Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Willy Sahabatku!


Di sebuah ruangan, Willy masih terbaring tak sadarkan diri. Di sisinya ada Marchel yang sejak tadi duduk di sampingnya. Laki-laki itu menatap dalam-dalam wajah pucat sahabatnya itu.


Willy dan Marchel bersahabat sejak kecil. Mereka berbagi dalam hal apapun. Willy bahkan menjadikan miliknya adalah milik Marchel juga, begitu pun sebaliknya. Namun, tak pernah dibayangkan oleh Marchel sebelumnya bahwa sahabatnya itu akan berkorban sebesar itu. Mengorbankan seseorang yang dicintainya demi sahabatnya.


Marchel menjatuhkan setitik air matanya, dengan tatapannya yang terarah pada Willy. Ia mengingat kembali kenangan Shanum. Berstatus pacaran selama dua tahun tak membuat Marchel mengetahui segalanya tentang wanita cantik itu.


Jadi ini sebabnya selama dua tahun, Shan sangat dingin padaku. Kadang aku merasa dia sengaja menghindar dariku. Dan bodohnya aku benar-benar berpikir itu memang hanya karakternya. Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya? Wil dan Shan saling mencintai, tapi aku berada di antara mereka.


Hingga pagi menjelang, Marchel masih duduk di sana, menunggu Willy terbangun. Tidak lama kemudian, bulu mata Willy bergerak-gerak pertanda lelaki itu akan terbangun. Lenguhan serak terdengar seperti menahan rasa sakit. Membuat Marchel tersadar dari lamunannya. Willy pun membuka matanya perlahan.


"Kau sudah sadar?" tanya Marchel.


"Mmhh ..." erangan kecil kembali terdengar. Willy meraba selimut tipis yang menutupi perutnya ketika merasakan sakit akibat sayatan. "Aku dimana?" Masih setengah sadar, Willy bergumam.


"Kau di rumah sakit!"


Willy mencoba mengumpulkan kesadarannya, tatapannya meneliti ruangan itu. "Oh, sial! Apa aku benar-benar terluka?" tanya Willy ketika mengingat kejadian semalam.


"Ya, lumayan! Untung tidak mengenai organ vital."


"Lalu bagaimana anak kecil itu?" Bermaksud menanyakan Elsa pada Marchel.


"Dia sudah pulang. Tadi dia tidak mau pergi, tapi aku memaksanya. Apa yang terjadi semalam?" tanya Marchel.


"Aku berkelahi dengan beberapa preman yang mau mengganggu anak kecil itu. Aku tidak menyangka mereka membawa senjata tajam."


"Syukurlah, kau tidak apa-apa." Marchel menunduk sesaat, menatap dompet milik Willy yang masih di genggamannya. "Oh, ya. Ini dompetmu. Aku mengambilnya untuk mengurus administrasi."


Seketika Willy terdiam, dengan wajahnya yang kembali memucat. Jika dompet miliknya ada di tangan Marchel, sudah pasti sahabatnya itu sudah menemukan foto yang terselip di dalam dompet itu. Melihat raut wajah Marchel yang tampak berbeda saja, sudah membuat Willy yakin bahwa Marchel sudah melihatnya.


"Marchel, aku bisa jelaskan tentang foto itu," ujar Willy. Ia hendak bangkit dari posisinya, namun rasa sakit di perut kembali menjalar jika banyak bergerak.


"Kau jangan banyak bergerak dulu!" Marchel menarik senyum tipis, namun jelas terlihat gurat kesedihan.


*****


"Maafkan aku sudah merahasiakan semuanya darimu selama ini. Aku yang meminta Shan melakukannya. Shan adalah segalanya bagiku. Aku mencintainya lebih dari apapun. Aku mohon jangan menyalahkan dirimu. Aku memang belum bisa menerima kepergian Shan. Tapi sungguh, aku baik-baik saja. Malam sebelum Shan pergi, aku bersamanya. Dia bilang padaku, agar aku jangan menangisinya. Ya, aku memang tidak pernah menangisinya."


"Karena itulah kau berpacaran dengan sembarang wanita untuk menutupi perasaanmu kan?" Kedua bola mata Marchel masih berkaca-kaca.


"Anggap saja hiburan. Shan pernah marah padaku karena melihatku bersama wanita lain. Aku bilang padanya, akan berhenti kalau menemukan gadis seperti dirinya," ucap Willy mengingat kembali kenangannya bersama gadis pemilik hatinya itu.


Dan aku akan merasa bersalah telah menjadi orang ketiga di antara kalian.


"Marchel, aku mohon jangan menyalahkan dirimu. Sungguh, aku tidak apa-apa. Aku masih akan meneruskan penjelajahanku. Setidaknya berpacaran dengan banyak wanita lumayan menyenangkan."


Marchel melayangkan kepalan tinju ke lengan sahabatnya itu. "Awas kena karma. Kau terlalu banyak memberi janji buta pada gadis-gadis," ucap Marchel disambut tawa kecil dari Willy.


******


Malam itu, dengan tak bersemangat Marchel kembali ke rumah. Ia melangkah menuju kamar tanpa mempedulikan Michella yang merengek padanya, hingga membuat Sheila heran tentang ada apa dengan suaminya itu.


Memasuki kamar, Marchel duduk di sofa. Ia mengambil bingkai foto yang terletak di atas meja. Sheila selalu membawa foto itu kemana pun dirinya pergi. Foto yang memperlihatkan seorang wanita cantik yang memeluk seorang gadis berkacamata tebal. Marchel memandangi foto itu dengan raut wajah sedih. Setitik air matanya lolos begitu saja mengingat pengorbanan yang dilakukan Willy dan Shanum untuknya.


Tanpa disadari oleh Marchel Sheila berada di belakang punggungnya. Ia melihat suaminya memandangi foto Shanum dengan menitikkan air mata. Ada rasa sakit yang kembali menggores di hati Sheila, mengira sang suami masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu. Isakan pun mulai terdengar, membuat Marchel segera menoleh.


"Sayang, tolong jangan salah paham!" ucap Marchel mencoba mendekat pada Sheila. Ia meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja.


"Jangan salah paham bagaimana? Kak Marchel mau bilang belum bisa melupakan Kak Shan kan? Apa Kak Marchel masih berpura-pura bisa menerimaku? Kak Marchel juga pernah kan, berpura-pura bisa menerimaku padahal semua itu bohong? Sekarang apa lagi ini?"


"Sayang, tolong dengarkan aku dulu!" Marchel meraih tubuh Sheila dan menariknya ke dalam pelukannya. Sementara Sheila terus memberontak, berusaha melepaskan pelukan Marchel.


"Lepaskan aku!" Sheila mendorong dada Marchel sehingga mundur beberapa langkah. "Kalau Kak Marchel belum bisa melupakan Kak Shan, kenapa memintaku kembali?"


"Sayang... Jangan seperti ini! Kemarilah, aku bisa jelaskan!" Marchel melembutkan suaranya. Namun, Sheila seakan tidak peduli. Ia melangkahkan kakinya, hendak keluar dari kamar. Namun baru di ambang pintu, kepalanya mendadak terasa pusing dan ia terjatuh ke lantai begitu saja. Dan, semuanya menjadi gelap.


Marchel yang melihat Sheila pingsan segera berlari dan meraih tubuh istrinya itu.


"Sheila..." panggil Marchel seraya menepuk pelan wajah pucat itu.