
"Sheila, apa yang terjadi? Rayhan bilang Marchel tertembak," tanya Willy.
"Iya, Kak. Tapi hanya di lengan kanan saja. Dokter bilang itu tidak berbahaya," jawab Sheila membuat Willy mengusap dadanya. Merasa lega sahabatnya itu tidak apa-apa.
"Syukurlah," timpal Willy. "Tapi..."
Raut wajah Willy seketika menegang. Entah bagaimana cara memberitahu Sheila tentang keadaan Chella yang kini sedang berada di ruang perawatan anak. Sheila yang melihat raut kekhawatiran yang tergambar di wajah Willy pun dibuat bertanya-tanya.
"Ada apa, Kak?"
"Sheila... sebenarnya sejak tadi aku berusaha menghubungi kalian. Pak Arman bilang kau hilang, dan Marchel pergi mencarimu bersama Rayhan."
"Memangnya ada apa, Kak?" tanya Sheila bingung.
"Michella..."
"Michella, anakku... ada apa dengannya? Dia tidak apa-apa kan?" Bola mata Sheila mulai berkaca-kaca, merasa khawatir pada anaknya itu.
"Dia..." Willy menggantung ucapannya ketika melihat Marchel keluar dari sebuah ruangan dengan memegangi lengan kanannya. Para Dokter baru saja berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kanannya. Sheila dan Willy langsung mendekat pada Marchel.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Willy.
Marchel tersenyum tipis, menatap Sheila dan Willy bergantian. "Aku tidak-apa. Sheila, ayo kita ke rumah! Michella pasti sudah mencari kita."
"Michella ada di rumah sakit ini," ujar Willy menghentikan langkah kaki Marchel dan Sheila.
"Apa? Anakku ada di rumah sakit ini?" Marchel menatap Willy dengan raut wajah dipenuhi tanda tanya.
"Ibu bilang, dia tadi terbangun dari tidurnya dan terus menangis mencarimu. Dia terus menangis sampai sesak dan tidak sadarkan diri. Karena itulah, ibu buru-buru membawanya ke rumah sakit. Dia sedang ditangani Dokter Irene."
Seketika tubuh Sheila gemetaran mendengar ucapan Willy, sendi-sendinya terasa lemas, dan air mata pun jatuh begitu saja. "Chella..."
Marchel yang melihat Sheila memucat langsung merangkul dan berusaha menenangkannya. "Tenanglah Sheila... Chella sudah biasa mengalami ini. Dia akan baik-baik saja."
***
Sheila menghentikan langkah kakinya ketika telah berada di depan sebuah ruangan. Ia menyeka air matanya yang berjatuhan. Rasanya masih belum percaya jika Michella, anak perempuan menggemaskan yang selama ini menarik perhatiannya ternyata adalah putri kandungnya. Kepolosan seorang malaikat kecil yang selalu memanggilnya kakak cantik benar-benar mencuri hatinya.
Samar-samar terdengar suara tangisan seorang anak dari dalam ruangan itu. Sepertinya Chella telah terbangun. Kebiasaan gadis kecil itu sejak lama adalah menangis saat baru terbangun dan tidak menemukan seseorang yang dikenalnya berada di sisinya.
"Kalian masuklah! Ibu juga ada di dalam. Sepertinya Chella baru saja terbangun," ucap Willy menepuk bahu Marchel.
Pintu terbuka... tampak ibu sedang menggendong Michella yang sedang menangis, ia sedang berusaha menenangkan cucunya itu. Sheila menatap Chella dengan berderai air mata. Hatinya terasa diremas melihat anaknya menangis tiada henti dengan infus yang terpasang di tangannya.
Dan saat menoleh, ibu melihat Marchel dan Sheila berada di ambang pintu.
"Chella Sayang... Itu ayah dan ibu sudah datang," ucap ibu seraya mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.
Dengan tubuh lemahnya, Chella menoleh pada sosok ayah yang sejak tadi dicarinya. Tangis gadis kecil itu pun seketika terhenti ketika melihat Marchel berjalan ke arahnya. Sementara Sheila masih membeku di tempatnya berdiri.
"Ayah..." panggilnya dengan suara yang begitu lemah dan masih terdengar sesegukan.
"Kemari, Nak! Kenapa Chella menangis? Ayah kan sudah bilang hanya menjemput ibu." Dengan tangan kirinya, Marchel meraih tubuh kecil Chella dengan sangat berhati-hati agar selang infusnya tidak ikut tertarik. Ibu pun terlihat terkejut melihat bercak darah di lengan kemeja Marchel.
"Ada apa, Marchel? Kenapa lenganmu berdarah?" tanya ibu khawatir.
"Tidak apa-apa, Bu! Hanya insiden kecil," jawabnya seraya mengusap punggung putri kecilnya. Sesekali terlihat Marchel yang masih meringis menahan sakit di lengannya. Sementara ibu menundukkan kepalanya, menghapus air mata yang mengalir, saat menoleh pada Sheila.
"Chella, lihat Nak! Itu ibunya Chella," ucap Marchel.
****
Bersambung