Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Harus Menjaga Emosi


Mendengar suara teriakan Sheila membuat ibu segera menuju kamar di lantai atas. Wanita paruh baya itu pun terkejut melihat menantunya dalam keadaan tak sadarkan diri. "Marchel ada apa dengan Sheila?"


"Aku tidak tahu, Bu. Dia tiba-tiba pingsan." Marchel menggendong Sheila dan membaringkannya di tempat tidur.


Wajah Sheila yang pucat membuat ibu merasa sangat khawatir. Ia duduk di bibir tempat tidur dan mengusap kening Sheila. Sementara Marchel segera memeriksanya.


Bagaimana keadaannya?" tanya ibu sesaat setelah Marchel memeriksa denyut jantung dan tekanan darah.


"Dia tidak apa-apa, Bu! Semuanya normal."


Michella baru saja masuk ke kamar dengan digendong seorang pengasuhnya. Gadis kecil itu langsung meminta naik ke pembaringan itu saat melihat bundanya terbaring.


"Ayah, kenapa bunda cepat tidur? Bunda kan mau baca dongeng putri salju."


"Bundanya capek, Nak! Bunda mau istirahat dulu. Malam ini bibi saja yang baca dongengnya, ya," tawar Marchel, namun Chella cepat-cepat menggeleng.


"Maunya sama bunda," jawabnya dengan bibir mengerucut lucu.


Ibu mengusap pucuk kepala cucu kesayangannya itu. "Kasihan bunda, Sayang. Kan bundanya capek. Sama Oma saja, ya. Nanti Oma bacakan dongeng putri salju yang cantik. Mau kan?"


"Mau, Oma." Chella mengangguk pelan. Ibu pun segera membawa gadis kecil itu keluar dari kamar itu. Meninggalkan Marchel dan Sheila berdua.


Setelah kepergian Chella dan ibu ke kamar sebelah, Marchel kembali memeriksa Sheila. Ia menyibakkan pakaian yang digunakan sang istri hingga batas dada untuk memastikan kecurigaannya. Dan, senyum tipis terlihat di sudut bibir laki-laki itu ketika meyakini kecurigaannya benar adanya.


Marchel membelai wajah Sheila dengan sayang, tatapannya penuh cinta. Tangannya mengusap perut rata Sheila.


"Pantas saja beberapa hari ini kau sangat sensitif dan mudah marah," gumamnya seraya tersenyum bahagia.


****


Sheila baru saja membuka matanya secara perlahan-lahan. Tatapannya langsung tertuju pada wajah sang suami yang sedang memandanginya dengan senyum bahagia. Seolah ia telah lupa dengan apa yang membuat Sheila begitu marah padanya.


"Sayang, kau sudah bangun? Apa kepalamu terasa sakit?" tanya Marchel mengusap puncak kepala Sheila.


Sheila terdiam. Kembali mengingat kejadian tadi dimana ia mendapati suaminya menatap foto Shanum dengan menitikkan air mata. Seketika kedua bola matanya berkaca-kaca.


" Sheila, tolong dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Marchel berusaha membujuk seraya mengusap air mata Sheila yang telah mengalir di ekor matanya.


Marchel meraih jemari Sheila dan menggenggamnya. "Sayang, aku mengerti perasaanmu. Tapi tolong izinkan aku menjelaskannya." Marchel menghela napas panjang. "Aku sedang merasa menjadi orang yang sangat jahat hari ini. Aku menjadi penghalang kebahagiaan orang lain." Wajah Marchel kembali terlihat sedih.


"Maksudnya?"


"Aku sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai."


Kerutan di alis Sheila semakin dalam, menandakan banyaknya tanda tanya di benak wanita muda itu. "Aku tidak mengerti."


Gurat kesedihan bercampur penyesalan terlihat di wajah Marchel. Ia mulai menceritakan pada Sheila tentang Willy dan Shanum yang ternyata saling mencintai. Namun Marchel telah menjadi pagar pembatas di antara kedua orang itu. Sehingga sahabatnya Willy tenggelam dalam kesedihan mendalam.


Mendengar kata demi kata yang terucap dari mulut sang suami membuat Sheila tak kuasa membendung air matanya. Ia baru mengingat kala dimana Willy dan Shanum sering menemaninya saat dirawat di rumah sakit. Sheila yang saat itu masih berusia 14tahun tidak mengerti kedekatan antara Shan dan Willy dan berpikir keduanya hanya berteman biasa.


"Sheila ... Aku mencintaimu. Sungguh! Aku bukan menangisi Shan. Aku sedang menangisi perbuatanku yang telah memisahkan mereka. Betapa bodohnya aku yang tidak pernah menyadari sikap dingin Shan padaku selama dua tahun bersamanya. Aku begitu naif dan mengira semua itu memang hanya karena karakter Shan. Dan hari ini, aku baru menyadari semua kesalahanku. Aku merasa aku sangat egois."


"Kak Shan ..." lirih Sheila dengan berderai air mata. Setiap kali teringat pada sosok Shanum, air matanya akan berguguran begitu saja.


"Aku minta maaf kalau kau merasa tersakiti. Sayang, sekarang aku hanya milikmu. Aku sudah tidak punya cinta untuk hal lain di dunia ini. Karena semuanya sudah kau ambil. Aku mohon jangan menangis lagi." Marchel membantu Sheila bangun dan memeluknya dengan erat.


Sedangkan Sheila menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya itu. Sesekali masih terdengar suara Sheila yang sesegukan.


"Sudah, jangan menangis lagi. Wanita hamil harus menjaga emosinya. Stress bisa mempengaruhi kesehatanmu."


Seketika tangis Sheila terhenti mendengar ucapan Marchel. Ia menatap penuh tanya pada suaminya. "Maksud Kak Marchel?"


"Sepertinya pesanan Michella akan segera hadir. Kau sedang hamil, Sayang!"


Sheila membulatkan matanya mendengar ucapan Marchel. "Kak Marchel tahu dari mana?"


"Aku sangat yakin itu tidak salah, walaupun aku bukan dokter kandungan. Untuk memastikan coba saja tes dengan alat tes kehamilan."


Sheila masih membeku. Ada rasa tak percaya yang menghinggapi hatinya, namun ada pula kebahagiaan yang tak terhingga di sana. Senyum bercampur air mata yang menghiasi wajahnya membuat Marchel kembali memeluknya.


****