Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
World Tour Ae ri


"Kamu kemana saja, Noona?" Tanya Hyun Ki pada Ae ri yang baru saja datang dan meletakkan tasnya.


"Maafkan aku. Appa sakit dan ya aku harus merawatnya," Kata Ae ri dengan pelan.


Bagaimanapun pernikahan ini tak ada yang tahu. Bagaimanapun pernikahan mereka sangat amat dirahasiakan. Tak ada yang mengetahui kecuali keluarga kedua belah pihak.


"Bagaimana kabar paman sekarang?" Tanya Hyun Ki sambil duduk di samping Ae ri.


"Appa baik-baik saja. Keadaannya membaik," Jawab Ae ri lalu menoleh ke arah Seri, asistennya yang datang mendekatinya.


"Apa jadwal ku sudah keluar, Seri?" Tanya Ae ri yang membuat Seri menganggukkan kepalanya.


"Sudah, Eonni," Jawab Seri lalu menyerahkan tablet yang sejak tadi ada tangannya.


Ae ri menerimanya. Dia melihat dan membaca jadwalnya selama sebulan ke depan. Matanya menatap ke arah tulisan yang sudah tertulis rapi di sana.


"Kau yakin, Hyun Ki?" Tanya Ae ri menoleh. "Kenapa kau tak bilang padaku jika kita akan mengadakan world tour?"


Hyun Ki berdehem. Dia menyandarkan punggungnya di sofa dan mencoba mengalihkan tatapannya seakan dirinya ketahuan dan tertangkap basah.


"Aku serius! Katakan padaku!"


"Oke oke!" Hyun Ki menatap Ae ri yang begitu serius. "Maafkan aku. World Tour ini memang diminta untukmu. Semuanya sudah dijadwalkan dan ya, kau tak bisa menolak!"


"Apa!" Ae ri terkejut bukan main. "Kenapa aku tak bisa menolak?"


"Karena jadwal world Tour kamu tahun kemarin sukses besar dan ya, atasan kita memintamu melakukan world Tour kembali," Kata Hyun Ki yang membuat Ae ri menarik nafasnya begitu dalam.


Dia tak bisa menolak. Ae ri tak bisa mengatakan apapun. Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Dia harus sangat profesional dan membuatnya mau tak mau. Suka tak suka, Ae ri menerimanya dengan baik.


Jujur pikirannya tertuju pada kondisi appanya. Dia selalu ingin di dekat appanya. Namun, keadaan ini, pekerjaan ini adalah kesenangan dirinya juga.


"Eonni," Panggil Seri yang membuat lamunan Ae ri buyar. "Eonni baik-baik aja kan?"


Ae ri tak menjawab. Dia melirik ke samping dan Hyun Ki sudah tak ada disana. Ae ri hanya mampu menarik nafasnya begitu dalam. Dia benar-benar frustasi sekarang.


Bukan hanya izin pada appanya melainkan sekarang dia bukan wanita single.


Jangan lupakan!


Ae ri sudah menikah dan menandakan jika tempat izin dia bukan hanya appanya saja. Dia memiliki Ye Joon, suami rahasia, ahh suami sahnya yang ia sembunyikan.


"Apa yang harus aku katakan padanya?" Gumam Ae ri dengan bingung.


"Eonni, anda baik-baik saja?" Tanya Seri yang membuat Ae ri mengangguk.


"Teruskan pekerjaanmu, Seri. Aku akan keluar sebentar," Ujar Ae ri yang membuat Seri mengangguk patuh.


Sebelum beranjak berdiri. Ae ri meraih ponselnya. Dia mencari nomor ponsel bodyguardnya yang sedang menjaga appanya. Dia yakin Mr. Park memiliki informasi yang sangat dinantikan.


Ae ri yakin jika Mr. Park tahu apa yang akan ditanyakan sebentar lagi. Dengan cekatan, Ae ri lekas mencari nomor ponsel bodyguardnya itu dan melakukan panggilan.


"Angkat…angkat!" Gumam Ae ri dengan bingung.


Sampai deringan ketiga. Akhirnya panggilan itu tersambung.


"Ya, Nona?"


"Mr. Park, bisakah kau membantuku?" Kata Ae ri saat panggilan itu tersambung.


***


Akhirnya disinilah Ae ri berada. Dia berada di seberang jalan tepat di depan gedung tinggi menjulang tempat Ye Joon bekerja.


Ya Ae ri menghubunhi Mr. Park untuk mencari tahu dimana kantor suaminya. Ae ri harus pamit pada Ye Joon langsung. Dia harus mengatakan rencana ini karena jika ada world Tour. Maka dia akan jarang pulang.


Ae ri akan sering di tempat latihan. Dia akan sering menerima latihan ekstra sampai hari H. Ae ri akan jarang pulang dan itu tentu membuatnya mau tak mau harus berkata jujur pada Ye Joon.


Dia tak boleh egois. Mau tak mau, dia harus mengalah pada egonya. Dia harus mengatakan pada Ye Joon meski sebenarnya dia tak mau.


Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu membuat Ae ri menurunkan kaca mobilnya.


"Maaf anda menunggu lama, Nona," Kata Mr. Park pada Ae ri.


"Betul ini kantornya?"


"Betul, Nona," Jawab Mr. Park pada anak tuannya itu.


