Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Elsa?


Dua bulan berlalu...


Malam itu, Marchel sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam amplop cokelat ketika Sheila datang menghampirinya. Ia memperhatikan sang suami yang terlihat sangat bahagia sambil memegangi sebuah kertas putih.


"Apa itu?" tanya Sheila.


"Ini hasil tes DNA Michella. Tadi Willy menyerahkannya padaku."


"Hasil tes DNA?"


"Iya, Sayang. Beberapa waktu lalu, Bu Fifi meminta bukti kalau kalau Chella memang anak kandung kita. Katanya hanya untuk formalitas saja kalau ada pengawas dari Komisi Perlindungan Anak yang menanyakannya. Karena itulah aku mengambil sampel rambut Chella dan melakukan tes DNA."


"Oh... Tapi bagaimana hasilnya."


Marchel tertawa kecil, "Memang hasilnya mau bagaimana? Tentu saja positif. Michella kan memang anak kita."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, aku mau membicarakan sesuatu."


"Ayo kita duduk dulu." Marchel membawa Sheila untuk duduk si sofa ruang keluarga. "Mau bicara apa?"


"Ayah bilang posisi kepala rumah sakit yang sementara kosong harus segera terisi. Ayahnya Maya kan sudah pensiun. Ayah dan Kak Rey menyarankan Kak Marchel untuk menjadi kepala rumah sakit. Menurut Kak Marchel bagaimana?"


"Aku? Kenapa aku?"


Tidak tahu, ayah bilang begitu."


Marchel menggenggam tangan istrinya itu, dengan seulas senyum menawan. "Sayang, aku mencintai pekerjaanku sebagai dokter. Aku lebih suka mengabdikan diriku untuk orang banyak. Kalau kau butuh seseorang untuk posisi kepala rumah sakitmu, aku lebih menyarankan Willy. Dia seseorang yang sangat bertanggung jawab dan bisa dipercaya."


"Baiklah, aku akan bicarakan dengan ayah dan Kak Rey."


"Dan kau sendiri? Apa kau akan menjadi CEO di perusahaanmu?"


"Aku juga tidak tertarik." Sheila menyandarkan kepalanya di dada Marchel. "Aku lebih suka menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Jadi aku serahkan semua pada Ayah dan Kak Rey."


"Ya, itu bagus!" Marchel mengecup kening Sheila dengan sayang. "Kau akan hidup dari hasil kerjaku saja kan?"


"Ehm... Aku sudah merasa sangat bahagia sekarang."


*****


Jika Marchel dan Sheila sudah bahagia, maka di sisi lain masih ada seseorang yang hidup nelangsa.


Kenangan membawa selaksa kerinduan yang merasuki sukma, menggoreskan luka yang semakin dalam. Jika waktu dipercaya sebagai penyembuh, akankah ia mampu mengangkat nestapa yang bersarang di jiwa.


Di sebuah tempat hiburan malam, seorang pria tampan sedang larut dalam patah hatinya. Jika di hadapan semua orang, pria yang berprofesi sebagai dokter itu mungkin seseorang yang sempurna. Namun, dalam kesendirian, ia hanyalah sarang dari luka yang sangat dalam.


Kehilangan seseorang yang teramat dicintai membuatnya jatuh ke jurang kesedihan yang tak berujung. Dokter Willy, tidak pernah membayangkan sebelumnya akan mengalami patah hati yang membuatnya seakan telah mati.


"Tolong tuang lagi!" ucapnya pada seorang wanita cantik yang duduk di sisinya. Dengan senyum menggoda, wanita itu menuangkan minuman lagi. "terima kasih, sekarang pergilah!" Ia menyodorkan beberapa lembar uang pada wanita itu, lalu kembali menikmati kesendiriannya.


Puas melampiaskan kesedihannya, ia beranjak keluar dari tempat itu, menuju sebuah mobil yang terparkir di depan sana.


"Malam ini aku milikmu, Shan! Biarkan aku menghabiskannya dengan kenangan tentangmu," ucapnya menatap sebuah foto. Ia melajukan mobil menuju sebuah tempat yang menjadi saksi kenangannya bersama wanita yang pernah hadir dalam hidupnya. Hingga ia berhenti di sebuah danau.


Willy turun dari mobil, menuju ke tepi danau dan duduk di sana. Menikmati semilir angin segar yang berhembus. Di tempat itulah dulu Willy dan Shanum banyak menghabiskan waktu bersama.


****


"Hiks ... Hiks ..." Terdengar suara isakan yang berasal dari arah sebuah jembatan.


