
Jika Marchel terus berusaha mendapatkan kembali hati Sheila dengan cara apapun, berbeda halnya dengan Sheila yang terus berusaha menjauh. Walaupun dalam hati cinta untuk Marchel masih utuh, nyatanya tak cukup untuk membuatnya melupakan masa lalu yang pahit. Cinta dan kesabaran yang ditunjukkan Marchel tak dapat meluluhkan hati seorang Sheila.
Wanita muda itu tenggelam dalam keinginannya membalas dendam pada orang-orang dari masa lalu yang membuat hidupnya menderita. Tanpa ampun, Sheila perlahan mencapai tujuannya. Satu persatu orang yang menyakitinya di masa lalu mendapat pembalasan menyakitkan.
Malam itu, alunan musik DJ yang terasa memekakkan telinga, menggema di sebuah ruangan dimana Sheila sedang duduk bersama Maya dan kedua sahabatnya. Atas permintaan Sheila, Maya mengajak dua temannya untuk menghadiri acara malam itu Lyra dan Felly. Bahkan Sheila sengaja menyewa klub malam tempat dulu Maya menjebaknya.
Maya dan dua temannya sama sekali tidak curiga dengan rencana yang sedang dijalankan oleh Sheila. Mereka berdansa dan minum-minum sepuasnya.
"Apa kau suka tempat ini?" tanya Sheila sesaat setelah Maya dan teman-temannya turun dari lantai dansa.
Mereka yang memang gila pesta tentu saja menyukai acara itu. Terlebih karena malam itu sangat ramai. Sheila membayar seorang penyanyi terkenal untuk mengisi acara malam itu.
"Tempat ini sangat bagus. Kami dulu sering kemari," jawab Maya tanpa rasa curiga.
"Baiklah, nikmati pestanya," ujar Sheila dengan senyum sinis.
Mereka melanjutkan minum-minum sementara Sheila hanya memesan jus untuk dirinya.
"Kapan terakhir kali kalian kemari?" tanya Sheila.
Pertanyaan Sheila membuat Maya dan dua temannya teringat pada gadis culun yang mereka jebak beberapa tahun lalu, membuat mereka tergelak keras. Mereka ingat kekonyolan mereka saat itu.
"Terakhir kalinya saat kami menjebak seorang anak culun. Aku mau menjebaknya dan mengambil fotonya saat mabuk dan menyebarkannya di sekolah. Tapi entah kenapa malah aku yang mabuk malam itu," ujar Maya sembari menuang minuman ke dalam gelas.
"Seorang anak culun?" tanya Sheila pura-pura.
"Iya, anak culun. Namanya Sheila. Dia anak paling culun di sekolah. Tapi Rayhan, siswa paling populer malah menyukainya. Makanya Maya sangat marah. Maya kan suka Rayhan," Felly menjawab dengan suara berat pertanda ia mulai mabuk.
"Lalu apa yang terjadi pada anak culun itu?"
"Tidak tahu! Karena kami meninggalkannya di sini. Tapi dua bulan setelahnya dia hamil. Aku rasa dia merayu seseorang di sini sampai bisa hamil," ujar Maya membuat Sheila mengepalkan tangannya.
"Dan akhirnya, Maya berhasil membuat anak culun itu dikeluarkan dari sekolah," timpal Lyra.
Ya itu benar. Karena perbuatan kalian bertiga, aku mengalami semua ini. Kak Marchel memaksaku malam itu sampai akhirnya aku hamil adalah hasil perbuatan kalian. Sheila membatin.
Sheila berusaha tersenyum, walaupun dalam hati merasa sedih dan marah.
Kurang dari satu jam, Maya dan kedua temannya sudah mulai mabuk. Sheila telah meminta seseorang mencampur sesuatu ke dalam minuman itu.
Bagus! Seperti inilah dulu rencana kalian bertiga. Kalian pasti mencampur minuman yang kalian pesan untukku, tapi sayangnya saat itu, Maya yang meminumnya. Sekarang akan kutunjukkan pada kalian bertiga hukuman yang pantas kalian terima. ucap Sheila dalam bathin.