"Baiklah. Bawa aku masuk sebelum karyawan yang lain melihat. Aku harus berbicara pada pria itu untuk jadwal world tourku!"


...****************...


Ae ri memakai jaket dan masker yang diberikan oleh Mr. Park. Pria dengan tubuh kekar itu mulai membawa putri majikannya itu menyebrang jalan menuju ke perusahaan tempat dimana suami Ae ri berada.


Perempuan itu menatap sekeliling. Ae ri melihat banyak karyawan yang berlalu lalang, keluar masuk disana dan membuatnya khawatir. Dia terus mengikuti langkah kaki Mr. Park.


Ae ri begitu percaya padanya. Mau tak mau, b8sa tak bisa. Dia yakin bodyguard yang diberikan appanya selalu bisa diandalkan.


Ar ri tak bertanya. Dia lekas masuk dan diikuti oleh Mr. Park di belakangnya.


"Jalan ke tangga itu, Nona!" Kata Mr. Park yang menuntun jalan putri majikannya dengan pelan.


Ae ri merasa jantungnya berdegup kencang. Dia benar-benar tak mau siapapun tahu tentang statusnya. Dia tak mau pernikahan mereka sampai diketahui semua orang.


Ae ri belum siap. Ae ri masih ingin meneruskan pekerjaan dirinya. Dia ingin mengejar mimpi dan cita-citanya.


Ting.


"Silahkan, Nona!"


Ae ri benar-benar takjub dengan kinerja bodyguardnya itu. Mr. Park sejak dulu benar-benar bisa diandalkan. Apa yang dia inginkan. Apa yang Ae ri butuhkan. Mr. Park selalu tahu keinginan dirinya.


Sampai akhirnya pintu lift terbuka dan Ae ri lekas keluar dengan Mr. Park yang berjalan di sampingnya.


"Dengan Nona Ae ri?"


"Ya," Sahut Ae ri lalu melepas maskernya.


"Dan Anda, Mr. Park?"


"Ya. Saya yang menghubungi anda," Jawab Mr. Park dengan pelan. "Terima kasih atas sarannya. Saya bisa membawa Nona kemari tanpa sepengetahuan semua orang."


Dae jung, asisten Ye Joon itu tersenyum dan mengangguk.


"Sama-sama," Sahut Dae dengan sopan.


"Emm apa Ye Joon ada di dalam?" Tanya Ae ri pelan yang membuat Dae jung mengangguk.


"Tuan ada di dalam. Silahkan, Nona!"


Dae jung keluar dari tempat kerjanya. Dia lekas berjalan dengan diikuti oleh Ae ri di belakangnya. Pria itu segera mengetuk pintu ruangan dan membukakan pintu kerja Ye Joon.


"Silahkan, Nona!"


Ae ri mengucapkan terima kasih. Lalu dia segera masuk dan langsung menatap ke arah pria yang juga membalas tatapannya.


"Kau!" Seru Ye Joon terkejut. "Sedang apa kau kemari, hah?"


Ye Joon spontan beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati Ae ri yang juga berdiri dengan gagah berani.


"Apa seperti itu kau melayani tamumu, Tuan Ye?" Tanya Ae ri dengan nada mengejek.


Dia berjalan dengan langkah pasti lalu memilih duduk di sofa yang tersedia disana.


"Aku banyak pekerjaan. Jika tak ada yang ingin dibicarakan. Silahkan keluar!" Ucap Ye Joon dengan kasar.


Ae ri tak menjawab. Dia malah duduk dengan nyaman dan mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain.


"Aku ingin bicara denganmu," Kata Ae ri setelah dia duduk dengan nyaman.


"Kita bisa berbicara di rumah!"


"Ini darurat!" Balas Ae ri tak mau kalah.


"Pekerjaanku lebih penting!"


"Aku hanya butuh lima menit waktumu. Tak akan lebih!" Balas Ae ri yang benar-benar tak kalah.


Hal itu tentu membuat Ye Joon kesal bukan main. Namun, posisi duduk istrinya itu membuat dirinya mau tak mau akhirnya menyusul duduk di hadapan Ae ri.


Ye Joon duduk dengan tenang dan menatap ke arah perempuan yang terlihat seperti mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri.


"Cepat! Apa yang ingin kau katakan!"


"Aku memiliki tour keliling dunia, Ye," Kata Ae di memulai.


Kening Ye Joon berkerut. Dia menatap istrinya dengan pandangan bingung.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Ye Joon dengan nada kesal.


"Tentu ada! Jika aku mengadakan tour. Maka aku jarang pulang! Aku akan sibuk dengan latihan setiap harinya!"


"Lalu?"


"Lalu?" Ulang Ae ri dengan pikiran yang benar-benar terpancing. "Ya aku ingin izin padamu, Ye. Bolehkah aku pergi dengan kesibukan ku untuk tur dunia?"


"Kau kemari, datang ke kantorku. Hanya untuk mengatakan itu?" Tanya Ye Joon dengan beranjak berdiri.


Ye Joon geleng-geleng kepala. Dia berjalan ke arah pintu masuk ruangannya dan menarik pintu itu hingga terbuka.


"Kau boleh melakukan apapun! Tak perlu izin dariku karena aku tak pernah mau tau dan tak pernah ingin tahu dengan urusanmu!"


~Bersambung