Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Makna sebenarnya dari sebuah dendam


"Tapi aku harus melihat Dokter Audry dulu. Dia tiba-tiba pingsan dan berdarah. Aku harus memastikan keadaannya," ucap Sheila.


"Baiklah, ayo kita ke sana. Aku juga mau melihatnya."


Sheila dan Willy segera menuju ruang ruang IGD dimana para petugas tadi membawa Audry.


Setibanya di sana, beberapa Dokter terlihat menangani wanita itu. Adapula seorang dokter onkologi yang selama ini menangani kasusnya.


"Dokter Selma?" gumam Willy.


"Siapa Dokter Selma?" tanya Sheila. Selama ini, Sheila hanya mengenal beberapa dokter di rumah sakit itu.


"Dia seorang dokter spesialis kanker. Apa Dokter Audry sedang sakit parah?"


Sheila terlihat terkejut mendengar ucapan Willy. Teringat Audry yang beberapa bulan belakangan terlihat lemas dan memucat.


"Sheila, ayo kita menunggu di luar. Biarkan mereka menangani Audry," ajak Willy diikuti anggukan kepala oleh Sheila.


Mereka kemudian duduk di sebuah sofa yang terdapat di sebuah ruangan -- di samping ruang IGD, sambil menunggu.


"Sheila, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Bicara di sini saja, Kak. Ada apa?"


Wajah Willy pun sudah berubah serius.


"Aku ikut sedih atas apa yang terjadi padamu dan Marchel beberapa tahun lalu. Maafkan aku saat itu tidak bisa menyelamatkan anakmu," ujar Dokter Willy.


Sheila mengusap wajahnya yang kembali basah oleh air mata. Jika mengingat bayi kecil yang sudah tidak bernyawa dengan beberapa bagian tubuhnya yang membiru, air matanya seakan tak tertahankan.


"Kenapa Kak Willy minta maaf? Itu bukan salahmu, Kak. Sepertinya, takdir saja yang sedang tidak berbaik hati padaku."


Willy dapat melihat kesedihan mendalam yang tergambar di wajah Sheila.


"Kau masih marah pada Marchel?" tanya Willy. "Berapa lama lagi kau akan menghukumnya?"


"Kalau Kak Willy hanya mau membicarakan dia, lupakan saja. Aku tidak tertarik. Aku mohon, aku ingin melupakan semuanya."


Walaupun Sheila tidak mau membicarakan Marchel, namun Willy tetap berbicara. "Sebenarnya yang paling terluka diantara kalian adalah Marchel. Kau hanya memikirkan dukamu, kesedihanmu sendiri. Tapi apa kau pernah memikirkan perasaan Marchel?"


"Kenapa dengannya? Dia hanyalah seorang suami yang pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil tanpa memberi kabar. Dan setelah begitu lama pergi, dia kembali dan meragukan anaknya sendiri. Dan bukan itu saja. Perlakuan baiknya padaku hanya pura-pura."


Sambil tersenyum, Willy menggelengkan kepalanya. "Kau hanya melihat segalanya dari satu sisi, Sheila. Kau tidak menyadari yang sebenarnya. Cobalah melihat segalanya dari sudut pandang Marchel."


Sheila memejamkan matanya kasar. Mencoba untuk tidak terpengaruh ucapan Willy. "Apa Kak Willy diminta Kak Marchel menemuiku?"


Willy kembali menggeleng. "Tidak! Marchel tidak pernah memintaku. Aku hanya melihat kesedihan kalian saja."


"Kesedihan?" Kedua bola mata Sheila kembali tergenang oleh cairan bening.


"Lihatlah Marchel, Sheila... Pikirkan dia sedikit saja. Kau mengenal Marchel bahkan lebih dulu dari kakakmu. Kau lebih tahu seperti apa Marchel dibanding kakakmu sendiri. Kepergian Shanum membuat dunianya seakan terhenti. Dia sangat menderita. Walaupun begitu, dia tetap berusaha memenuhi janjinya pada Shan. Menikahimu dan berusaha menerima keberadaanmu bukan hal mudah baginya. Walaupun begitu, dia tetap berusaha membuka hatinya untukmu. Dia menutup pintu hatinya untuk yang lain untuk bisa menjadikanmu satu-satunya. Walaupun akhirnya menyakiti perasaannya sendiri. Sampai akhirnya tanpa dia sadari telah jatuh cinta padamu. Tapi Marchel bukan seseorang yang mudah mengenali perasaannya sendiri. Malam itu, dalam keadaan mabuk, dia hanya mengeluarkan seluruh luka di hatinya.


Apa kau tahu, karena malam itulah, dia merasa sangat berdosa. Dia merasa bersalah padamu karena mengira sudah mengkhianatimu dengan tidur bersama gadis lain. Dia bahkan merasa malu bertemu denganmu. Aku tahu, dia mengambil jalan yang salah dengan memilih pergi untuk melupakan malam itu. Kepergiannya itulah yang membuatnya menyadari perasaannya padamu yang sebenarnya. Saat itu juga dia ingin kembali. Tapi akibat wabah, daerah itu diisoalasi. Di sana bahkan tidak ada jaringan telekomunikasi. Sehingga mereka benar-benar terisolasi dari dunia luar."


Sheila tertegun mendengar penjelasan Willy. Mengingat betapa polosnya pemikiran seorang gadis berusia 17tahun yang mengira suaminya pergi demi menghindarinya. Sheila tidak pernah mengetahui kemana Marchel pergi selama tujuh bulan dan tidak pula mengetahui bagaimana keadaan daerah yang dituju suaminya itu. Setahunya, Marchel jahat karena pergi meninggalkannya begitu saja.


