
"Ini sulit dipercaya. Jadi jutawan cilik yang sering aku bicarakan itu adalah Sheila, istrimu?" Willy kembali bertanya untuk memastikan.
"Iya. Aku juga terkejut saat pertama kali melihatnya. Aku pikir, aku salah mengenali orang. Tapi saat menatap matanya, aku yakin itu Sheila."
"Aku benar-benar belum bisa percaya ini. Istrimu menjadi bos kita. Ini luar biasa," Willy berdecak heran.
"Ya, ini terlalu rumit."
"Sungguh tidak disangka. Dia menghilang begitu lama dan kembali sebagai seorang nona besar."
"Dan karena itulah, selama empat tahun aku mencari Sheila dan tidak menemukannya. Karena dia di Jerman. Sekarang aku juga mengerti, kenapa Shan memintaku menikahinya secara diam-diam, dan menunggu sampai dia berusia 21tahun. Ini alasannya. Karena dia adalah pewaris Darmawan Group."
"Dalam artian Shanum tahu kalau Sheila adalah anak Tuan Surya, begitu?" tanya Willy diikuti anggukan oleh Marchel.
"Shanum bilang padaku, Sheila bukan adik kandungnya. Tapi dia memintaku merahasiakannya dari Sheila. Dan aku baru sadar semalam, saat menikahi Sheila, aku menyebutkan nama ayah kandungnya, Surya Dirgantara Darmawan. Aku sama sekali tidak pernah terpikir tentang nama itu."
Willy hanya dapat geleng-geleng kepala mendengar ucapan temannya itu.
"Apa mungkin Shanum mengenal Pak Arman? Dan mereka bekerja sama untuk melindungi Sheila?" tanya Willy.
"Aku benar-benar tidak tahu. Tapi Shan tidak pernah mengatakan apapun padaku, selain fakta bahwa Sheila bukan adik kandungnya. Aku rasa karena itulah dia memperlakukan Sheila seperti seorang tuan putri. Dia sangat memanjakannya." Marchel menerawang ke masa lalu dimana saat itu dirinya masih berstatus kekasih Shanum.
" Kenapa begitu banyak misteri? Aku rasa Shanum pasti ada hubungannya dengan Pak Arman," ujar Willy.
Tiba-tiba Marchel teringat sesuatu. "Will, Kau pernah bilang Tuan Surya tewas dalam kecelakaan, kan? Apa mungkin dia sengaja dibunuh."
"Aku juga berpikir begitu. Dan yang punya kemungkinan melakukannya hanya Pak Herdian."
Wajah Marchel pun tiba-tiba berubah serius. "Artinya Sheila masih dalam bahaya."
"Kau tenang saja. Pak Arman dan anaknya itu pasti bisa melindunginya." Willy berusaha meredam kekhawatiran Marchel. "Sekarang, apa rencanamu? Apa kau akan memperjuangkan Sheila?" tanya Willy.
"Entahlah. Sheila bukan lagi Sheila yang dulu. Dia sangat berubah. Aku tidak tahu harus senang atau sedih."
Willy menepuk pundak sahabatnya itu. "Bersabarlah... Sangat wajar kalau Sheila marah padamu. Kau meninggalkannya begitu saja selama tujuh bulan. Dan saat saat kau kembali, kau meragukan anakmu sendiri, sampai harus melakukan tes DNA. Wanita manapun akan marah berada di posisi seperti itu."
"Iya, aku menyadari kesalahanku." Marchel menyandarkan punggungnya di kursi. Bayang-bayang Sheila bermunculan di benaknya. Betapa berbedanya Sheila dengan Qiandra.
***
Di sebuah ruangan, Sheila sedang menikmati masa-masa balas dendamnya. Baginya Audry benar-benar seorang penjilat, yang mau saja melakukan apapun demi drama cari muka. Sheila terus menyuruh Audry melakukan ini dan itu layaknya seorang budak yang patuh pada tuannya. Dia bahkan meminta Audry merapikan riasan dan juga rambutnya.
"Kau sangat cantik... Kenapa masih sendiri saja? Aku yakin akan ada banyak laki-laki yang akan mengantri untukmu," ujar Audry seraya menyisir rambut Sheila.
"Kau juga belum menikah, padahal usiamu tidak muda lagi," sindirnya.
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku hanya akan menikah dengannya saja."
Seketika tangan Sheila terkepal mendengar ucapan wanita yang sedang berdiri di belakangnya itu. Tentu saja orang yang dimaksud adalah Dokter Marchel.
Dasar wanita tidak tahu malu. Dulu kau terang-terangan di depanku mau merebutnya. Baik, kita lihat sampai kapan kau akan bertahan. Aku akan membuatmu merasakan apa yang pernah aku rasakan.
"Siapa yang kau tunggu? Apa salah satu Dokter yang bekerja di rumah sakit ini?" Ucapan Sheila membuat Audry tersenyum lebar.
"Iya. Dia salah satu dokter di rumah sakit ini. Namanya Dokter Marchel."
"Dokter Marchel?" Sheila masih pura-pura tak mengerti.
"Iya. Dia sudah menikah. Tapi aku sudah berhasil menyingkirkan istrinya. Dan aku yakin dia akan bertekuk lutut di hadapanku. Tentu saja, untuk itu aku membutuhkan bantuanmu," ucap Audry dengan percaya dirinya.
