkuh itu melihat Sheila sedang berada di balkon, sepertinya sedang mengambil jemuran. "Bu, dia di atas!" Audry menunjuk ke tempat dimana Sheila berada.


"Ayo kita temui dia dan segera pergi dari tempat menjijikkan ini." Ibu melangkah, menaiki tangga menuju balkon diikuti Audry.


Sheila baru akan turun ketika melihat dua wanita jahat itu menghampirinya. Tubuhnya pun gemetaran, takut pada ibu mertua dan Audry.


"Ka-kalian mau apa?" Sheila memberanikan diri bertanya, walaupun tidak berani menatap dua orang itu..


"Kami kemari untuk memperingatkanmu. Jauhi Marchel dan pergilah dari hidupnya," ucap ibu meninggikan suaranya.


Sheila menunduk dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa kau tidak minta pertanggung jawaban dari laki-laki yang menghamilimu. Kau pasti hamil dengan orang lain, kan? Marchel tidak mungkin mau menyentuhmu!" tuduh Audry.


Akibatnya, tubuh Sheila terhempas, terguling di tangga besi itu. Tepat saat Marchel baru saja tiba. Laki-laki itu membeku, melihat tubuh Sheila yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari bagian bawah sana.


"Sheila!" teriak Marchel hiateris, mengagetkan ibu dan Audry.


Marchel segera berlari meraih tubuh Sheila, memeluknya dengan erat. Sheila masih setengah sadar, merasakan sakit di perutnya. Namun, sudah tidak ada daya untuk mengerang kesakitan. Hanya alisnya yang mengerut, mewakili perasaan sakitnya, seiring dengan kesadarannya yang kian berkurang. Hingga kedua matanya telah menutup.


Marchel melirik ke atas sana, matanya memerah, melihat ibu dan Audry membeku di atas balkon.


"Sheila... Buka matamu!" ucapnya sambil menepuk pipi istrinya.


Ibu pun tersadar dari keterkejutannya, segera turun dari tangga, dan berjongkok di hadapan Sheila. Tangannya gemetaran melihat banyaknya darah yang mengalir. Ibu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Audry bisa sejahat itu, sampai berniat mencelakai Sheila.


"Marchel, cepat bawa Sheila ke rumah sakit!" teriak ibu, membuat Marchel yang masih menangis segera mengangkat tubuh Sheila dan mendudukkannya di kursi penumpang depan.


Marchel kemudian melajukan mobilnya dengan cepat, meninggalkan ibu dan Audry.


"Audry apa yang kau lakukan? Kenapa kau buat Sheila jatuh dari tangga?" bentak ibu.


"Kenapa Ibu berteriak? Ibu juga membencinya sama seperti aku, kan?"


Ibu mengusap air matanya, menyesali perbuatan Audry. "Ibu memang tidak menyukai Sheila karena sudah mengkhianati Marchel. Tapi bukan berarti kau bisa mencelakainya, kan?"


Audry menunduk, napasnya memburu. "Kenapa Ibu malah memarahiku? Bukankah Ibu seharusnya senang aku mencelakainya?"


"Cukup Audry!" Satu tamparan keras mendarat di wajah Audry. "Kalau terjadi apa-apa pada Sheila, Marchel tidak akan memaafkan kita."


Audry begitu terkejut dengan reaksi ibu yang langsung melayangkan tamparannya. Demi apapun wanita itu tidak ikhlas ibu menamparnya demi membela si culun Sheila.


****


Sheila terbaring tak sadarkan diri di dalam ruang IGD Maternal. Marchel dibantu beberapa perawat lain berusaha memberinya pertolongan pertama. Sesekali terdengar suara Marchel yang berusaha membangunkannya.


Tidak lama kemudian, Dokter Willy memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Segera memeriksa keadaan Sheila.


"Siapkan ruang operasi! Kita harus cepat!" ujar Willy pada beberapa perawat.


****


BERSAMBUNG