
Kau hanya perlu memancingnya sedikit. Begitu dia masuk perangkap, dia akan agresif sendiri. Dan kau tinggal menikmati hasilnya. bisikan Willy kembali terngiang.
Marchel berbaring membelakangi Sheila dan menyembunyikan seringai kepuasannya. Menghitung dalam hati detik demi detik berharap mendengar panggilan manja dari makhluk yang berada di belakangnya. Jangan ditanya raut wajah Sheila yang sudah bagaikan gunung Merapi yang siap memuntahkan laharnya. Kesal setengah mati, ketika sedang menginginkan namun harus menggantung.
Wanita muda itu menggeser posisinya sehingga tubuhnya menempel di punggung suaminya itu, melingkarkan tangannya di perut Marchel.
"Kak Marchel..." panggilnya dengan suara berbisik.
"Hemm..." Menyahut dengan deheman seperti saat Sheila enggan menyahut panggilannya. Seperti sedang membalas dendam.
"Kak Marchel..." Kali ini panggilan Sheila terdengar sangat sensual di telinga Marchel. Namun laki-laki itu masih tak bergeming.
Senyum kemenangan terbit di wajah tampannya. Seakan telah mengalahkan seisi dunia. Namun, Marchel masih enggan menyahut.
"Kak Marchel..." Terdengar suara yang sangat manja dan benar-benar menggoda. Mendengar itu saja rasanya Marchel sudah tidak tahan untuk segera melahap istrinya yang menggemaskan itu.
Tahan Marchel, tahaannn!!!! Biarkan dia memohon lebih padamu. Seolah Marchel dapat mendengar suara si playboy Willy.
Hingga tangan kecil Sheila mulai masuk ke dalam piyama Marchel dan mengusap dadanya dengan lembut. Dan hal itu berhasil meruntuhkan pertahanan yang susah payah dibangun oleh laki-laki itu. Ia berbalik, menatap dalam-dalam wajah sang istri yang sudah memerah bagai udang rebus.
"Apa Sayang?" Masih berpura-pura bertanya, padahal dirinya paham betul apa yang diinginkan oleh sang istri. Marchel mengusap punggung Sheila, kemudian menyentuh beberapa daerah sensitif yang diberitahukan Willy padanya. Sheila begitu menikmati sentuhan itu, dan terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
Sesaat kemudian, saat Sheila kembali terbuai, Marchel yang menyebalkan kembali menghentikan aksinya.
"Kak Marchel..." Sheila merengek seakan meminta lebih.
"Apa Sayang..."
Karena kesal, Sheila akhirnya melepas seluruh perasaan malunya, melingkarkan tangannya di leher suaminya itu dan menabrakkan bibirnya di bibir merah sang suami.
Selama beberapa saat, kedua bibir itu saling bertaut. Sheila dan Marchel seolah tidak peduli hal lain lagi. Mereka larut dalam indahnya kebersamaan mereka malam itu.
"Mau?" tanya Marchel sesaat setelah melepas ciuman mesranya, membuat Sheila menunduk malu. "Kalau tidak mau tidur saja." Marchel menarik selimut hingga batas dada, sehingga Sheila gelagapan.
"Aku mau..." Dengan sangat terpaksa, Sheila mengutarakan keinginannya. Sementara Marchel menyembunyikan senyum kepuasannya.
"Kau yang mau, ya... Bukan aku yang meminta. Kalau sakit jangan salahkan aku!" Marchel berpura-pura terlihat biasa saja, padahal yang sebenarnya, dirinya lebih menginginkan. Ia tidak dapat lagi menahan gejolak dalam dirinya.
"Kak Marchel lama!" Sheila memberanikan diri membuka satu persatu kancing piyama Marchel, sesekali memberi kecupan di wajah suaminya itu.
Ternyata ide gila Willy berhasil juga. Tidak percuma aku punya seorang teman Brengsekk sepertinya. Aku harus berterima kasih padanya. batin Marchel.
Tanpa aba-aba, laki-laki itu menyerang sang istri. Menikmati malam ketiganya dengan manis.
Tidak seperti malam pertama dan kedua yang didominasi oleh Marchel, malam ketiga ini sepertinya seimbang. Kedua orang itu saling memanjakan satu sama lain.
Aroma lavender dari lilin aromaterapi yang menguar ke setiap sudut ruangan itu menambah semangat bagi keduanya. Sheila menghujani Marchel dengan kecupan-kecupan manis, menyentuh tubuh kekar itu dimana-mana.
Kini pedang samurai milik Marchel kembali menunjukkan taringnya. Menyerang dengan penuh kelembutan, sehingga korban serangannya tak berkutik sama sekali.
****
"Selamat pagi, Sayang... Bagaimana tidurmu, nyenyak?" ucap Marchel sesaat setelah Sheila membuka matanya.
Sejak tadi laki-laki itu telah terbangun, namun begitu betah memandangi wajah sang istri yang tertidur pulas setelah kelelahan dengan aktivitas malam mereka.
Wajah wanita muda itu memerah malu, mengingat kelakuannya semalam yang meminta duluan pada sang suami. Tanpa disadarinya bahwa semua itu hanyalah perangkap dari Marchel.
"Bagaimana? Apa masih sakit?"
"Kak Marchel..." Sheila mulai gemas dengan Marchel yang terus menggodanya. Sementara Marchel tersenyum puas. Melalui Willy, dirinya mulai mengerti tentang wanita.
****#