Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Kejahilan Willy


Sayup-sayup kicauan burung saling bersahutan menyambut datangnya pagi. Embun yang membasahi dedaunan melengkapi indahnya pagi itu. Sinar mentari mulai mengintip melalui celah jendela.


Sheila masih begitu betah bergelung di bawah selimut. Seluruh tubuhnya terasa pegal akibat perbuatan Marchel yang menyerangnya membabi buta, tanpa kata ampun.


Semalaman Marchel benar-benar lupa diri. Seakan tiada hari esok, laki-laki itu menikmati malam keduanya bagai kesetanan. Marchel pun dibuat heran, ada apa dengan dirinya yang terus dan terus menginginkannya, bahkan walaupun Sheila sudah kelelahan menghadapinya.


Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi ketika Marchel masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan. Ia membelai rambut istrinya itu dengan sayang, kemudian mengecup keningnya.


"Selamat pagi, Sayang!" ucapnya dengan seringai menyebalkan bagi Sheila.


"Hemm..." jawaban yang singkat, padat dan jelas. Menggambarkan betapa kesal dirinya. Wanita itu mengerucutkan bibirnya dengan lucu, membuat Marchel begitu gemas.


"Sayang... Aku minta maaf. Aku juga tidak tahu ada apa denganku. Aku tidak bisa menahannya."


"Kak Marchel bilang tidak akan sakit. Dan buktinya apa? Aku merasa lebih sakit dari pada hari itu."


"Benarkah sesakit itu?" tanya Marchel diiringi anggukan kepala Sheila. "coba sini aku periksa." Menyibakkan selimut tebal yang dipakai Sheila.


"Eh, mau apa?" Sheila kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sini aku periksa, katanya sakit." Menarik kembali selimut itu dan menyibakkan piyama dress yang dikenakan Sheila.


"Tidak mau!" Sheila menahan tangan Marchel yang mencoba menarik piyamanya.


"Kenapa memangnya? Sini aku lihat!"


"Aku malu. Pokoknya aku tidak mau! Kak Marchel kan dokter ahli jantung bukan dokter ahli kelamin."


Marchel menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Sheila. "Memangnya kenapa kalau aku bukan ahli kelamin? Aku tidak boleh memeriksanya? Aku cuma mau lihat Sheila, lecet atau tidak!"


"Tidak mau!" Kali ini Sheila menaikkan suaranya.


"Baiklah, kalau begitu aku pijat saja ya. Mau kan?" tawar Marchel melembutkan suaranya.


"Tidak mau! Itu pasti modus!"


Laki-laki itu menghela napas panjang, mengurut kening dengan satu jari. "Baiklah, kalau begitu sarapan dulu. Aku suapi!" Tanpa banyak bicara lagi, Marchel meraih tubuh Sheila, menggendongnya ke kamar mandi. "Cuci muka, gosok gigi, lalu sarapan!"


Sheila menutup pintu kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin besar. Menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyibakkan piyama yang dipakainya dan meneliti setiap bagian tubuhnya dimana begitu banyak tanda merah yang ditinggalkan Marchel. Sheila sampai bingung menghitung jumlahnya.


"Kenapa sebanyak ini?" Memutar tubuhnya di depan cermin. Bahkan di punggung saja ada banyak tanda merahnya. Dan yang paling menyebalkan, berjalan saja rasanya sakit. "Dia pasti sudah gila. Kenapa aku jadi takut padanya. Bagaimana kalau malam ini dia minta lagi. Aaa... Tidak tidak! Aku tidak mau."


Wanita itu duduk di sebuah kursi yang terdapat di depan cermin besar itu sambil memandangi pantulan dirinya. Wajahnya sampai merona merah mengingat kegiatan semalam. Marchel sangat seksi baginya, namun agak menakutkan.


"Awalnya saja yang enak, tapi lama kelamaan jadi sakit." Sheila sampai merinding memikirkannya.


****


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Sheila terlonjak.


"Sayang ... Sedang apa di dalam? Kenapa lama sekali."


"Sebentar!" Buru-buru, Sheila membasuh wajahnya dengan air beberapa kali hingga merasa segar kembali.


Dan setelah itu,.keluar dari kamar mandi dengan wajah merengut.


