
Dengan langkah meragu, Marchel melangkah, mendekat pada sang istri yang masih diam mematung. Laki-laki itu menarik Sheila ke dalam pelukannya, seraya mengusap rambut panjang istrinya itu. Kedua bola matanya telah dipenuhi cairan bening. Marchel menyalahkan dirinya sendiri, yang pergi begitu saja meninggalkan Sheila hanya untuk melupakan malam yang baginya penuh dosa itu.
"Maafkan aku, Sheila. Aku tidak menjagamu dengan baik, sampai semua ini terjadi. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian. Ini bukan salahmu."
Sheila terdiam. Ia berusaha melepaskan tangan Marchel yang melingkar di tubuhnya, kemudian mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Hendak pergi meninggalkan Marchel, namun sang suami segera menarik pergelangan tangannya.
"Mari kita bicara dulu," ajak Marchel melembutkan suaranya.
"Aku tidak mau bicara dengan Kak Marchel."
"Aku mohon, Sheila." Marchel mendudukkan Sheila di kursi panjang itu, kemudian berjongkok di depannya. Ia menatap dalam-dalam wajah sheila yang sedang menunduk.
"Aku benar-benar berharap apa yang ibu katakan padaku tadi salah. Aku bilang pada ibu, kau adalah gadis baik-baik dan tidak mungkin mengkhianatiku. Aku sangat berharap apa yang kubaca di dalam surat dari pihak sekolah itu salah. Aku masih berharap kau adalah istriku yang polos." Marchel membelai wajah Sheila, namun walaupun ia berbicara dengan nada yang sangat lembut, akan tetapi sangat menusuk bagi Sheila. "Kenapa semua ini bisa terjadi padamu? Beritahu aku siapa yang melakukan ini?"
Sheila meremass pakaian yang dikenakannya, memejamkan matanya. "Apa Kak Marchel percaya dengan apa yang mereka katakan tentangku?"
"Aku tidak mau percaya, Sheila. Tapi kenyataannya seperti ini. Jawab aku dengan jujur. Siapa ayah dari anak yang kau kandung?"
Air mata yang mengalir di wajah Sheila semakin deras. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Marchel bagai sembilu yang menyayat hatinya. "Jadi Kak Marchel pikir aku bisa tidur dengan laki-laki lain? Apa begitu?"
"Aku tidak mau berpikir seperti itu. Aku masih berharap kau bisa menjaga dirimu untukku. Tapi kenyataannya sekarang, kau sedang hamil. Katakan padaku, siapa yang menghamilimu?"
Sheila menyeka air mata dengan tangannya. "Kalau aku bilang ayah dari anak yang aku kandung adalah anak Kak Marchel, apa Kak Marchel akan percaya?"
Marchel terdiam. Seketika air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh begitu saja. "Bagaimana aku bisa percaya, Sheila? Kita memang tidur di satu kamar selama berbulan-bulan. Tapi aku sama sekali belum pernah menyentuhmu. Lalu bagaimana kau bisa bilang anak yang kau kandung adalah anakku?"
"Kak Marchel bahkan tidak mengingat malam itu. Bagaimana Kak Marchel bisa percaya padaku? Kalau aku ceritakan, apa Kak Marchel akan percaya?" tanya Sheila. Ia melepaskan tangan Marchel yang menggenggam tangannya, kemudian berdiri dari duduknya. Wanita muda itu kemudian melangkah pergi meninggalkan suaminya itu.
"Sheila!" panggilan Marchel menghentikan langkah kaki Sheila.
"Kau bilang anak yang kau kandung itu anakku, kan? Aku perlu bukti untuk itu."
Sheila mengepalkan tangannya mendengar ucapan suaminya itu. Rasa sakit di hatinya kian bertambah. "Bukti apa?" tanya Sheila tanpa berbalik.
"Ayo kita lakukan tes DNA. Untuk membuktikan siapa ayah dari anak itu."
"Tes DNA?" Sheila kembali menjatuhkan air matannya.
"Iya, aku mau melakukan tes DNA. Kau bilang anak itu anakku, kan? Aku perlu bukti untuk itu."
Apa dia setidak percaya itu padaku, sampai harus melakukan tes DNA untuk meyakinkannya bahwa anak yang kukandung memang anaknya? batin Sheila.
"Aku tidak mau! Kalau Kak Marchel tidak percaya padaku, tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak ada artinya bagi Kak Marchel kan? Semua kebaikan Kak Marchel padaku hanya pura-pura."
Marchel kembali mendekat pada Sheila, mencoba meraih tangan sang istri. Namun dengan cepat Sheila melepas tangannya.
"Aku hanya butuh bukti, Sheila. Kalau anak itu memang anakku, kau tidak perlu takut untuk melakukan tes DNA kan?"
****