"Kau ini jahat sekali. Apa yang sudah kau lakukan untuk menyingkirkan istrinya?" Sheila melirik Audry melalui sebuah cermin di depan sana.
"Aku menghasut ibunya. Aku katakan saja hal yang buruk tentang anak culun itu. Lagipula dia sangat tidak pantas untuk Dokter Marchel. Dia sangat kampungan."
"Benarkah?"
"Baiklah, sudah cukup! Aku mau mengunjungi panti asuhan dulu. Tolong kau bawakan sepatuku ke mobil, ya... Kakiku sakit memakai sepatu itu. Aku mau memakai sepatu yang rata saja."
"Baiklah..." Tanpa rasa keberatan, Audry keluar dari ruangan itu dengan membawa sepatu milik Sheila.
Sedangkan Sheila masih mengatur napasnya. Tubuhnya terasa terbakar mendengar ucapan Audry yang menghina dirinya di masa lalu.
Aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku bisa memaafkannya untuk hinaannya. Tapi anakku, aku kehilangan anakku karena dia.
Sheila menghapus setitik air matanya, teringat pada bayi kecil tak berdosa yang harus menjadi korban karena obsesi seorang wanita tak berhati seperti Audry.
****
Sore itu, Sheila mengunjungi sebuah panti asuhan milik keluarganya, setelah sebelumnya mampir ke toko mainan dan memborong seluruh isi toko mainan itu, membuat semua karyawan di sana berdecak heran. Bahkan mereka harus menggunakan dua mobil box besar untuk mengirim mainan-mainan itu ke panti asuhan.
"Nona Qiandra, terima kasih sudah mengunjungi panti asuhan ini. Anak-anak sangat senang mendapat mainan itu," ucap seorang wanita berusia 40tahunan yang menjadi pengurus panti asuhan itu.
"Aku senang melakukannya, Bu! Aku sangat menyukai anak-anak. Beritahu aku kalau ibu atau anak-anak butuh sesuatu."
"Terima kasih, Nona. Anda sangat baik," sahut wanita itu.
"Tidak usah panggil begitu, Bu. Panggil aku Sheila saja. Aku lebih suka dipanggil nama saja."
"Aku jadi tidak enak, Nona. Em... maksudku, Sheila." Wanita itu terlihat sangat canggung. Namun, wajahnya begitu berbinar bahagia.
"Aku mau jalan-jalan dulu sambil melihat anak-anak bermain. Ibu boleh melanjutkan pekerjaan Ibu." Sheila tersenyum ramah.
"Baiklah. Aku harus ke dalam. Ada seorang anak yang sedang sakit. Aku belum memberinya obat..."
"Baiklah..."
Sheila masih berjalan-jalan di sebuah taman sambil melihat anak-anak bermain dengan mainan yang dibawanya. Keceriaan anak-anak itu menghapus kesedihannya untuk sementara. Hingga sesuatu menarik perhatian Sheila. Di sudut sana, seorang anak sedang menangis karena teriakan teman-temannya.
"Kampungan! Kampungan! Kampungan!" sorakan beberapa anak seraya bertepuk tangan.
Sheila mendekat ke arah keributan itu, langsung menghampiri beberapa anak yang ada di sana.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian memperlakukan teman kalian seperti ini?" ucap Sheila seraya berjalan mendekati anak yang sedang menangis itu. Beberapa anak yang tadi berada di sana pun langsung membubarkan diri.
Sheila kemudian merapikan rambut anak perempuan yang berantakan itu, membujuknya agar berhenti menangis.
"Hai peri kecil... Kenapa menangis?" tanyanya seraya menghapus air mata anak perempuan itu.
"Mereka bilang aku kampungan... Hiks... hiks..."
Sambil tersenyum, Sheila menggeleng. "Tidak, kau sangat cantik... Seperti peri. Ayo kita duduk dulu." Sheila membawa anak itu ke sebuah kursi di taman. Dengan penuh kelembutan Sheila mengusap air mata bocah berwajah pucat itu.
"Mereka semua jahat. Tidak ada yang mau menjadi temanku..."
"Begitu, ya... Kalau begitu berteman denganku saja. Aku bisa menjadi teman yang baik." Sheila mengusap sisa-sisa air mata anak itu. Melihat kejadian tadi membuatnya teringat masa kecilnya, dimana tidak ada anak lain yang mau berteman dengannya.
Tangis bocah menggemaskan itu pun berubah menjadi senyum bahagia. "Ya sudah, aku mau berteman dengan Kakak. Apa Kakak juga tidak punya teman?" Ucapan anak itu membuat Sheila merasa gemas, yang bahkan terdengar belum sempurna saat berbicara.
Sheila mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng. "Tidak punya. Karena itulah aku mau berteman denganmu. Kita bisa menjadi teman yang baik."
"Baiklah." Anak itu mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Sheila. "Berteman?"
"Berteman..." sahut Sheila menautkan jari kelingkingnya. "Siapa namamu?"
"Michella..." jawabnya. "Tapi Ibu Fifi memanggilku Chella."
"Michella...?" tanya Sheila membuat anak itu mengangguk pelan.
BERSAMBUNG