
Pak Arman menepuk bahu Marchel, melihat raut wajahnya yang sangat frustrasi. Baru saja menemukan putri kecilnya, kini giliran Sheila yang menghilang. Rasanya takdir begitu kejam padanya.
"Hanya ada satu orang yang bisa menunjukkan dimana Sheila sekarang," ucap Rayhan membuat Marchel melirik padanya.
"Siapa?" tanya Marchel.
"Bima. Ya, hanya Bima yang bisa menunjukkan dimana mereka membawa Sheila. Beberapa hari ini Bima dan ayahnya tidak pernah muncul."
"Tapi dimana dia?" tanya Pak Arman.
Rayhan terdiam beberapa saat sembari berpikir. Hingga raut wajahnya terlihat berubah. Laki-laki itu pun segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mengetikkan pesan kepada seseorang.
"Tenanglah dulu, Ayah. Biar aku dan Kak Marchel yang mencari Sheila."
"Bagaimana aku bisa tenang, Rey? Sheila juga anakku dan aku tidak akan tenang sebelum dia kembali dalam keadaan selamat."
"Ayah, aku mohon pikirkan juga kesehatan Ayah."
Hingga beberapa menit kemudian, ponsel milik Rayhan kembali berdering tanda pesan masuk. Alisnya terlihat mengerut membaca pesan itu.
"Bagaimana Rey?" tanya Pak Arman.
Rayhan menoleh pada sang ayah. Bahkan ia dapat melihat raut wajah khawatir dari laki-laki paruh baya itu. "Ayah di pulang saja. Jangan khawatir. Sheila pasti segera ditemukan. Ayo Kak Marchel, ikut aku!"
Tanpa banyak bicara lagi, mereka menuju sebuah mobil yang terparkir di depan sana. Sementara Pak Arman naik ke mobil lain.
"Kau sudah temukan petunjuk?" tanya Marchel.
"Bima bersembunyi di sebuah hotel, aku baru meminta orang memeriksa penggunaan kartu kreditnya. Ayo kita ke sana." Rayhan segera menyalakan mesin dan langsung tancap gas menuju lokasi yang disebutkan seseorang tadi.
****
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang tak biasa, membuat sang penghuni kamar terheran tentang siapakah orang yang telah mengetuk pintu dengan begitu kerasnya.
Pintu terbuka! Tampaklah Rayhan dan Marchel yang berdiri di ambang pintu menatap tajam pada seorang pria yang berada di dalam sana.
Marchel yang tak dapat lagi membendung kemarahannya mendorong Bima sehingga punggungnya menempel di dinding.
"Dimana Sheila?!" bentak Marchel. Rahangnya menggeram, tangannya terkepal geram. Sudah akan mendaratkan tinjunya ke wajah Bima, namun Rayhan menahannya.
"A-ku ti-dak tahu!" jawab Bima dengan suara terbata-bata.
"Kak Marchel, biar aku saja yang bertanya padanya," ujar Rayhan melepas tangan Marchel yang berada di kerah kemeja laki-laki penakut di depannya. Seperti biasa, jika Rayhan sudah mengancam, Bima akan kehilangan nyalinya. "Kau yang mau bicara, atau peluruku yang akan bicara?"
Rasanya kedua kaki Bima sudah tidak berpijak pada lantai akibat rasa takutnya. Rayhan sangatlah mengerikan baginya.
"Aku tidak tahu."
"Katakan kemana ayahmu membawanya atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" Satu tembakan ke sembarang arah dilepaskan oleh Rayhan, membuat seluruh tubuh Bima bergetar hebat.
"Baiklah, aku akan memberitahumu. Tapi tolong jangan tembak!" Bima mengatupkan tangan di depan dada.
"Cepat katakan!" teriak Rayhan diiringi teriakan gemetar dari Bima.
****
Di sebuah bangunan tua yang terletak di daerah terpencil, seorang wanita muda sedang duduk di sebuah kursi dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu. Seulas senyum licik terlihat di sudut bibirnya.
Laki-laki jahat itu menyiramkan segelas air putih dan tepat mengenai wajah wanita yang berada dalam penyekapannya itu.
Seketika Sheila terbangun dengan terkejutnya, kemudian mengarahkan pandangannya ke sana-kemari, seolah belum menyadari segalanya. Hingga gelak tawa seorang laki-laki memenuhi ruangan itu. Sheila pun berusaha mengingat kejadian saat dirinya mengunjungi makam anaknya, dan tiba-tiba beberapa pria menghadang dan membekap mulutnya dengan sapu tangan yang memiliki bau menyengat.
Pak Herdian mendekat pada Sheila, "Apa kabar keponakanku?" ujar Pak Herdian membuat Sheila berdecih setelah menyadari apa yang terjadi.
Dengan tatapan dingin, Sheila melirik seorang pria di depannya yang diyakininya merupakan dalang dibalik kecelakaan ayah dan kakaknya belasan tahun silam. "Apa maumu?"
"Apa mauku? Pertanyaan yang bagus, Nak! Tentu saja aku menginginkan sesuatu."
****
Bersambung