
Seorang Lelaki berpostur tubuh tegap terlihat sedang berolahraga pagi di sebuah taman yang cukup luas. Langit Jerman pagi itu sangat cerah, seolah mendukung perasaan bahagianya. Laki-laki itu melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Sambil tersenyum tipis, dia menggeleng pelan.
"Dasar pemalas!"
Dengan cepat, dia melangkah masuk ke dalam sebuah rumah mewah, menapaki anak tangga satu demi satu. Hingga tiba di depan sebuah kamar. Laki-laki itu mengetuk pintu pelan.
Hening, tidak ada sahutan dari dalam sana. Mengetuk lagi dengan sedikit lebih keras, sambil berdecak. Hingga beberapa menit kemudian, rupanya masih belum ada tanda-tanda seseorang yang berada di dalam sudah terbangun. Laki-laki itupun memutar gagang pintu kamar itu, membukanya sedikit, dan melongokkan kepala ke dalam.
Benar, sang penghuni kamar tanpa rasa berdosa masih terlelap di bawah selimut dengan posisi tengkurap. Hanya ujung kepalanya saja yang terlihat. Lelaki itu memasuki kamar dengan nuansa serba putih itu. Dia mendekat, dan menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur.
Perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang tergeletak di atas bantal. Dia meraihnya dan tersenyum tipis, menatap potret sosok wanita cantik yang memeluk seorang gadis berkacamata tebal.
Diletakkannya bingkai foto itu di atas meja nakas, lalu melirik sosok yang masih berada di bawah selimut dengan gemas. Dia menyibakkan selimut hingga batas tengah punggung.
"Hey, Nona manis... Bangun! Dasar pemalas," ujarnya sambil menepuk punggung seorang gadis berambut panjang.
"Emh..." Gadis itu hanya menjawab dengan deheman malas, menarik kembali selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Lelaki itu menghela napas panjang, kemudian berdecak. Lalu berusaha membangunkannya lagi. "Bangun pemalas! Kau lupa ini hari apa?" menarik selimut hingga menutupi kaki saja.
Dengan rasa malas, gadis itu membuka sedikit matanya. "Kak Rey... Jangan bangunkan aku! Aku masih mengantuk!" Kembali menutup matanya, melupakan segala urusan dunia.
"Qiandra Sheila Darmawan!!! Kau lupa ini hari wisudamu?" Suara Rayhan terdengar lantang, membuat gadis yang baru akan tertidur lagi itu membelalakkan matanya.
"Wisuda? Ya ampun aku lupa! Kenapa tidak bilang dari tadi, Kak!" Buru-buru gadis itu bangkit dari pembaringannya. Meraih jubah mandi dan masuk ke kamar mandi.
"Dasar!" Rayhan berdecak heran, lalu melangkah keluar dari kamar itu, menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar gadis itu.
****
Di sebuah dapur, seorang wanita paruh baya dengan beberapa pelayan lain sedang menyiapkan sarapan. Dia menata beberapa menu sarapan kesukaan tuan putri di atas meja.
"Selamat pagi, Bibi!" sapa Rayhan, seraya menjatuhkan tubuhnya di meja makan.
"Selamat pagi, Rey," jawabnya seraya melirik tangga. "Dimana nona kecil itu?"
"Mungkin sedang siap-siap. Aku sudah membangunkannya tadi. Dasar gadis pemalas." Rayhan mengoles selai di atas selembar roti tawar.
"Selamat pagi semua!" Pak Arman menarik kursi dan duduk di sana.
"Selamat pagi, Ayah!"
"Dimana Sheila?" tanya Pak Arman.
"Di sini!" Terdengar suara ceria seorang gadis cantik yang baru saja menuruni tangga. Dengan senyum bahagia ikut duduk di sana. "Selamat pagi, Ayah!" tersenyum ceria menatap lelaki paruh baya di sampingnya, lalu melirik tajam sosok lelaki yang duduk di hadapannya dengan bibir mengerucut lucu. Rayhan terkadang sangat galak baginya.
"Selamat pagi, Nak!" balas Pak Arman. "Ayo sarapan dulu, jangan sampai terlambat."
Sheila menyantap menu sarapan buatan Bibi Yum dengan lahapnya. Masakan Bibi Yum selalu menjadi kesukaannya. Beberapa tahun lalu, setelah berhenti bekerja di rumah keluarga Marchel, Bibi Yum diminta Pak Arman untuk ikut ke Jerman menemani Sheila dan Rayhan.
Sheila, seorang gadis cantik dan cerdas berusia 22tahun, bukan lagi seorang gadis culun yang penakut. Selama empat tahun tinggal di Jerman, Rayhan membentuk Sheila yang lama menjadi Sheila yang baru. Tidak ada lagi wajah polos dengan kacamata tebal. Sheila telah menjelma menjadi seorang tuan putri yang tidak hanya cantik dan elegan, namun juga pemberani.
***
Universitas Hamburg, salah satu universitas ternama di Jerman dimana Sheila menyelesaikan pendidikannya. Hari itu adalah hari wisudanya, Sheila lulus membanggakan dengan predikat Cum Laude. Gadis yang kini menjadi periang itu tampak sangat bahagia dengan didampingi Pak Arman dan juga Rayhan.
"Aku sangat bangga padamu, Nak!" ucap Pak Arman seraya mengusap punggung gadis cantik itu.
"Terima kasih, Ayah..." Sheila memeluk Pak Arman dan Rayhan bersamaan. "Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku tanpa kalian. Dan terima kasih sudah mengirim Kak Shanum ke dalam hidupku, walaupun sekarang dia tidak di sini menemaniku." Sheila mengusap setitik air mata yang mengalir di wajahnya. Setiap teringat pada sosok Shanum yang merawatnya dari kecil, wajah Sheila akan berubah sedih.
"Jangan menangis! Wajahmu jadi jelek saat menangis." Ledekan Rayhan selalu berhasil membuat Sheila merengut kesal.
"Ayah!" Bermaksud mengadukan perbuatan Rayhan pada Pak Arman. Namun, lelaki paruh baya itu hanya merespon dengan tawa kecil. Perdebatan Rayhan dan Sheila selalu terlihat lucu baginya.
"Setelah semuanya selesai, kita akan kembali ke Indonesia. Sheila, kau akan kembali pada tempatmu yang sebenarnya. Darmawan Group sudah menunggumu."
Sheila memejamkan matanya, bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan menari-nari di benaknya. Kepergiannya selama empat tahun nyatanya tidak membuat dirinya bisa melupakan kenangan buruk itu. Dendam di hatinya bahkan telah menggunung.
Ya, dan ini akan menjadi awal aku membalas semua orang-orang jahat itu. Akan kubuat mereka semua merasakan penderitaan yang sama denganku. ucap Sheila dalam batinnya.
****
Bersambung