Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Tolong Bangunkan Ye Joon!


Sinar matahari yang cerah dan udara segar, menjadi satu hal yang sangat mengasyikkan bagi Ae ri. Saat ini perempuan itu, berdiri di balkon kamar dengan menikmati pemandangan yang begitu indah. Perasaannya seakan tenang saat ini.


"Aku rindu, Appa," gumamnya dengan setetes air mata jatuh di pipinya.


Entah kenapa ketika keadaan seperti ini. Ae ri selalu merindukan appanya. Sudah beberapa hari ini dia tak menghubungi appanya. Kesibukan dirinya latihan dan juga belum tentang perusahaan membuat Ae ri harus membagi waktunya dengan sebaik mungkin.


Dia hanya bisa menahan dirinya dan mencoba mengalihkan rindu itu dengan melakukan kegiatan yang lain. Dia sudah ada disini dan Ae ri harus bertanggung jawab atas apa yang sudah diputuskan.


Setelah merasa puas, akhirnya Ae ri segera kembali ke kamar. Dia harus membersihkan tubuhnya sebelum semua orang berkumpul di meja makan. Hanya butuh waktu hampir empat puluh menit, akhirnya Ae ri telah selesai dengan dandanannya. Dia segera meraih tas kerjanya dan segera keluar dari kamar.


Dari ujung tangga, Ae ri bisa melihat keberadaan ayah dari suaminya. Sosok pria yang sama dengan appanya itu tak pernah membedakan dirinya dan Ye Joon.


Sikap Appa Jeon selalu adil padanya walau dia hanya sebatas menantu. Hal itulah yang membuat Ae ri sedikit merasa kerinduan akan kasih sayang appanya terobati.


"Selamat pagi," sapa Ae ri dengan ramah.


Appa Jeon yang menunggu segera mengangkat kepalanya. Dia menutup koran yang dia baca lalu meletakkan di atas meja.


"Selamat pagi, Nak," Sahut Appa Jeon dengan ramah.


Saat Ae ri hendak duduk. Dia melihat dari dapur muncul seorang perempuan yang dia ketahui waktu acara perusahaan semalam


Nadin, saudara Ye Joon yang seperti tak menyukai kehadirannya. Dengan diikuti seorang perempuan yang dia lihat sekilas semalam tapi tak pernah bicara dengannya.


Nadin dan Ana hanya diam. Bahkan keduanya tak melirik Ae ri sedikitpun. Hal itu tentu membuat Ae ri hanya bisa mengelus dadanya. Dia tak peduli apapun, toh tak ada gunanya, memaksa seseorang untuk menyukai kita.


"Ye Joon kenapa, Appa?" tanya Ae ri setelah dirinya duduk dengan tenang.


"Dia belum turun. Sepertinya suamimu itu masih tidur. Tolong bangunkan ya, Nak. Boleh?" Appa Jeon menatap Ae ri dengan tatapan meminta tolong.


Hal itu tentu membuat Ae ri menelan ludahnya paksa. Jujur dia tak nyaman apalagi harus datang ke kamar tempat dimana dia tak mau masuk lagi kesana.


"Ae ri?"


"Ah iya, Appa!" Sahut Ae ri mengangguk. "Ae ri bakalan bangunin Ye Joon!"


Ae ri perlahan mengangkat tubuhnya. Dia beranjak berdiri dan mulai kembali menaiki tangga. Dirinya benar-benar merasa tak nyaman. Tangannya bahkan berkeringat dingin.


"Apa aku meminta pelayan saja untuk membangunkan dia?" Gumam Ae ri sambil berjalan menuju kamar Ye Joon.


"Tapi bagaimana caranya? Di Bawah ada Appa. Aku yakin, jika Appa tahu dia akan merasa tersinggung!" Gumam Ae ri sampai tanpa sadar langkah kakinya sudah sampai di tempat tujuannya.


Dia berdiri di depan pintu kamar Ye Joon yang masih tertutup rapat.


"Semalam aku ingin menghindarinya tapi lihat pagi ini?" Kata Ae ri sambil menghela nafas berat. "Gapapa, aku pasti bisa!"


~Bersambung