
Ye Joon masuk ke dalam mobil dengan membanting pintunya cukup keras. Hal itu tentu didengar oleh Ae ri secara langsung. Wanita itu bahkan sampai memejamkan matanya tak percaya.
Ternyata sikap suaminya semakin menjadi. Namun, dia tak bisa melakukan apapun. Semua perjanjian itu membuatnya harus banyak mengusap dada. Dia tak boleh ikut campur dan hara mendoktrin itu dalam pikirannya.
Akhirnya Ae ri memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia ingin membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Lelah dengan semua yang terjadi padanya beberapa hari ini.
Ae ri lekas berbalik. Namun, bersamaan dengan itu dia melihat Pak Yin berdiri jarak beberapa langkah dengan dirinya.
"Maaf mengejutkan Anda, Nyonya, " Kata Pak Yin menunduk.
"Jangan panggil saya seperti itu, Pak Yin. Panggil saya Ae ri, itu sudah cukup, " Ujarnya dengan ramah.
"Maaf, Nyonya. Peraturan disini harus kami turuti atau Tuan Ye Joon akan marah, " Ujar Pak Yin yang membuat Ae ri harus tertekan dengan peraturan di rumah ini yang belum dia tahu.
"Baiklah, " Sahut Ae ri tak bisa memaksa.
"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya? Anda ingin sesuatu? "
Ae ri terdiam. Kenapa dia harus berbaring dan menghabiskan waktunya tanpa kegiatan. Lebih baik dirinya berkeliling di rumah besar ini yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun ke depan.
"Bolehkah Pak Yin menemaniku berkeliling? " Pinta Ae ri dengan tersenyum. "Saya ingin melihat semua bangunan disini. "
Pak Yin mengangguk.
"Boleh. Anda ingin melihat dari mana? Ada empat bangunan, Nyonya. Rumah utama, rumah depan untuk keluarga, lalu rumah belakang untuk para pelayan dan rumah samping. "
"Dari rumah depan, " Ujar Ae ri yang langsung membuat langkah kaki Pak Yin melangkah.
Entah dia akan dibawa kemana. Namun, tak lama Pak Yin membuka sebuah ruangan dan terlihat beberapa alat yang sangat familiar di matanya.
"Hoverboard? "
"Benar, Nyonya. Tak mungkin Anda akan berjalan kaki seperti ini. Jarak antara rumah depan, rumah utama, samping dan belakang sangat jauh. Jadi memakai hoverboard akan membuat kita lebih cepat dan tak terlalu lelah, " Kata Pak Yin lalu mengeluarkan dua hoverboard itu dari ruangan.
Ae ri yakin alat ini sering digunakan untuk semua orang. Melihat banyaknya hoverboard yang dimiliki oleh Ye Joon membuat Ae ri yakin keluarga suaminya itu sering kesini.
"Maaf sebelumnya, Nyonya. Anda bisa menaikinya? " Tanya Pak Yin dengan sangat sopan.
Jujur Ae ri sangat amat segan pada Pak Yin. Pria paruh baya itu begitu sopan padanya.
"Ya, Pak Yin. Saya bisa, " Ujar Ae ri dengan mengangguk.
Akhirnya kedua orang itu mulai naik dan segera melaju melewati pembatas seperti jalan antara rumah utama ke rumah depan.
Ae ri benar-benar dibuat takjub oleh pemandangan yang ada. Pembatas antara rumah utama dan rumah depan sebuah jalan yang di bawahnya terlihat sebuah kolam panjang berisi ikan.
"Rumah depan dipenuhi banyak ruang kamar dan ruang keluarga yang besar. Disini juga ada ruang bermain anak-anak yang besar, Nyonya. "
Pak Yin membukakan sebuah pintu dan terlihat ruang keluarga dengan view taman di belakangnya dan jangan lupakan kaca besar untuk pembatas antara rumah keluarga dan pemandangan di luar.
Belum lagi, sebuah layar tivi yang besar dan tempat duduk panjang serta karpet tebal membuat siapapun pasti akan betah ada disini.
"Biasanya keluarga Tuan akan berkumpul untuk menghabiskan waktu libur dan menonton bersama disini. "
Ae ri mengangguk. Mereka berpindah ke tempat lain lagi. Semua rumah depan di susuri dan kini mereka pindah ke rumah samping.
"Ini? "
"Ya, Nyonya. Ini ruang latihan musik. Ada alat musik, ada studio seperti rekaman dan beberapa alat DJ. Tempat ini biasanya khusus dibuat oleh Tuan untuk Non… " Jeda Pak Yin yang baru menyadari sesuatu.