Ketiga gadis itu sudah mulai tak sadarkan diri, membuat Sheila tersenyum senang. Ia memberi kode pada beberapa orang pria agar mendekat.
"Bereskan mereka!" titah Sheila.
"Ingat, jangan apa-apakan mereka. Aku hanya butuh fotonya saja," ucap Sheila diikuti anggukan oleh seorang pria.
Karena foto saja sudah cukup untuk menghancurkan mereka. batin Sheila.
Beberapa pria itu pun segera membawa ketiga gadis yang sudah dalam keadaan mabuk berat itu ke suatu tempat yang diperintahkan Sheila.
"Sepertinya akan sangat menarik. Sekarang kalian akan merasakan bagaimana rasanya ada di posisiku, dikucilkan dan dihina," gumam Sheila sambil tersenyum tipis.
Tanpa disadari oleh Sheila, di sudut ruangan itu ada Rayhan yang sedang mengawasinya sejak tadi. Lelaki yang kini berusia 26tahun itu hanya dapat memperhatikan Sheila dari jauh. Memastikan bahwa wanita itu selalu dalam keadaan aman.
Ayah benar, Sheila sedang menghancurkan hidupnya sendiri dengan dendamnya. Bagaimana aku bisa menghentikannya? Ya, hanya Dokter Marchel, satu-satunya orang yang bisa menghentikan Sheila balas dendam. batin Rayhan.
Laki-laki itu segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, hendak menghubungi seseorang.
*****
Sheila masih dalam perjalanan pulang ke rumah, saat ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Senyum mengembang di sudut bibirnya ketika melihat beberapa foto yang dikirim oleh orang suruhannya. Ia segera menghubungi nomor itu.
"Sebar luaskan foto itu di sosial media, dan buat seheboh mungkin!" perintahnya begitu panggilan terhubung.
"Baik, Nona!"
"Setelah selesai, tolong antarkan mereka pulang ke rumah masing-masing."
Panggilan terputus, diikuti senyum Sheila yang seakan begitu puas dengan balas dendamnya. Jika mengingat hari dimana dirinya diusir secara tidak terhormat dari sekolah, kebenciannya semakin menjadi-jadi. Seakan tiada maaf bagi orang-orang itu. Namun, di balik kepuasan itu ada sekelumit rasa yang sulit dijelaskan. Ia boleh berpuas diri dengan balas dendam, namun hatinya pun sama terlukanya.
Tidak! Aku tidak sedih. Akan aku balas mereka semua seperti mereka memperlakukanku. Akan kubuat mereka merasakan hal sama. Hukuman yang sama dan jebakan yang sama.
***
Benar saja, keesokan harinya, foto-foto Maya dan dua orang temannya tersebar luas di jagat maya. Bahkan beberapa stasiun tv memuat berita tentang mahasiswa kedokteran yang tidur dengan seorang pria. Dalam sehari, berita itu telah menjadi trending dimana- mana.
Hanya dalam beberapa hari saja, pihak kampus tempatnya kuliah telah mengambil tindakan tegas atas masalah yang menjerat putri dari kepala rumah sakit terkemuka itu. Maya dan dua temannya telah diskors. Dan, lebih buruknya, ancaman drop out telah menanti.
Sementara itu, Sheila duduk selonjoran di dalam kamarnya, dengan santai menonton berita di tv yang memuat kasus yang menjerat Maya. Seulas senyum tipis hadir di sana.
Tiba-tiba kenangan masa lalu terlintas kembali di benaknya. Kejadian lima tahun lalu saat dirinya diusir secara tidak terhormat dari sekolah. Ia menerima hinaan, caci maki dan tuduhan wanita murahan akibat dugaan hamil di luar nikah. Bahkan ia berlutut memohon, namun tak seorang pun peduli.
Cairan bening pun menggenangi bola matanya. "Sekarang mereka merasakan apa yang pernah aku rasakan karena perbuatannya," gumam Sheila menghapus air matanya. "Sekarang, aku tinggal mengirim pembunuh anakku ke penjara. Tentu saja setelah aku puas bermain dengannya. Audry ... "
****