
PRANG!
Terdengar suara pecahan kaca yang berasal dari kamar atas. Pak Arman dan Rayhan yang sedang terlibat pembicaraan serius di sebuah ruangan begitu terkejut mendengar suara itu. Dengan segera, kedua orang itu beranjak menuju kamar Sheila.
Tampak Sheila sedang terduduk di lantai sambil menangis. Pak Arman segera mendekat dan merangkulnya.
"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi?" tanya Pak Arman mencoba menenangkan Sheila.
Wanita muda itu belum sanggup menjawab. Tangisnya pecah. Luka yang berusaha disembuhkannya selama empat tahun nyatanya menganga semakin lebar. Teringat kembali pada anaknya yang telah pergi meninggalkannya.
"Ayah... Kenapa mereka sejahat ini padaku? Kenapa anakku yang harus menjadi korban kejahatan mereka. Apa salahnya, Ayah?" ucap Sheila dengan tangisannya yang memilukan.
Pak Arman melirik Rayhan sejenak, lalu memberi kode. "Tenanglah, Sheila! Semuanya akan berlalu. Dukamu pasti akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Tenanglah, Nak..." ucap Pak Arman lembut.
"Tapi kapan, Ayah? Semakin aku berusaha melupakannya, semakin sakit yang kurasa. Aku hanya ingin menghancurkan mereka saja, mereka yang sudah membuatku menderita di masa lalu."
"Jangan anakku! Kau tidak boleh menyimpan dendam. Itu hanya akan menyakitimu. Biarkan waktu saja yang menyembuhkan lukamu."
"Aku tidak bisa, Ayah. Aku benar-benar tidak bisa."
Rayhan segera mendekat, mengusap punggung Sheila. Laki-laki itu tahu betul bagaimana perjuangan Sheila menghapus duka kehilangan anaknya. Namun rupanya waktu belum dapat menghapus duka di hati Sheila.
"Ayah, biar aku saja," ucap Rayhan membuat Pak Arman segera berdiri dari posisinya. Kemudian meninggalkan Rayhan dan Sheila di ruangan itu.
Rayhan menyandarkan Sheila di bahunya. "Menangislah! Biarkan air matamu yang menghapus lukamu. Kadang, seseorang tidak bisa terus berpura-pura kuat."
Ucapan Rayhan membuat tangis Sheila semakin menjadi-jadi. Hingga beberapa saat kemudian, Sheila mulai bisa menguasai perasaannya. Dia menceritakan pada Rey apa yang membuatnya sedih.
"Tadi aku pergi ke panti asuhan. Aku bertemu seorang anak perempuan. Dia benar-benar mengingatkanku pada Angel. Kak Rey, dia lahir bersamaan dengan Angel, di rumah sakit yang sama."
"Benarkah?" tanya Rayhan membuat Sheila mengangguk.
"Entah kenapa aku merasa seperti bercermin saat menatapnya. Wajahnya yang pucat, sifatnya yang pemalu, dia tidak punya teman sama seperti aku. Aku sangat merindukan Angel, Kak Rey..."
"Kau bisa mengunjungi makamnya besok, kan? Lagipula Angel sudah bahagia di surga, Sheila. Kau harus bisa merelakannya."
Sheila terdiam. Dalam hatinya kebencian seakan telah mendarah daging. Seolah tidak ada jalan baginya untuk memaafkan orang-orang dari masa lalunya.
***
_
_
_
_
Di sebuah ruangan, dengan pencahayaan temaram, Pak Arman sedang merenung seorang diri. Bayang-bayang masa lalu mulai menghantuinya. Teringat kembali pesan mendiang anak sulungnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Malam itu, Shanum meminta sang ayah untuk setuju jika Marchel menikahi Sheila.
Kalimat yang diucapkan Shanum masih terekam jelas diingatan Pak Arman. Betapa anaknya itu sangat menyayangi Sheila lebih dari apapun.
"Shan... Sekarang Sheila sangat menderita. Dan ayah maupun Rey tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan duka di hatinya."
******
Hari demi hari berlalu seperti biasanya. Pagi itu Sheila baru saja tiba di rumah sakit miliknya. Saat di lobby bersamaan dengan Marchel yang juga baru tiba. Sheila melewati Marchel begitu saja, tanpa sapaan. Terlihat sangat enggan menatap wajah lelaki yang masih berstatus suaminya itu. Dengan cepat Marchel segera menyusul langkah kaki Sheila.
"Sheila... Tunggu!" panggil Marchel membuat langkah Sheila terhenti. Wanita muda itu berbalik, menatap tajam pada Marchel.
"Ada apa?"
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Tertawa sinis, Sheila berjalan ke arah Marchel dengan tatapan dingin seperti biasa. "Apa lagi yang harus dibicarakan? Aku tidak ada urusan denganmu."
Marchel memejamkan matanya sejenak, mengatur napasnya yang terasa memburu. "Aku tahu kau masih sangat marah padaku. Tapi aku mohon jangan seperti ini. Mari kita bicara dulu." Marchel meraih tangan Sheila, namun secepat kilat, Sheila menepisnya.
"Jangan sentuh aku! Dan ingat satu hal, Dokter Marchel. Aku tidak mau bicara denganmu. Kalau kau hanya ingin minta maaf padaku, lupakan saja! Karena aku tidak akan pernah memaafkanmu." Tanpa banyak bicara lagi, Sheila beranjak pergi meninggalkan Marchel. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju sebuah ruangan.
Marchel menatap punggung Sheila dengan perasaan sedih. Sheila yang sekarang sangat berbeda dengan Sheila yang dulu.
Sheila mempercepat langkahnya. Saat melewati sebuah pintu kaca, seorang gadis bertabrakan dengannya, membuat beberapa benda yang berada di tangan gadis itu terjatuh dan berhamburan di lantai.
"Kalau jalan hati-hati!" ujar gadis itu.
"Maaf, aku sedang terbu..." Seketika Sheila terdiam menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya.
Dia kan Maya. Anak sombong yang dulu suka menghinaku. Mau apa dia di sini? batin Sheila.
Wajah yang tadinya ramah pun berubah. "Kau tidak punya mata, ya? Kalau jalan lihat-lihat!" bentak Sheila.
Maya yang dulu sangat menyombongkan posisi ibunya sebagai kepala rumah sakit nyatanya belum berubah. Gadis itu masih sama seperti dulu.
"Kau lah yang harus lihat-lihat kalau berjalan! Kau pikir siapa dirimu?" balas Maya.
"Ada apa, ini?" Terdengar suara Audry yang tiba-tiba hadir di sana, segera mendekat pada dua wanita muda di depannya.
Dengan gaya angkuh dan sok berkuasanya, Maya yang merupakan mahasiswa kedokteran yang sedang magang di rumah sakit itu memandang remeh Sheila.
"Dokter Audry, siapa gadis sombong ini? Apa dia tidak tahu siapa aku?" tanya Maya pada Audry.
Sheila hanya tersenyum sinis, seolah meminta Audry menjelaskan pada Maya tentang siapa dirinya.
***
BERSAMBUNG