Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
TERTEMBAK


Marchel mengeratkan pelukannya pada Sheila, menutupi tubuh Sheila dengan tubuhnya. Mereka masih dalam posisi terbaring di lantai karena Marchel mendorong tubuh Sheila untuk menghindari tembakan itu. Darah segar mengalir melalui lengan kanan Marchel dan melihat itu saja sudah membuat Sheila ketakutan.


"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Marchel diikuti gelengan kepala oleh Sheila.


"Kak Marchel tertembak." Sheila menyentuh lengan kanan Marchel yang mengeluarkan darah.


"Aku tidak apa-apa," ujar Marchel seraya tersenyum menahan kesakitannya, berusaha meyakinkan Sheila bahwa dirinya baik-baik saja.


"Tapi ini..."


Ini hanya luka kecil Tidak apa-apa. Hanya kena lengan saja." Marchel segera membantu Sheila untuk berdiri.


Tanpa mereka sadari ada orang lain yang menjadi korban dalam penembakan itu. Pak Herdian diam membisu ketika menyadari siapa yang baru saja ditembaknya.


"Bi-Bima..." Pria paruh baya itu belum percaya sepenuhnya jika anaknya sendiri ikut terkena tembakannya. Bima menjadi tameng untuk Marchel dan Sheila yang kembali akan menjadi korban kejahatan ayahnya. Sementara Rayhan segera berlari menangkap tubuh Bima yang sudah ambruk. Sejenak menoleh pada Sheila dan Marchel yang masih berada di sudut ruangan itu.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Rayhan.


"Tidak apa-apa," jawab Marchel seraya memegangi lengan kanannya.


"Tapi Kak Marchel tertembak," ucap Sheila khawatir.


"Ini hanya luka kecil, Sheila. Tidak apa-apa."


Darah segar mengalir di bagian perut kiri Bima, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit. "A-ay-ah..." panggil Bima dengan nada terputus-putus.


Pak Herdian segera mendekat pada anaknya itu, begitupun dengan Sheila dan Marchel yang masih menahan kesakitan di lengannya. Beberapa polisi yang sejak tadi berada di luar pun segera masuk begitu mendengar suara tembakan.


"Bima... Anakku!" lirih Pak Herdian.


A-ayah... Ke-napa Ayah lakukan semua ini pada Sheila? Dia juga saudaraku, Ayah. Aku tidak tahu selama ini kalau Ayah sejahat ini pada Sheila." Napas Bima sudah mulai berat. Kesadarannya pun kian menurun. Pak Herdian pun gemetar melihat anaknya dalam keadaan sekarat.


"Tolong, Rayhan! Tolong bawa Bima ke rumah sakit!" ucap Pak Herdian seraya menjatuhkan air matanya, melihat Bima yang mengerang kesakitan karena perbuatannya sendiri. Dua peluru telah bersarang di bagian vital tubuh anaknya itu.


Beberapa polisi segera membantu Rayhan membawa Bima keluar dari ruangan itu, dan beberapa lainnya menahan Pak Herdian. Sedangkan Sheila masih membeku, masih belum percaya jika Bima mengorbankan diri untuk melindunginya.


****


"Baik, Kak."


Sheila pun segera naik ke mobil dimana Marchel berada. Wanita itu begitu takut melihat lengan kanan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu terus mengeluarkan darah segar.


Mobil pun melaju kencang menuju rumah sakit.


Sepanjang jalan Sheila terus menangis sambil memegangi lengan Marchel.


"Kak Marchel..."


"Aku tidak apa-apa, Sheila! Ini hanya luka kecil." Berusaha menenangkan Sheila yang sejak tadi begitu gelisah. Khawatir melihat wajah Marchel yang memucat, menahan rasa sakit, juga keinginannya untuk segera bertemu dengan anaknya.


Marchel mengusap rambut panjang Sheila. "Michella sangat senang mengetahui bahwa kau adalah ibunya."


Air mata Sheila kembali mengalir mendengar ucapan Marchel. Sejak awal bertemu gadis kecil itu, Sheila sudah merasakan sesuatu yang lain. Namun, wanita muda itu sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang dirasakannya adalah ikatan batin seorang ibu dengan anaknya.


"Michella... Dia anakku... Kak Marchel tidak sedang berbohong kan?"


"Bagaimana mungkin aku membohongimu untuk sesuatu yang penting seperti ini. Michella adalah anak kita." Marchel menghapus air mata yang mengalir di wajah Sheila.


Kedua orang itu bahkan belum mengetahui apa yang sedang terjadi pada anaknya.


***


Sebuah mobil berhenti di depan lobby sebuah rumah sakit. Marchel dibantu Sheila menuruni mobil itu. Beberapa petugas kesehatan segera membawa Marchel menuju sebuah ruangan untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kanan sang dokter.


Sementara Sheila duduk menunggu di sebuah kursi di depan ruangan itu. Hingga Willy datang setelah diberitahu oleh Rayhan bahwa Marchel tertembak.


****