Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Dendam masa lalu


Pagi itu, setelah melihat keadaan Bima yang semalam tertembak oleh ayahnya sendiri, Sheila hendak mendatangi sebuah ruangan dimana Audry sedang di rawat. Bersama Rayhan, Sheila melewati lorong-lorong rumah sakit milik keluarganya itu sambil membicarakan Pak Herdian yang kini ditahan di kantor polisi.


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ada rencana seperti itu?" tanya Rayhan.


"Karena Kak Rey dan ayah akan mencegahku. Kalau aku tidak melakukannya, kita tidak akan punya bukti untuk menyeretnya ke penjara kan. Aku hanya memasukkan beberapa orang setia kita sebagai penyusup."


"Itu memang benar. Tapi bayangkan saja kalau semalam tidak ada Bima. Apa yang akan terjadi. Antara kau atau Kak Marchel yang akan tertembak."


"Sudahlah, Kak! Aku kan baik-baik saja sekarang."


Mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan dimana Audry berada. Sheila memutar gagang pintu pelan-pelan. Menatap iba pada kondisi Audry yang semakin memprihatinkan. Audry baru saja meminta Sheila untuk menemuinya. Sambil menangis, wanita itu mengakui semua dosa-dosanya di masa lalu.


"Sheila... Aku benar-benar minta maaf untuk semua perbuatanku di masa lalu. Aku merasa menjadi manusia paling jahat di dunia," ucap Audry dengan suara lemahnya. Wajahnya yang pucat dan tubuh yang semakin kurus.


Sheila hanya menundukkan kepalanya. Enggan menatap wajah wanita yang telah menyebabkan keluarganya terpisah selama bertahun-tahun.


"Maafkan aku sudah menukar anakmu dengan bayi yang meninggal. Untuk bisa memiliki Marchel, aku melakukan berbagai cara. Marchel tidak bersalah, dia sangat mencintaimu. Dan ibu, dia juga tidak bersalah. Aku mohon jangan hukum ibu, saat aku menjatuhkanmu dari tangga, ibu juga sangat marah padaku."


Sheila memejamkan matanya, kembali teringat hari itu. Dimana ia menangisi jasad seorang bayi yang dipikirnya adalah anaknya. Hari yang menjadi titik awal dari tumbuhnya dendam di hatinya pada semua orang yang berasal dari masa lalunya.


"Akulah yang telah menghasut dan menanamkan kebencian di hati ibu untukmu. Saat Shanum meninggal, aku tidak terima karena Marchel memutuskan menikahimu. Sejak saat itu, aku menghasut ibu dan membuatnya membencimu. Sebelum kau menikah dengan Marchel dia sangat menyayangimu, kan? Tapi aku berhasil membuatnya membencimu. Aku lakukan cara apapun agar di matanya kau selalu buruk. Semua yang dilakukan ibu padamu adalah hasil kesalahanku. Saat tahu kau hamil, aku menghasut ibu dan mengatakan bahwa anak yang kau kandung adalah anak orang lain. Aku juga yang meminta ibu mengusirmu dari rumah. Selama empat tahun ini, ibu sudah menerima hukuman dari Marchel. Aku mohon jangan hukum ibu lagi, hukumlah aku saja."


Sheila menghapus air matanya yang berjatuhan. "Tolong jangan ingatkan aku tentang semua itu. Aku hanya ingin melupakan semuanya. Lagipula anakku sudah kembali. Aku tidak mau apa-apa lagi. Lebih baik sekarang pikirkan saja kesehatanmu."


"Aku tidak tahu. Aku tidak memikirkan apapun sekarang selain anakku. Kalau begitu istirahatlah. Aku harus menemani anakku. Dia juga sedang dirawat di rumah sakit ini." Sheila menerbitkan seulas senyum, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Audry yang masih terbaring lemah.


Tinggallah wanita itu terbaring seorang diri dengan belenggu penyesalan yang semakin mendalam.


Saat melewati sebuah lorong, bersamaan dengan Maya yang juga baru keluar dari sebuah ruangan. Gadis itu menunduk malu saat bertemu dengan Sheila. Bahkan kini keadaan Maya pun sangat menyedihkan. Dikeluarkan dari kampus dan juga masalah kedua orang tuanya benar-benar menghancurkan hidupnya.


Sheila menghela napas panjang. Walaupun masih ada sisa kemarahan dalam hatinya, namun kembalinya Michella dalam hidupnya membuatnya ingin melupakan semua dendam masa lalunya.


"Bagaimana keadaan ayahmu?" Sheila bertanya walaupun enggan menatap wajah Maya.


"Sudah lebih baik," jawabnya seraya menghapus air matanya.


"Syukurlah! Semoga cepat sembuh!"


"Te-terima kasih, Nona!" sahut Maya menundukkan kepala. Dan tanpa banyak bicara lagi, Sheila meninggalkan Maya yang masih berdiri di tempatnya, menuju ruangan dimana Chella berada.


***


Besambung