Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
MICHELLA


"Nama yang bagus. Aku suka namamu," ucap Sheila seraya mengusap rambut anak itu.


"Nama kakak siapa?" tanya anak itu.


"Nama kita hampir sama. Kakak namanya Sheila..."


"syila?" tanyanya membuat Sheila mengangguk pelan.


Sheila membelai wajah anak berwajah pucat itu, sambil menerbitkan senyumnya. "Berapa usiamu, peri kecil?"


Anak itu menjawab dengan mengangkat kedua telapak tangannya, yang mengartikan usianya sepuluh tahun, dan hal itu berhasil membuat Sheila tertawa. Tentu saja balita seperti Michella belum mengerti soal usia. Bicara saja masih belepotan.


"Sepuluh tahun? haha... Chella ini menggemaskan sekali, ya..." Mencubit gemas wajah tirus anak itu, bagi Sheila mengobrol dengan seorang anak yang masih polos sangat menyenangkan. Terlebih cara bicara Michella yang masih cadel dan belum sempurna pengucapannya, benar-benar menggemaskan bagi Sheila.


"Kenapa wajah Chella sangat pucat. Apa Chella sedang sakit?" tanya Sheila.


"Iya. Ibu Fifi sama om dokter bilang, aku harus minum obat, biar cepat sembuh."


"Memang Chella sakit apa?"


Anak itu menjawab dengan menunjuk dadanya, membuat Sheila mengerutkan alisnya.


"Dada?" Sheila menatap dalam-dalam wajah anak itu.


Apa dia sama sepertiku? Aku juga mengalami penyakit jantung bawaan lahir dan akhirnya dirawat oleh Kak Marchel. Apa Michella juga punya penyakit yang sama? dalam batin Sheila.


"Dadanya Chella sakit?"


Anak itu mengangguk dengan cepat. "Ini-nya sakit!" jawabnya sambil menunjuk dada. Sheila kembali mengusap rambut gadis kecil itu.


Tidak lama kemudian....


"Chella... Ibu cari kemana-mana ternyata di sini." Terdengar suara ibu pengurus panti, Ibu Fifi yang menyela pembicaraan Sheila dan Chella. "Ah... Nona Sheila masih di sini rupanya."


"Iya, Bu. Aku sedang mengobrol dengan Chella. Tapi ngomong-ngomong aku kan sudah bilang, jangan panggil aku Nona, Bu. Panggil Sheila saja."


Wanita itu tersenyum ramah. "Maaf, aku benar-benar tidak enak."


"Tidak apa-apa, Bu," sahut Sheila.


"Chella, ayo masuk. Chella kan belum minum obat." Bu Fifi mengulurkan tangannya, namun anak itu langsung bersembunyi di belakang Sheila, sambil menggeleng pelan.


Sheila mengusap puncak kepala anak itu, kemudian berjongkok di depannya. "Chella... Ikut Ibu Fifi dulu, ya. Nanti kakak kemari lagi bermain dengan Chella. Mau kan?"


Wajah anak itupun berubah sedih, sehingga Sheila langsung memeluknya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya tidak ingin melepas anak itu dari pelukannya. Sheila mengusap rambut anak itu, turun ke punggung.


"Ayo, Chella..." ajak Bu Fifi membuat Sheila melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam-dalam wajah gadis kecil itu.


"Dah Kakak..." ucap Chella dengan wajah sedih. Bahkan rasanya Sheila tidak ingin melepaskan tangan mungil bocah perempuan itu.


"Permisi, Sheila. Chella harus minum obat dulu," ucap Bu Fifi.


Sheila tidak menyahut. Tatapannya begitu terpaku pada wajah Chella. Wanita muda itu menjatuhkan setitik air matanya, menatap punggung Chella yang sudah menjauh. Selama beberapa saat, Sheila masih membeku di sana, mencoba menetralkan perasaannya dan kembali duduk di kursi taman. Wajah Chella terus terbayang di benaknya.


***


_


_


_


_


Salah satu dokter di rumah sakit yang ikut merawatnya memberi nama Michella. Katanya, dokter itu juga baru kehilangan anak perempuannya yang juga lahir bersamaan dengan Michella. Untuk mengenang anaknya, dia memberi nama itu. Chella memiliki riwayat penyakit jantung bawaan lahir. Karena itulah wajahnya sering pucat dan dia harus terus minum obat. Beruntung masih tergolong ringan, kata dokter masih bisa disembuhkan," kenang Ibu Fifi.


