Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Dimana Sheila?


"Bu, apa boleh aku membawa Chella pulang?" tanya Marchel pada Ibu Fifi, dengan Chella yang berada di gendongannya. Sejak tadi gadis kecil itu terus menempel padanya.


"Dokter Marchel mau membawa Chella sekarang?"


"Iya, Bu! Rasanya aku tidak bisa meninggalkannya lagi. Kalau diizinkan, aku akan membawanya pulang."


Ibu Fifi mengusap punggung anak asuh kesayangannya itu, diiringi tetesan air matanya. Walaupun merasa sedih Marchel akan membawa Chella, namun Bu Fifi ikut bahagia, Chella telah menemukan keluarga yang sebenarnya.


"Tentu saja. Dokter Marchel adalah ayahnya Chella," ucap Bu Fifi mengusap air matanya.


"Terima kasih, Bu. Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih. Ibu sudah menjaga anakku selama ini."


"Aku sudah menganggap Chella seperti anakku sendiri. Kalau begitu, aku akan mengemasi pakaian Chella dulu."


"Baik, Bu. Terima kasih."


Bu Fifi segera menuju kamar dan mengemasi pakaian Chella. Senang bercampur sedih. Namun, inilah yang terbaik bagi seorang anak, bersama orang tuanya.


****


"Sheila belum bisa dihubungi. Tadi Bu Fifi sudah mencoba menghubunginya, tapi tidak tersambung," ucap Willy.


"Aku akan membawa Chella pulang dulu. Setelah itu aku akan menemuinya."


Willy mengusap puncak kepala Chella, yang sedang bersandar di bahu Marchel. "Dia mirip denganmu. Coba lihat wajahnya, sangat menggemaskan."


"Tapi dia memiliki karakter seperti ibunya. Ya, dia sangat mengingatkanku pada Sheila. Sikapnya, karakter dan bahkan riwayat kesehatannya sama persis seperti ibunya."


"Semoga ditemukannya anakmu bisa menjadi jembatan untuk kalian bisa bersama kembali," ucap Willy penuh harap.


Marchel menghela napas panjang, teringat ucapan Sheila beberapa waktu lalu yang mengatakan hanya akan memaafkan Marchel jika mampu mengembalikan anaknya. Dan mengingat hal itu saja, membuat laki-laki itu merasa sesak. Khawatir jika Sheila tetap ingin melanjutkan mengurus perceraiannya dan meminta hak asuh Chella.


"Aku akan mencoba bicara dengannya."


Tak lama berselang, Bu Fifi datang dengan membawa sebuah koper kecil berisi pakaian milik Chella. Marchel dapat melihat raut kesedihan di wajah wanita itu. Walau bagaimana pun perpisahan dengan Chella tentu membuatnya sedih.


"Chella, jangan suka menangis lagi, ya. Nanti ibu akan sering menjenguk Chella," ucap Bu Fifi seraya memeluk Chella.


"Iya, Bu. Tapi Ibu ikut, ya. Chella kan mau ikut om dokter," ucap Chella seraya menarik ujung kemeja Bu Fifi.


Bu Fifi mengecup kening anak kesayangannya itu. "Chella jangan panggil om dokter lagi. Panggil ayah, om dokter kan ayahnya Chella, dan kakak cantik adalah ibunya Chella. Mengerti kan?"


Chella menjawab dengan anggukan, lalu memeluk wanita yang selama empat tahun merawatnya itu.


****


-


_


_


_


Dengan berderai air mata, Ibu menyambut gadis kecil yang merupakan cucunya itu. Marchel baru saja menceritakan segalanya pada sang ibu. Tidak dapat digambarkan betapa bahagianya wanita paruh baya itu. Mengetahui bahwa cucu yang sempat ditolaknya itu ternyata masih hidup.


Chella yang selalu takut pada orang baru yang ditemuinya mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


"Chella kenapa?" tanya Marchel.


"Takut, Ayah!"


Chella tidak menjawab. Hanya melirik takut pada wanita di depannya. Dan hal itu membuat Marchel kembali teringat pada Sheila, yang juga selalu takut pada orang baru yang ditemuinya.


Ibu segera mendekat pada Chella, membuat gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ayahnya.


"Chella, ayo kemari, Sayang. Ini oma." Ibu melembutkan suaranya, hendak meraih tubuh kecil itu dari pangkuan sang ayah. Namun, semakin erat Chella melingkarkan tangan pada tubuh sang ayah. Marchel pun berusaha membujuk anaknya itu.


"Chella mau bertemu ibu, kan?" tanya Marchel diikuti anggukan oleh Chella. "kalau begitu Chella sama oma dulu. Nanti ayah jemput ibu. Mau kan?"


