
Sheila memutar bola matanya pertanda malas, ketika melihat Marchel berdiri di depannya. Sang dokter yang melihat Sheila seakan malas bertemu dengannya hanya membalas dengan seulas senyum.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Marchel.
"Bukan urusan Kak Marchel," jawabnya ketus, lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
"Sheila tunggu!" panggilan Marchel menghentikan langkah kaki Sheila. Lalu dengan segera menghampiri wanita itu dan meraih pergelangan tangannya.
Seperti biasa, Sheila bersikap dingin pada Marchel, berusaha melepas tangannya. "Lepaskan aku!"
"Tidak akan! Kita perlu bicara, Sheila."
"Apa lagi? Aku tidak mau bicara dengan Kak Marchel."
Tiba-tiba Ibu Fifi keluar dari kamar Chella, membuat perdebatan Sheila dan Marchel berhenti sejenak. "Ada apa, Sheila?"
Marchel terdiam, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Sheila.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya mengobrol sebentar dengan Dokter Marchel," jawab Sheila.
"Baiklah, aku harus ke depan dulu melihat anak-anak."
"Silakan, Bu..."
Wanita itu sudah pergi menjauh, meninggalkan Sheila dan Marchel di depan kamar dimana Chella berada.
"Sekarang lepaskan aku!" bentaknya.
"Sheila... Tolong dengarkan aku." Marchel melembutkan suaranya. Menyentuh pundak Sheila, kanan dan kiri. "Aku tahu aku salah karena meninggalkanmu begitu lama. Aku membuatmu hidup menderita selama berbulan-bulan. Dan karena kesalahanku kita kehilangan Angel. Sama sepertimu, aku juga menderita. Apa kau pikir selama empat tahun ini aku bisa tenang? Tidak, Sheila. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Aku sangat menyesal."
Sheila menatap tajam pada Marchel. "Lalu? Apa penyesalan Kak Marchel bisa menghilangkan penderitaanku? Apa penyesalan Kak Marchel bisa menghapus kenangan buruk itu dari hidupku? Tidak, kan?"
"Aku tahu penyesalanku tidak akan ada artinya bagimu. Tapi aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Menjalani empat tahun dalam rasa bersalah tidak mudah. Aku mencarimu kemana-mana. Aku ingin memulai segalanya dari awal bersamamu."
Sheila menjatuhkan setitik air matanya. "Sejak awal tidak seharusnya kita menikah. Ya, pernikahan kita adalah sebuah kesalahan. Jadi aku mohon lepaskan aku. Mari kita bercerai saja."
"Tidak! Aku tidak akan pernah melepasmu. Aku akan menunggu sampai kapan pun kemarahanmu mereda."
"Tapi kebencianku padamu tidak akan pernah bisa dihilangkan!" teriak Sheila seraya menyeka setitik air matanya. "Apa kau ingat? Kau bicara apa malam itu? Kau bilang tidak akan pernah bisa menerimaku, kan? Kau hanya berpura-pura bisa menerimaku, dan bodohnya aku mempercayainya. Aku hanyalah seorang gadis culun yang sama sekali bukan seleramu. Aku bukan wanita sempurna seperti Kak Shan. Kau bahkan tidak mempercayaiku dan meragukan anakmu sendiri. Apa salahku Kak Marchel? Kenapa kau lakukan semua itu padaku?"
Bagai gunung merapi yang siap memuntahkan laharnya, Sheila begitu dikuasai kemarahan. Rasa kecewa dan sakit hatinya pada Marchel yang begitu besar, ditumpahkan dalam tangisannya.
Marchel meraih tubuh Sheila, memeluknya dengan erat. Sheila berusaha memberontak, namun semakin erat Marchel memeluknya.
"Aku mencintaimu Sheila. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya. Aku butuh waktu yang lama untuk bisa mengenali perasaanku sendiri. Sampai akhirnya kau dan anak kita menjadi korban. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahanku."
Marchel menjatuhkan setitik air matanya, mencoba meraih tangan Sheila sekali lagi. Namun, Sheila tetap enggan disentuh oleh Marchel.
"Kau mau aku memaafkanmu? Kau mau aku memberimu kesempatan kedua? Hanya ada satu cara untukku bisa memaafkanmu. Kembalikan anakku! Apa Kak Marchel bisa?"
Belum sempat Marchel menjawab, sudah terdengar sebuah suara yang berasal dari kamar.
"Huwaaaaa Ibu!!" teriak Chella diiringi Isak tangis. Dan hak itu mengagetkan Marchel dan juga Sheila. Mereka kemudian saling berlomba memasuki kamar itu.
Sheila meraih tubuh kecil Chella dan membawanya ke pangkuannya. Ia terus berusaha menenangkan gadis kecil itu.
"Chella kenapa? Mana yang sakit?" tanya Sheila seraya memeluk anak itu, mengusap kepalanya dengan lembut. Sedangkan Marchel berjongkok di depan Sheila, sambil mengusap punggung Chella.
"Ibu... Ibu... Ibu..." Chella mulai sesegukan memanggil ibunya.
"Ibu?" Sheila yang masih belum tahu cara menenangkan seorang anak yang menangis hanya dapat memeluk Chella.
"Chella sudah biasa seperti ini saat sedang sakit," ujar Marchel. "Dia akan menangis mencari ibunya saat baru terbangun. Ibunya meninggal saat melahirkannya."
Kenapa perasaanku jadi aneh begini? Perasaan apa ini? batin Sheila.
"Chella... Sama Om Dokter saja, ya..." bujuk Marchel. Namun, untuk pertama kalinya, Chella yang biasanya langsung luluh oleh Marchel lebih memilih tetap berada diperlukan Sheila.
"Ya sudah, sama kakak saja ya..." ucap Sheila.
Chella yang masih sesegukan menjawab dengan anggukan. Matanya yang sayu, menandakan anak itu masih mengantuk. Hingga beberapa saat kemudian, bocah kecil itu kembali tertidur.
"Aku akan di sini menemani Chella," ujar Sheila tanpa menatap Marchel, seolah ucapannya memberi pertanda agar Marchel meninggalkannya.
"Baiklah, aku akan pergi."
Marchel mengusap puncak kepala Chella sebelum melangkah. Namun, baru di ambang pintu, Chella kembali menangis, sehingga Marchel segera mendekat.
"Biar aku saja. Chella memang agak rewel saat sedang sakit." Marchel meraih tubuh kecil Chella dari pangkuan Sheila.
"Kenapa kita tidak bawa ke rumah sakit saja?" tanya Sheila. Khawatir melihat wajah Chella yang agak pucat.
"Itu tidak perlu. Chella akan membaik setelah minum obat. Tidak semua sakit yang kambuh harus mendapat perawatan intensif."
Hari itu, Sheila dan Marchel menjaga Chella di sana, hingga malam tiba. Chella bahkan tidak membiarkan Sheila ataupun Marchel menjauh darinya. Anak itu akan menangis jika tidak melihat salah satu dari mereka.
****
Bersambung