Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Hukuman


Awan tampak mendung menyelimuti langit di sore hari itu. Sheila baru saja akan menaiki sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumah sakit ketika terdengar suara seorang wanita memanggilnya.


"Sheila..."


Wanita muda itu memejamkan matanya dengan tangan terkepal, menyadari siapa yang baru saja memanggilnya. Dengan segera berbalik, menatap wanita paruh baya yang berdiri tepat di hadapannya. Sheila bahkan menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan sinis.


"Wah, coba lihat! Ibu mertuaku ada di sini."


Ibu menyeka air matanya yang berguguran membasahi wajahnya. Tidak hanya hukuman dari Marchel yang didapatkannya. Kini wanita itu juga mendapat hukuman dari Sheila.


"Kau boleh menghukum ibu, Sheila... Tapi tolong jangan hukum Marchel. Dia sudah sangat menderita. Selama empat tahun ini, tidak ada satu hari pun yang dia lewati tanpa mencarimu. Ibulah yang bersalah. Karena dengan mudahnya terhasut oleh orang lain. Kalau mau menghukum, hukum saja ibu. Marchel tidak sepenuhnya bersalah. Dia juga hanyalah korban."


Sheila tertawa sinis. "Ibu? Apa aku sudah boleh memanggilmu ibu? Nyonya, bukankah dulu kau sangat benci saat mendengarku memanggilmu ibu? Ada denganmu sekarang?"


Ibu tidak dapat berkata-kata selain menangis.


"Sheila..."


"Bahkan sampai hari ini kau hanya memikirkan anakmu saja. Apa kau pikir aku tidak menderita? Kau bawa wanita jahat itu masuk ke rumahmu supaya apa? Supaya suamiku menceraikanku dan menikah dengan gadis pilihanmu itu, kan? Ibu, apa kau pernah sedikit saja kasihan padaku? Apa kau tahu apa yang terjadi padaku setelah diusir dari rumahmu? Aku hidup dengan sangat menyedihkan. Saat kau makan enak, tinggal di rumah mewahmu, aku menahan rasa laparku dalam keadaan hamil. Bahkan kau dan wanita jahat itu sudah membuatku kehilangan anakku. Hanya karena di matamu aku tidak layak."


"Hukumlah ibu, Sheila. Ibu juga sudah menerima hukuman dari Marchel selama ini. Tapi tolong, jangan hukum Marchel lagi. Kalian berdua sudah sangat menderita. Hukum ibu saja, Sheila."


"Kalau begitu, jangan pernah temui aku lagi. Anggap Sheila sudah mati. Bisa kan?"


"Sheila..." Wanita itu hendak meraih tangan menantunya itu, namun dengan cepat ditepis oleh Sheila.


"Jangan sentuh aku! Secepatnya aku akan menggugat cerai anakmu. Dan setelah itu, kita tidak perlu ada hubungan apa-apa lagi."


Tanpa banyak bicara lagi, Sheila naik ke mobil. Meninggalkan mertuanya itu.


Tinggallah wanita itu seorang diri. Meratapi penyesalannya yang dalam. Sheila memang tidak menghukumnya seperti Audry dan juga Maya. Namun, selama empat tahun belakangan, ibu sangat menderita dengan hukuman dari Marchel. Dimana Marchel enggan bicara dengan wanita yang telah melahirkannya itu.


Hujan turun dengan deras, sementara ibu masih berdiri di sana, menangisi nasib Sheila dan Marchel. Walau bagaimana pun, ibu merasa menjadi penyebab utama penderitaan Sheila dan Marchel sekarang.


Jika saja sejak awal dirinya tidak terpengaruh oleh hasutan Audry dan menerima Sheila seperti ibu menerima Shanum, tentu semua ini tidak akan terjadi. Mungkin Sheila dan Marchel akan punya pilihan untuk hidup bahagia. Mungkin Sheila dan Marchel tidak akan semenderita sekarang, saling mencintai namun harus terpisah oleh sebuah dendam. Dan ada banyak kemungkinan lain yang terpikir di benak ibu.