Sekali lagi Chella melirik takut pada ibu. Namun kerinduannya pada wanita yang disebutnya kakak cantik telah menggunung. Pelan-pelan, Chella melepas tangannya yang melingkar di tubuh sang ayah. Dan, untuk pertama kalinya, ibu memeluk cucunya itu. Selama beberapa saat ibu terus menangis haru.


"Chella tunggu di sini sama oma, ya... Ayah akan pergi dulu menjemput ibu. Mau kan?" ucap Marchel pada anaknya itu.


Anak itu menjawab dengan anggukan. Sudah tidak sabar ingin bertemu kakak cantiknya yang mereka sebut sebagai ibunya.


"Iya, Ayah!"


***


***


Marchel baru tiba di sebuah rumah super mewah, berharap Sheila ada di rumah, sehingga dapat memberitahu kabar bahagia tentang anak mereka. Namun, saat baru tiba, kepanikan sedang terjadi di rumah itu. Rayhan baru saja memarahi semua pengawal yang dirasanya tidak becus bekerja menjaga Sheila.


"Apa saja yang kalian lakukan. Kenapa kalian biarkan Sheila sendiri?!" bentak Rayhan.


"Maaf, Pak. Tadi, Nona Sheila bilang akan lama di sana. Jadi kami menunggu di depan. Tapi setelah beberapa jam, Nona Sheila tidak keluar juga dari tempat itu. Saat kami masuk untuk mencarinya, dia sudah tidak ada," jawab salah seorang di antaranya. Kemarahan Rayhan pun semakin meledak-ledak mendengar jawaban itu. Sedangkan Pak Arman terdiam di sudut sana. Terlihat sudah sangat khawatir.


"Cepat kalian cari dia! Kerahkan orang sebanyak-banyaknya untuk mencarinya!"


Marchel yang melihat Rayhan sedang memarahi beberapa pria bertubuh besar segera mendekat. "Rey, ada apa? Apa yang terjadi?"


Rayhan memejamkan matanya, berusaha mengurangi kemarahan di dalam hatinya. "Sheila hilang. Tadi dia pergi mengunjungi makam anaknya. Tapi setelah beberapa jam Sheila tidak keluar juga. Saat mereka masuk, Sheila sudah tidak ada."


Seketika seluruh tubuh Marchel terasa lemas, teringat pembicaraannya dengan Rayhan beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Sheila belum sepenuhnya aman.


"Sheila hilang di area pemakaman maksudmu?" tanya Marchel.


Rayhan menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak! Dan aku yakin Sheila diculik. Dia tidak pernah pergi sendirian karena aku selalu membuatnya berada dalam pengawalan ketat."


Raut wajah Marchel sudah berubah. Kedua matanya sudah tergenang cairan bening. "Rey, ayo kita ke sana dan melihat rekaman CCTV. Kita bisa melihat Sheila kemana."


"Rekaman CCTV?"


"Iya. Itu adalah kompleks pemakaman keluargaku. Di sana banyak terpasang CCTV. Yang mengarah ke makam Angel juga ada."


****


Marchel, Rayhan dan Pak Arman tiba di kompleks pemakaman dimana Sheila menghilang tanpa jejak. Mereka tergesa-gesa menuju sebuah ruangan dimana monitor CCTV berada, untuk memastikan apa yang terjadi.


Sebelumnya Marchel juga telah menceritakan pada Pak Arman dan juga Rayhan tentang Chella yang ternyata adalah anaknya yang ditukar seseorang di rumah sakit.


Dengan dibantu seorang pria yang berjaga di makam itu, mereka memeriksa rekaman CCTV. Mulai saat Sheila datang.


"Mereka datang pukul empat. Di rekaman ini nona muda itu baru datang dan langsung masuk," ucap seorang petugas yang membantu memantau rekaman CCTV. Mempercepat tayangan itu, hingga menemukan rekaman yang menunjukkan beberapa pria mendekati Sheila dan membekap mulutnya dengan sesuatu. Kawanan pria tak dikenal itu pun membawa Sheila keluar dari pemakaman melalui pintu belakang.


Tangan Marchel sudah terkepal hingga bergetar. Rasanya kemarahan telah sampai di ubun-ubunnya. Begitu pula dengan Pak Arman dan Rayhan. Mereka yakin Sheila diculik oleh orang suruhan Pak Herdian. Mengingat beberapa waktu lalu Sheila meminta agar Pak Herdian diberhentikan dari jabatannya sebagai salah satu manager di perusahaan keluarga Darmawan.


****