Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Hasil Penantian Panjang


Pesta berlanjut dengan hiburan beberapa penyanyi papan atas yang bergantian naik ke panggung.


Sheila dan Marchel masih menyalami beberapa tamu yang berdatangan memberi ucapan selamat. Terlihat wajah Sheila yang sudah mulai lelah setelah beberapa jam berdiri. Wajahnya yang tadi berseri-seri sudah mulai memucat. Bahkan beberapa kali wanita itu terlihat mengusap wajahnya.


"Kau sudah lelah, ya?" Marchel menggenggam tangan istrinya itu.


"Sedikit. Kakiku sakit."


"Kalau begitu duduklah, atau lepas saja sepatumu."


Sepertinya pesta itu tidak akan berlalu dengan cepat. Karena para tamu masih terlihat memenuhi ruangan itu. Dan menjadi semakin riuh saat sesi pengundian doorprize. Mereka begitu bersemangat ingin tahu siapa yang akan beruntung malam itu.


Bukan hanya Sheila. Si kecil Michella pun sudah terlihat mengantuk. Gadis kecil itu mendekat pada sang ayah yang sedang duduk berdua dengan bundanya.


"Ayah, mau pulang." Gadis kecil itu menguap, menandakan ia sudah lelah dan mengantuk.


Marchel membawa Chella ke pangkuannya, sambil mengusap punggung gadis kecilnya itu. Sesuatu yang sering dilakukannya sejak dulu. "Sebentar lagi, ya... Atau mau pulang sama Oma dulu? Nanti ayah sama bunda pulangnya."


"Tidak mau. Mau pulang sama Ayah Bunda..."


"Ya sudah tunggu sebentar lagi ya," ujarnya diikuti anggukan oleh Chella.


"Bunda, nanti Bunda pulang ke rumah ayah juga kan?" Chella kecil hendak memastikan bahwa sang bunda akan ikut pulang ke rumah ayahnya, mengingat sebulan belakangan ia menginap di rumah orang tuanya secara bergantian. Gadis polos itu ingin bersama kedua orang tuanya seperti saat dirawat di rumah sakit.


"Iya. Nanti Bunda juga pulang ke rumah ayah."


Chella turun dari pangkuan ayahnya dan melompat kegirangan. Marchel yang sangat ketat menjaga putri kecilnya itu pun dibuat cemas tidak karuan. Chella sama sekali belum boleh beraktivitas berlebihan. Lelah sedikit saja napasnya akan terasa sesak. Marchel segera meraih tubuh Chella dan mendudukkannya di tengah.


"Bukankah malam ini kita akan menginap di hotel?" bisik Marchel di telinga Sheila.


"Di hotel? Tidak usah. Bagaimana dengan Chella kalau kita menginap di hotel?"


"Chella kan pulang bersama ibu."


"Kalau Chella menangis bagaimana?"


Marchel menghela napas panjang. Jika mereka menginap di rumah tentunya tidak akan bisa berduaan saja dengan sang istri. Karena Chella pasti akan hadir di antara mereka.


"Aku akan membujuk Chella supaya mau pulang bersama ibu. Jadi malam ini kita akan menginap di hotel," ucap Marchel dengan seringai menyeramkan bagi Sheila. Wanita itu sudah bisa menebak, apa maksud dan tujuan suaminya itu.


"Coba saja kalau bisa. Chella tidak akan mau."


_______________


Pesta yang meriah telah usai. Benar-benar malam yang membahagiakan dimana ribuan orang telah mendoakan kebahagiaan sepasang suami istri itu. Rasanya seperti mimpi bagi seorang gadis yang dulunya culun seperti Sheila mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. Bahwa pernikahan yang diimpikannya terwujud bersama seseorang yang dicintainya. Marchel adalah segalanya baginya.


Dan bagi Marchel, penantiannya menunggu selama empat tahun tidak sia-sia. Semuanya terbayar dengan sempurna malam itu. Memiliki Sheila adalah sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.


Dengan raut wajah mendatar, Marchel menaiki sebuah mobil yang terparkir di depan gedung itu, berbeda dengan Sheila yang sejak tadi tersenyum bahagia. Bahkan Chella tidak pernah menjauh dari mereka. Rencana menghabiskan malam berdua saja dengan sang istri sepertinya akan gagal, karena Michella tidak mau jauh dari mereka.


