
Sayup-sayup suara gemercik hujan mulai terdengar, memecah kesunyian malam ketika butiran-butiran bening berjatuhan membasahi bumi.
Malam itu, di dalam sebuah mobil, seorang pria duduk di kursi kemudi, memandangi wajah polos seorang wanita yang sedang terlelap di sampingnya. Marchel mengusap rambut Sheila pelan, agar belaian tangannya tak membangunkan wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Kau sama sekali tidak berubah, Sheila. Kau masih selalu tertidur saat lelah menangis, seperti dulu," gumamnya.
Marchel belum melepaskan tatapannya dari wajah Sheila. Namun pikirannya melayang jauh. Teringat beberapa hari lalu, saat Pak Arman memanggilnya untuk bicara empat mata di dalam sebuah ruangan.
Flashback On
"Pak Arman memanggilku?" tanya Marchel sesaat setelah memasuki ruangan Pak Arman.
"Iya, duduklah, Dokter!" Pak Arman menunjuk kursi di depannya dan dengan segera Marchel duduk di sana, sehingga kini posisinya berhadapan dengan pria paruh baya itu.
"Ada apa, Pak?" tanya Marchel.
Pak Arman terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mulai mengutarakan maksudnya memanggil Dokter Marchel untuk bicara secara pribadi.
"Sebenarnya ini masalah pribadi. Maaf, aku benar-benar tidak enak membicarakannya denganmu. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku rasa ini yang terbaik."
Marchel sudah menduga, jika tujuan Pak Arman memanggilnya sudah pasti mengenai sang istri, Sheila. "Tidak apa-apa, Pak! Apa ini tentang Sheila?"
"Iya, kau benar. Ini memang tentang Sheila. Aku membutuhkan bantuanmu."
"Bantuan?"
Pak Arman mengangguk pelan, "Aku sangat mengkhawatirkan Sheila. Maafkan aku, membawanya keluar negeri tanpa meminta izinmu. Tapi saat itu aku tidak punya pilihan lain. Nyawa Sheila benar-benar terancam. Sheila juga beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya. Dia depresi karena kehilangan anaknya. Aku pikir, aku bisa membuatnya melupakan semua kesedihannya dengan membawanya pada lingkungan yang baru. Tapi ternyata waktu dan tempat tidak bisa menghilangkan kedukaannya. Dan sekarang, dia sedang menghancurkan dirinya sendiri dengan dendam kematian orang tuanya, kakak yang begitu dia sayangi, dan juga kematian anaknya."
"Ya, dia juga sedang memberiku hukuman karena kesalahanku. Dia bahkan tidak mau bicara denganku." Wajah Marchel sudah berubah sedih.
"Itu wajar. Dia masih terlalu muda. Dokter Marchel, kau adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya. Hanya kau saja yang bisa mengobati luka hatinya dan meredam amarahnya," ujar Pak Arman.
Marchel menghela napas panjang seiring kepasrahan yang terlihat di wajahnya. "Sheila hanyalah seorang ibu yang menderita karena kehilangan anaknya. Jadi aku akan menerima hukuman apapun yang akan dia jatuhkan padaku."
"Tapi bukan orang lain saja yang akan dia sakiti. Melainkan dirinya sendiri. Dia akan menderita lebih banyak dengan dendamnya."
Marchel terdiam. Entah bagaimana caranya meredam dendam yang telah membara di hati istrinya itu.
***
Flashback Off
Marchel mengusap setitik air matanya yang terjatuh, mengingat penderitaan Sheila selama beberapa tahun belakangan sejak kehilangan sosok seorang kakak yang sangat disayanginya. Melirik Sheila sekilas, sebelum akhirnya mulai menyalakan mesin mobil.
Kurang dari satu jam, mobil yang dikemudikan oleh Marchel telah tiba di sebuah rumah mewah. Beberapa orang penjaga segera mendekat, membukakan pintu mobil. Marchel pun segera menggendong Sheila memasuki rumah itu.
Sang dokter kembali terkejut, manakala mendapati Bibi Yum, wanita paruh baya yang telah membesarkannya juga berada di rumah itu. Bibi Yum segera menunjukkan pada Marchel kamar Sheila yang berada di lantai atas.
****
Marchel masih duduk di dalam mobil, diam membisu dengan tatapan kosong.
Marchel, jangan menyerah untuk meluluhkan hati Sheila. Dia hanya sedang marah saja. Dia masih mencintaimu seperti dulu. Hanya saja semua perasaannya tertutupi oleh dendamnya. Dia sudah banyak menderita. Setelah kepergianmu waktu itu, nyonya dan Audry memperlakukannya dengan sangat buruk. Berusahalah untuk mendapatkannya lagi. ucapan Bibi Yum terngiang di benak Marchel.
"Aku akan berusaha. Sheila, mungkin kau belum bisa memaafkanku. Tapi aku akan menunggu sampai kapanpun kemarahanmu mereda."
_
_
_
_
Bersambung
Sheila