
Pagi menjelang. Mentari seakan masih malu-malu menampakkan sinarnya. Di dalam sebuah kamar, tiga anak manusia masih terlelap dengan berbagi tempat tidur dan selimut yang sama.
Semalam, Sheila membuat beberapa petugas di rumah sakit miliknya itu kerepotan, meminta mengganti tempat tidur di kamar itu dengan ukuran yang lebih besar. Michella kecil, tidak membiarkan ayah dan bundanya beranjak sedikitpun dari sisinya. Gadis kecil itu akan menangis jika tidak melihat salah satu dari orang tuanya. Bahkan Chella tidak mau tidur jika tidak bersama mereka. Sehingga mau tidak mau, tempat tidur yang tersedia harus diganti.
Chella masih tertidur dengan menjadikan lengan kiri sang ayah sebagai bantal. Tangannya menggenggam tangan Sheila agar tidak meninggalkannya saat tertidur, seperti yang selama ini terjadi, saat mereka meninggalkannya jika telah terlelap. Sepertinya gadis mungil itulah yang akan menyatukan kembali kedua orang tuanya yang sedang dalam proses perceraian itu.
Perlahan Sheila membuka matanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela terasa menyilaukan. Wanita itu menatap suami dan anaknya yang masih tertidur pulas. Ia meletakkan telapak tangannya di kening Marchel, hendak memastikan suhu tubuhnya. Sejak semalam Marchel mengalami demam tinggi, akibat bekas luka tembakan yang terasa berdenyut sepanjang malam.
Masih demam, ya...
Seketika wajah Sheila merona merah ketika tangan Marchel menyentuh tangannya yang masih berada di kening.
"Kau sangat mengkhawatirkanku, ya?" tanya Marchel tanpa membuka kelopak matanya. Sheila berusaha menarik tangannya, namun pria itu enggan melepasnya.
"Lepaskan tanganku, Kak!" bisik Sheila, tidak ingin anaknya terbangun.
"Biarkan begini dulu. Aku merasa tanganmu seperti koyo. Demamku pasti cepat turun kalau kalau tanganmu ada di sana terus."
"Lepaskan!" Sheila menarik tangannya dengan keras, sehingga terlepas. Membuat Marchel membuka matanya. Tatapan Marchel membuat Sheila salah tingkah.
"Kau masih sama seperti Sheila empat tahun lalu. Cantik saat baru terbangun," ujar Marchel menambah rona merah di wajah Sheila.
"Hentikan! Aku bukan Sheila yang dulu."
"Bagiku sama saja. Kau tetap istriku yang polos."
Sheila terdiam beberapa saat. Mengingat perceraian mereka yang sudah mulai diproses. "Bukankah sebentar lagi kita akan bercerai? Aku sudah melayangkan gugatan ke pengadilan."
Ucapan Sheila menorehkan sembilu di hati Marchel. Pria itu tidak akan rela jika sampai harus kehilangan istrinya lagi. "Tidak adakah kesempatan untukku? Sheila, aku mencintaimu. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya. Aku tahu kesalahanku terlalu besar. Apa tidak ada kesempatan untuk aku menebus kesalahanku?"
"Aku tidak tahu, Kak! Sekarang bagiku yang terpenting adalah Chella."
"Iya. Kau benar. Tapi Michella tidak mau kita berpisah. Dia ingin ayah dan ibunya bersama." Marchel menghapus air mata yang mengalir di wajah Sheila. "Aku tidak akan memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu."
Sheila menatap wajah polos Chella dengan senyum tipis. Satu kecupan sayang mendarat di kening gadis kecil itu, sebelum beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Marchel kembali memejamkan matanya. Satu tangannya melingkar di tubuh putri kecilnya itu.
Baru beberapa detik Marchel tertidur kembali, Chella sudah mulai terbangun.
"Bunda..." panggil Chella ketika merasakan tangan sang ibu terlepas dari genggamannya. Bahkan mata gadis itu masih tertutup, namun tangan kecilnyanya meraba kesana-kemari mencari sosok ibunya. Dan mulailah terdengar tangisan kecil yang membuat ayahnya terbangun.
Seperti biasa, Marchel akan mengusap-usap punggung Chella jika terbangun dan menangis. Ia mengecup pucuk kepala anaknya itu, sambil berusaha menenangkannya.
"Bundaa..."
"Bundanya di kamar mandi, Nak. Kan ada ayah di sini," ucap Marchel.
"Mau bunda..."
"Iya sebentar, Sayang... Mau ayah gendong?" tawar Marchel.
"Tidak mau. Chella mau bunda." tangisan kecil mulai terdengar, sehingga Sheila segera keluar dari kamar mandi. Menghampiri anaknya itu dan mencoba menenangkannya.
Pagi itu pun dihabiskan dengan berbaring di tempat tidur bertiga, karena Michella kecil benar-benar tidak mengizinkan bunda atau ayahnya meninggalkannya barang sedetik saja. Ia meminta sang ayah mendongeng seperti biasa saat mengunjunginya ke panti asuhan.
Sheila yang melihat kelembutan Marchel dalam menghadapi gadis kecilnya tiba-tiba teringat masa lalu. Saat pertama kalinya bertemu Marchel sebagai seorang pasien. Marchel adalah satu-satunya dokter yang tidak membuat Sheila takut. Justru Marchel membangkitkan semangat gadis remaja yang saat itu masih berusia lima belas tahun untuk melawan sakitnya. Dan sungguh tak disangka bahwa takdir akan menyatukan keduanya dalam ikatan pernikahan, hingga hadirlah seorang malaikat kecil di antara mereka. Dan, walaupun terpisah selama empat tahun, nyatanya semesta kembali mempertemukan mereka.
Adakah jalan bahagia untuk Sheila dan Marchel? Ataukah si kecil Michella yang akan menjadi jembatan bagi dua insan yang sejatinya saling mencintai itu untuk kembali bersama?
*****
****
BERSAMBUNG
Poasss??? Poasss kalian?? Membuat akohhh merubah panggilan ibu menjadi bunda 😂😂