Menyerah, Marchel akhirnya setuju untuk pulang ke rumah saja. Padahal sudah ada sebuah kamar hotel yang dihias seromantis mungkin untuk menghabiskan malam keduanya.


Mereka tiba di rumah.


Sheila menatap bangunan itu dengan mata berkaca-kaca. Teringat pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah itu, ketika ia disambut dengan tatapan kebencian oleh sang mertua. Marchel melingkarkan tangan di bahu sang istri, dengan senyumnya yang menawan. Laki-laki itu dapat menebak, apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.


"Kita akan memulai semuanya dari awal lagi. Di rumah ini, kita akan membuat kenangan baru."


Masih dengan jubah mandi, Sheila berdiri di depan lemari. Baru saja akan berganti pakaian, ketika sosok tangan kekar melingkar di perutnya. Tubuhnya tiba-tiba gemetar hebat ketika hembusan napas Marchel menyapu daun telinganya.


"Ka-kak Marchel... A-aku belum selesai ganti baju..." ucapnya terbata-bata.


"untuk apa ganti baju? Nanti juga terlepas," bisiknya membuat bulu kuduk Sheila terasa merinding.


Marchel membalikkan tubuh Sheila sehingga kini berhadapan dengannya. Ada tatapan penuh cinta di sana, membuat keduanya begitu terhanyut.


Tanpa menunggu lagi, Marchel menggendong sang istri, dan membaringkannya di tempat tidur. Membelai wajah yang baginya memiliki kecantikan sempurna itu. Satu kecupan sayang mendarat mulus di kening. Dalam dan lama, kecupan yang mampu mengalirkan seluruh perasaan cintanya. Sheila hanya dapat memejamkan mata, meremass kemeja putih yang dikenakan Marchel saking gugupnya.



_


_


_


Setelah beberapa saat Marchel melepaskan bibirnya yang menyatu dengan kening Sheila. Menatap dalam-dalam mata indah itu.


"Maukah kau memulai segala dari awal bersamaku malam ini?" tanya Marchel. Wajah Sheila pun merona malu.


"Aku..."


"Tidak usah jawab. Aku tahu kau pasti malu kan."


Sheila mengangguk pelan, namun belaian tangan Marchel yang bermain di wajahnya membuat semakin gemetaran. Laki-laki itu baru saja akan mulai mengecup bibir sang istri ketika terdengar suara ketukan pintu diiringi panggilan ayah dan bunda sambil terisak. Sepertinya si kecil terbangun dari tidurnya, sehingga membuat kegiatan penting itu terhenti. Sheila segera menahan Marchel, dengan seulas senyum tipis.


Kedua orang itu pun menoleh ke arah pintu.



"Kak Marchel, itu Chella. Dia pasti takut tidur sendiri."


"Ya ampun..." Marchel sudah terlihat mulai frustrasi.


"Ayah... Bunda..." Terdengar lagi suara memanggil, sehingga Sheila segera mendorong Marchel. Bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu.


"Chella kenapa, Sayang?" berjongkok di depan gadis kecilnya itu.


"Chella takut tidur sendiri, Bunda!"


"Ayah sama Bunda temani di kamar Chella ya..." Marchel segera menggendong Chella menuju kamarnya yang tepat disebelah kamar mereka, diikuti Sheila yang mengekor di belakang Marchel.


Akhirnya malam itu, mereka menemani si kecil di kamarnya. Marchel mengusap punggung gadis kecil itu hingga tertidur.


"Bersiaplah, setelah ini giliranmu," ucapnya seraya mengecup punggung tangan sang istri. "Aku duluan ke kamar. Pastikan Chella benar-benar tidur nyenyak dulu ya..."


Marchel sudah kembali lebih dulu ke kamar. Sedangkan Sheila masih menemani Chella. Ia masih menggenggam erat tangan bundanya, menandakan gadis mungil itu belum tidur nyenyak.


***


Apakah akan gagal???😂


Note \= VISUAL INI AKAN DIHAPUS DALAM 24JAM