Sejenak Willy menoleh pada sumber suara. Di sana ada seorang gadis berambut panjang yang sedang berdiri di sisi pembatas jembatan itu.


Dan, benar. Sepertinya gadis itu memang hendak bunuh diri. Ia memanjat ke pembatas jembatan itu diiringi suara isakannya yang menggema.


"Hey jangan!" teriak Willy!


"Aaaaa...!"


BLUP!


Terdengarlah suara seperti benda terjatuh ke air, membuat Willy terlonjak kaget. Gadis tadi benar-benar melakukan percobaan bunuh diri. Sebagai seorang dokter, ia tidak bisa membiarkan kejadian itu begitu saja.


Secepat kilat, Willy berlari menuju jembatan itu. Melihat si gadis yang sepertinya tak dapat berenang, Willy pun melompat kebawah sana. Ia berenang, hingga menggapai tubuh gadis itu dan membawanya ke tepi danau.


Layaknya seorang pahlawan, Willy mencoba menyelamatkan gadis yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri itu dengan memberinya napas buatan. Hingga beberapa saat kemudian.


Uhuk uhuk


Gadis itu terbatuk-batuk, sambil mengusap dadanya yang terasa sakit. Ia melirik pria yang baru saja menolongnya dengan tatapan menggeram.


"Heh kau pikir siapa dirimu? Menciumku seenaknya? Kau sudah bosan hidup ya?"


Willy begitu terkejut, bukannya berterima kasih, gadis itu malah marah-marah tidak jelas. "Heh, kalau kau mau mati, masih banyak cara lain. Tidak usah dengan cara bodoh seperti ini!"


"Memang apa pedulimu? Aku mau hidup atau mati bukan urusanmu! Lagi pula siapa yang mau mati?"


"Cih, dasar tidak punya otak! Sudahlah, aku mau pergi! Silakan kau ulangi kebodohanmu yang tadi. Jembatannya masih ada, dan air di danau juga masih banyak. Kau masih punya banyak kesempatan bunuh diri sampai kau benar-benar mati."


Gadis itu menganga tak percaya mendengar mulut tak berperasaan milik pria di depannya.


Willy berdiri, hendak meninggalkan gadis itu. Namun saat hendak melangkah, ia berbalik lagi, meneliti gadis yang sedang kedinginan itu.


"Sok mau bunuh diri, tapi dengan dingin saja tidak tahan. Dasar!"


Laki-laki itu segera berlari kecil menuju mobil dan mengambil jas nya berada di kursi penumpang. Lalu setelahnya menghampiri seorang gadis yang baginya sangat bodoh.


"Pakai ini! Setidaknya kau tidak terlalu kedinginan," ucapnya sambil menyerahkan jasnya.


Gadis itu meraih jas milik Willy dengan kesal, lalu melingkarkan di tubuhnya untuk meminimalisir rasa dinginnya.


Beberapa saat kemudian, Willy meneliti wajah gadis itu yang baginya tak asing. Merasa pernah melihatnya, namun entah dimana.


"Kau!" Willy terbelalak, "Kau Elsa Azkara kan? Bungsu di keluarga Azkara?"


Gadis itu tampak sangat terkejut. Ia gelagapan bangkit dari posisi duduknya. "Bagaimana kau tahu namaku?"


"Huh, aku benar-benar tidak menyangka kesayangan Trio Azkara sedang berusaha melakukan percobaan bunuh diri! Biar aku tebak!" Willy berjalan mengelilingi gadis itu. "Kau pasti habis ditinggal kekasihmu sehingga kau mau bunuh diri kan? Coba bayangkan akan seperti apa kesedihan ketiga kakakmu kalau adik bungsu mereka mati bunuh diri di jembatan?"


"Heh, dasar sok tahu! Siapa yang mau bunuh diri? Kalau kau tidak mengagetkanku dengan teriakanmu, aku tidak akan sampai jatuh ke danau!"


Seketika Willy terdiam. Ia mencoba menyimpulkan apa maksud gadis itu. "Maksudmu?"


"Aku mau mengambil kalung peninggalan ibuku yang terjatuh di pinggiran jembatan itu, dan kau berteriak sehingga aku terkejut dan jatuh! Bukan hanya itu, kau mengambil ciuman pertamaku!" Teriak gadis itu dengan kesalnya.


"Benarkah?" Seketika wajah Willy merona malu, untung saja malam hari dan pencahayaan remang- remang. Sehingga menyamarkan raut wajah malunya.


*****


Ada yang kenal Elsa dan Trio Azkara?