"Kenapa?" tanya Marchel saat melihat wajah Sheila yang sepertinya masih kesal.


"Coba lihat ini, ini, ini dan ini!" Sheila menunjuk satu persatu bagian tubuhnya yang terdapat tanda merah. "Kenapa Kak Marchel membuat tanda seperti ini? Aku kan malu kalau di lihat orang!"


"Aku tidak mau keluar kamar hari ini!" gerutu Sheila.


"Baiklah, di kamar saja. Tapi jangan marah lagi ya. Aku minta maaf," ucapnya sambil mengusap rambut Sheila. "Nanti aku beri salep biar bekasnya cepat hilang."


****


"Hari ini kau tidak kemana-mana kan?" tanya Marchel seraya menyuapkan sepotong roti ke mulut Sheila.


"Tidak kemana-mana. Aku mau istirahat di rumah," jawabnya dengan mulut penuh roti.


"Baiklah, aku akan ke rumah sakit sebentar. Aku harus menemui Willy."


"Memangnya ada apa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya perlu memastikan sesuatu." Memberikan segelas jus pada Sheila. "Jangan lupa setelah sarapan minum ini!" Menunjuk sebuah botol kecil.


"Memangnya itu apa?"


"Hanya vitamin." Marchel beranjak menuju lemari, mengambil jaket dari sana. "Aku pergi dulu." Marchel memberi kecupan sayang di kening sebelum akhirnya keluar dari kamar.


*****


Setibanya di rumah sakit, Marchel langsung menuju ke ruangan sahabat laknatnya itu. Di depan ruangan tampak beberapa pasien yang sudah mengantri. Marchel langsung masuk begitu saja.


"Rupanya ada pengantin baru. Apa malammu menyenangkan?" tanya Willy tanpa rasa berdosa, sembari merapikan meja kerjanya. Ia sedang bersiap-siap memulai pekerjaannya.


Marchel duduk di kursi dengan raut wajah curiga. Tatapannya sangat mengintimidasi, membuat Willy merasa ingin tertawa. Ia sudah menebak apa maksud kedatangan sahabatnya itu.


"Pil apa yang kau berikan padaku semalam?"


Willy bagai tersendak udara mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


Marchel teringat semalam saat Sheila sedang menidurkan Chella, ia meminta bantuan Willy untuk menyiapkan malam kedua yang indah. Dengan senang hati, Willy datang membawa beberapa benda, seperti lilin aroma terapi dan juga bunga-bunga untuk ditabur di lantai. Sebelum pulang, Willy sempat memaksa Marchel meminum sebutir pil. Bahkan Marchel tidak tahu pil macam apa yang diberikan Willy padanya.


"Memangnya apa yang terjadi? Wah, malam keduamu pasti luar biasa ya..." Sudah mulai menggoda temannya itu. "Kalian pasti sangat mesra kan? Haha, aku jadi membayangkannya."


Marchel melempar kotak tissue ke arah Willy dan tepat mengenai dadanya. "Jangan membayangkan istriku!"


"Baiklah..." Mengangkat kedua telapak tangannya sambil cekikikan sendiri. "Itu hanya vitamin!"


"Vitamin?"


"Kau ini kan dokter, apa kau tidak tau pil apa yang kuberikan padamu?"


Marchel menggeleng pelan, "Memangnya aku sempat melihat bentuk pil itu? Kau langsung memasukkannya ke mulutku, kan?" Mendengar ucapan Marchel membuat Willy tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Ia beberapa kali mencoba menghentikan tawanya saat melihat wajah Marchel yang menggeram, namun tetap tak bisa. Gelak tawa itu keluar saja tanpa bisa dikendalikan.


"Itu obat kuat! Aku khawatir malam keduamu akan gagal, jadi aku beri itu untukmu."


Duarrrrr!!!


Wajah Marchel pun berubah kesal menyadari kejahilan sahabatnya itu. Pantas saja ia menyerang Sheila tanpa ampun, sampai merasa heran ada apa dengan dirinya. Willy kadang memberi Marchel sebuah ide gila saat mendekati Sheila.


"Ya ampun, pantas saja...."


****


BERSAMBUNG


Jiaaahhhh si Marchel, Malam pertama korban minuman, Malam kedua korban pil setan 😂🤣