"Non siapa? " Tanya Ae ri penasaran.
Bukankah suaminya itu tak memiliki seorang adik. Lalu Non siapa yang dimaksud.
"Maksud saya, untuk Tuan menghibur dirinya, Nyonya. "
Rumah samping benar-benar membuatnya terkejut. Banyak ruangan yang membuat rumah ini sangat amat lengkap.
Ruang Gym, ruang latihan musik, ruang untuk memijat dan spa. Masih banyak lagi yang membuat Ae ri geleng-geleng kepala.
Suaminya benar-benar tajir melintir dan membuat Ae ri benar-benar takjub. Perempuan itu tak bisa mengatakan apapun lagi seakan semua yang ia lihat mampu membungkam dirinya.
***
Sedangkan di tempat lain. Terlihat seorang pria berdiri di balik pintu sebuah apartemen. Dirinya sejak tadi entah sudah berapa lama berdiri disini. Memencet bel dengan sabar dan mengetuk pintu itu bergantian.
"Buka, Sayang, " Kata Ye Joon dengan suaranya yang pelan.
Dia merindukan wanitanya. Dia mencintai Yuna dan membuatnya pergi kesini.
"Yuna, " Panggil Ye Joon lagi dengan putus asa.
Pria itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia tak bisa membujuk kekasihnya jika sudah begini. Yuna sama sepertinya. Keras kepala dan tipikal orang diam jika sedang marah.
Saat Ye Joon hendak melangkah pergi. Sebuah suara pintu yang dibuka membuat pria itu menghentikan langkahnya. Dia menatap ke arah pintu dan muncullah sosok wanita yang sangat ditunggu kehadirannya.
"Sayang, " Panggil Ye Joon dengan tersenyum.
Yuna menatap pria itu. Kedua mata wanita itu terlihat sembab dan menghitam. Hal itu tentu membuat Ye Joon sadar jika yang dilakukannya sangat menyakiti kekasihnya itu.
"Maafkan aku, " Kata Ye Joon lalu memeluk tubuh Yuna dengan erat.
Perempuan itu tak marah. Yuna tak berontak. Dia malah membalas pelukan Ye Joon dan menghirup aroma tubuh kekasihnya yang selalu menenangkan dirinya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku menyakitimu, " Kata Ye Joon dengan penuh penyesalan.
Yuna menangis. Dia merasa kenapa akhir cinta mereka harus seperti ini. Tak ada orang jahat disini karena bagaimanapun Yuna dan Ye Joon sama-sama saling mencintai.
Hanya saja dunia sedang tak adil untuk mereka. Restu orang tua tak didapat dan membuat satu sama lain harus sadar. Sadar bahwa cinta mereka tak boleh bersatu.
"Ayo masuk! " Ajak Ye Joon pada Yuna.
Dia tak mau kekasihnya menangis dan dilihat semua orang. Apalagi hubungan mereka kali ini juga sangat mengancam Ye Joon jika ada mata mata ayahnya yang mengikutinya.
"Kau sudah menikahinya? " Tanya Yuna yang ada di dekapan Ye Joon.
"Iya, Sayang, " Sahut Ye Joon dengan pelan. "Tapi cintaku padamu jauh lebih besar daripada pernikahan itu. "
"Hatiku sudah milikmu dan aku tak mau kau pergi dariku, " Tambah Ye Joon yang membuat Yuna mengangkat kepalanya.
Dia melepaskan pelukan itu. Pasangan kekasih itu saling menatap dengan lekat.
"Aku tak mau hubungan kita berakhir, " Ujar Yuna yang membuat bibir Ye Joon melengkung ke atas. "Aku mencintaimu dan tak mau berbagi dengan wanita itu. "
Ye Joon mengangguk dengan tegas. "Pernikahan ini hanya kontrak, Sayang. Hanya satu tahun setelah itu aku akan menceraikannya. "
"Kamu serius, 'kan? " Tanya Yuna memastikan.
"Ya. Pegang janjiku. Setelah itu kita akan menikah dan semua warisan Appa sudah jatuh padaku! "
Yuna mengangguk. Dia lekas memeluk Ye Joon dengan wajah bahagianya.
"Aku mencintaimu, Sayang, " Kata Yuna dengan begitu pelan.
"Sampai kapanpun aku tak akan melepaskanmu. Ye Joon hanya milik Yuna! " Kata wanita itu dalam hati dengan mata tajam dan pikiran mulai membayangkan sosok wanita yang menjadi istri kekasihnya itu.
"Aku juga mencintaimu. "
~Bersambung