"Apa? Diisolasi?"


Kau tidak tahu kan, betapa hancurnya Marchel selama empat tahun ini. Dia telah kehilangan Shanum, lalu kehilangan istri dan anaknya. Saat Shan pergi, dia masih bisa hidup dengan baik. Tapi saat kau pergi dia benar-benar hancur. Selama empat tahun, tidak ada satu haripun yang dia lewati tanpa mencarimu. Kenapa kau hanya melihat penderitaanmu saja? Kenapa kau tidak bisa melihat betapa Marchel juga menderita, lebih dari dirimu. Sudah cukup Sheila. Kau dan Marchel sudah sangat menderita. Kenapa kalian tidak memulai segalanya dari awal? Bukankah dendammu hanya akan melukai mu saja? Kau bahkan tidak memberi Marchel celah sedikitpun untuk bisa bicara berdua denganmu. Walaupun dia sangat berusaha untuk mendapatkan maaf darimu."


Tidak ada kata yang terucap dari bibir Sheila. Hanya deraian air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Mengingat semua kenangannya bersama Marchel di masa lalu.


"Kau masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Marchel akan pergi ke luar negeri. Dia sudah menerima surat gugatan cerai dari pengadilan. Dia bilang padaku, tidak akan sanggup untuk melepasmu. Jadi dia akan pergi dan memulai hidupnya yang baru. Dan kau juga bisa memulai hidupmu yang baru. Sheila, Marchel bukan menyerah, dia hanya ingin kau bahagia. Karena itulah dia akan melepasmu, supaya kau bisa bahagia."


Sheila membeku, seakan lidahnya kaku. Hanya untuk membuat Marchel merasakan penderitaannya selama ini, dirinya sampai melayangkan gugatan cerai. Padahal jauh di lubuk hatinya, cinta untuk Marchel tak berkurang sedikit pun. Namun, keegoisannya untuk balas dendam mengalahkan segalanya. Sheila hanya dapat menangisi segalanya. Balas dendam sejatinya memang bagaikan bara api. Menang jadi arang, kalah jadi abu.


***


Pembicaraan itu pun terhenti, saat seorang dokter wanita keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Sheila dan Willy berdiri, menghampiri sang dokter.


"Dokter, ada apa dengan Dokter Audry? Apa dia sakit parah?" Sheila begitu terburu-buru bertanya seolah benar-benar mengkhawatirkan Audry.


Dokter Selma melepas masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Lalu menghela napas panjang. Membungkukkan kepala tanda hormat pada wanita muda yang merupakan pemilik rumah sakit itu. "Ya, Dokter Audry sedang mengidap kanker darah dan sudah dalam tahap parah. Dia sudah menjalani kemoterapi tapi rupanya itu tidak membuahkan hasil. Keadaannya kembali menurun dan ini sangat mengkhawatirkan," jawab sang dokter.


Seketika tubuh Sheila terasa meremang mendengar penjelasan dokter itu. Matanya kembali berkaca-kaca.


Willy mengusap wajahnya, ikut prihatin dengan apa yang menimpa rekannya itu. Sesama dokter kandungan, Willy dan Audry kadang menangani pasien bersama. Meskipun tidak begitu menyukai Audry, namun bagi Willy, Audry merupakan seorang dokter yang baik dan bertanggung jawab pada pasiennya. "Aku baru tahu tentang ini, Dokter. Selama ini aku mengira dia baik-baik saja."


"Ya, Dokter Audry meminta agar kondisi kesehatannya dirahasiakan. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap sang dokter.


Sheila kembali terdiam. Entah mengapa mengetahui kondisi Audry bukannya membuat hatinya senang, malah membuatnya merasa sedih.


*****


Setelah pembicaraannya dengan Willy, sore itu Sheila mendatangi sebuah makam bayi. Seperti biasa, Sheila akan membawa seikat bunga mawar putih dan juga boneka kecil.


Sambil memegangi nisan yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran indah bertuliskan nama Angela Aditya Mahesa, Sheila menangis di sana.


"Angel, apa salah kalau ibu hanya mau membalas apa yang mereka lakukan pada kita? Apa itu salah? Kenapa sulit sekali menghilangkan rasa sakit ini. Apakah perbuatan mereka layak dimaafkan? Tidak kan? Ibu tidak salah kan?"


"Mereka sudah membuat ibu hidup menderita karena kehilanganmu. Dan sekarang, saat ibu berhasil membalas mereka semua, kenapa tidak ada kebahagiaan sedikitpun? Ibu malah semakin menderita. Angel, apakah ini salah?"


Sheila terus menangis di sana, menumpahkan semua kesedihannya. Teringat kembali pesan pak Arman.


Anakku... Hentikan semua ini. Jangan kotori hatimu dengan dendammu. Cobalah kau tanyakan pada hatimu sendiri, apakah ada kebahagiaan yang kau dapat dari balas dendam ini? Tidak hanya mereka yang akan menderita karena pembalasanmu. Kau pun akan lebih menderita karena hatimu telah dipenuhi kebencian. Kau tidak akan mendapatkan kepuasan apapun dari pembalasan ini. Sejatinya dendam tidak akan membahagiakan hatimu. Kau hanya akan menjauhkan diri dari dia yang mencintaimu.


****


BERSAMBUNG


-


-


-


bonus visual Babang marchel versi author




cocok nggak? kalau nggak cocok ngehalu sendiri aja ya... 🤭🤣