Kedua wanita itu sedang mengobrol di ruang tamu. Sheila membeku mendengar penjelasan Ibu Fifi tentang Michella. Entah mengapa, Sheila merasa memiliki ketertarikan dengan anak perempuan itu.


Jadi Chella lahir bersamaan dengan anakku. Dan Kak Marchel yang memberinya nama Michella. Ya, dia menggabungkan namanya dengan namaku. batin Sheila.


"Apa Chella benar-benar tidak punya keluarga lain, Bu?" tanya Sheila pada wanita itu.


Wanita itu tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, "Entahlah! Pihak rumah sudah mencari info, tapi tidak menemukan petunjuk apapun. Ibunya juga tidak memiliki identitas yang jelas. Karena itulah mereka memutuskan membawa Michella ke panti asuhan ini."


"Kasihan sekali anak itu..." ujar Sheila dengan wajah sedih.


Kami punya nasib yang tidak berbeda jauh. Ibuku juga meninggal saat melahirkanku. Tapi aku beruntung memiliki Kak Shanum. Dan Chella juga masih beruntung memiliki Ibu Fifi. Sepertinya Bu Fifi sangat menyayangi Chella. ucap Sheila dalam hati.


"Iya itu benar, aku juga sangat kasihan padanya... Dia juga anak yang sedikit pemalu. Aku benar-benar terkesan, dia mau bicara denganmu. Biasanya dia tidak mau bicara dengan orang yang baru pertama kali bertemu."


"Benarkah?" Sheila terlihat sangat antusias membicarakan anak itu.


Ibu Fifi mengangguk pelan, "Dia anak yang tertutup dan suka menyendiri. Karena itulah dia sering dapat ejekan dari anak lain." Wanita itu menghela napas panjang. "Tapi anak itu sangat luar biasa. Dia membangun dunianya sendiri."


"Aku bisa melihatnya. Em... Bu, apa aku boleh melihatnya sebelum aku pergi?" tanya Sheila.


"Tentu saja. Tapi dia sedang tidur."


"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya mau melihatnya saja. Aku tidak akan mengganggunya."


"Baiklah..."


Mereka kemudian menuju sebuah kamar, dimana Chella sedang tertidur pulas. Setelah meminum obatnya, bocah kecil itu akan tertidur. Sheila melepas sepatunya sebelum memasuki kamar itu, agar suara hentakan kakinya tidak terdengar.


Pelan-pelan mendekat ke arah tempat tidur bersusun itu dan bertutut di sisinya. Sheila terus-menerus memandangi wajah Chella tanpa merasa bosan. Membelai rambut dan mengecupi keningnya.


Setelah itu, keluar lagi saat merasa cukup puas memandangi anak itu.


"Terima kasih, Bu... Sudah mengizinkanku melihat Chella. Kalau Ibu dan Chella butuh sesuatu, segera hubungi aku."


"Terima kasih banyak, Sheila. Kau sangat baik."


"Aku senang kalau bisa membantu. Entahlah, tapi aku merasa sangat menyukai Chella."


Aku menyukainya mungkin karena masa kecilku sama dengannya, aku seperti sedang bercermin saat melihatnya. Atau aku hanya tertarik padanya karena namanya Michella. batin Sheila.


"Baiklah, Bu... Aku harus pergi, ini sudah sore. Ayah dan Kak Rey akan mencariku kalau aku tidak ada di rumah di jam seperti ini," ucap Sheila.


"Ayah?" wanita itu terlihat bingung.


"Iya... Maksudku Pak Arman... Aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri."


"ooh... Pak Arman itu memang orang yang sangat baik. Hanya dia yang sering mengunjungi panti asuhan ini. Pak Herdian dan anaknya tidak pernah kemari."


****


Sheila menaiki sebuah mobil yang terparkir di depan panti asuhan itu. Tampak beberapa pria berseragam hitam mengawalnya. Rayhan dan Pak Arman membuat penjagaan yang ketat untuk Sheila setelah kepulangannya dari Jerman.


Sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada seorang anak bernama Michella.


****


BERSAMBUNG