Hingga Marchel datang, setelah diberitahu seorang petugas keamanan yang mengatakan sang ibu ada diparkiran sedang kehujanan. Dengan cepat Marchel menghampiri ibunya itu.


"Ibu... sedang apa Ibu di sini? Ibu bisa sakit kalau kehujanan terus." ujar Marchel menaungi ibu dengan payung, melepas jas putihnya dan memakaikan pada ibu.


Wanita paruh baya itu, sudah terlihat menggigil akibat kedinginan, membuat Marchel segera membawanya ke dalam.


****


Sementara itu, di sebuah ruangan Dokter Spesialis Onkologi....


Beberapa minggu lalu, Audry melakukan pemeriksaan kesehatan akibat penyakit yang menderanya. Diperparah dengan semakin sering mengalami mimisan dan memar secara tiba-tiba.


"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Audry ragu-ragu, saat melihat wajah sang dokter menegang.


"Dokter Audry, maafkan aku. Hasil pemeriksaannya menunjukkan penurunan drastis. Sel kanker sudah menyerang di dalam darah, sum-sum tulang, dan kelenjar getah bening. Kau harus segera menjalani kemoterapi untuk upaya memperlambat penyebaran kankernya."


Seketika tubuh Audry menegang. Upaya pengobatan yang dilakukannya selama ini ternyata sia-sia. Setitik air matanya terjatuh memikirkan kondisi kesehatannya.


"Kemoterapi?" lirih Audry menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ini jalan satu-satunya yang bisa ditempuh." Dokter itu terlihat iba pada wanita di depannya.


Kemoterapi, rupanya menjadi mimpi buruk bagi sebagian penderita kanker. Dengan resiko dan efek samping yang mungkin akan terjadi. Audry hanya dapat menangisi takdirnya.


"Dokter, berapa persen kemungkinan keberhasilan kemoterapi itu?" tanya Audry gemetar.


"Itu tidak bisa dipastikan. Kita hanya bisa berusaha. Kau juga seorang dokter. Kau pasti mengerti."


"Apa yang harus aku lakukan? Selama dua tahun ini, aku rutin menjalani pengobatan. Bahkan aku sudah dinyatakan membaik. Lalu kenapa sekarang sel kankernya menyebar, Dokter?"


"Maafkan aku, Dokter Audry."


Maaf, hanya itu yang dapat dikatakan oleh sang dokter spesialis kanker itu. Mengingat perjuangan Audry untuk sembuh dari kanker darah yang menderanya.


****


Dengan berderai air mata, Audry merenungi nasibnya di sebuah tempat yang sunyi. Hanya seorang diri. Hanya angin bertiup dan suara deburan ombak yang menemaninya. Tangisnya pun semakin menjadi-jadi mengingat kemungkinan terburuk dari penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya.


"Aku tidak mau mati!" lirih suara Audry terdengar memilukan. Isak tangis terus terdengar.


****


_


_


_


_


Hal yang sama pun terjadi pada Sheila. Di sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, wanita itu memegangi sepasang sepatu bayi yang diberikan Marchel saat ulang tahunnya. Sheila menjatuhkan setitik air matanya -- mengingat pada saat masa kehamilannya, Sheila membeli sepatu mungil itu di sebuah toko perlengkapan bayi.


Marchel menemukan sepatu bayi itu di dalam koper milik Sheila sebelum menghilang empat tahun lalu dan menyimpannya.


Malam itu, Sheila menangis sejadi-jadinya. Pembalasan dendam bukannya membuat hatinya puas, malah semakin membuatnya menderita.


Anakku ... kau lihat, betapa aku sangat menderita karena perbuatan mereka. Aku menjadi jahat karena mereka. Apa aku salah kalau aku membalas mereka dengan cara yang sama?


***


Bersambung