Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Rahasia Masakan Ae ri


"Kau!" Ye Joon benar-benar mulai gelap mata.


Namun, Ae di juga tak mau mengalah. Dia bahkan dengan berani mendekatkan dirinya sampai akhirnya jarak tubuh mereka berdua sudah sangat berdekatan.


"Jangan karena aku diam dan kau bisa seenaknya melakukan apapun padaku!" Kata Ae ri dengan mata tajam menatap Ye Joon. "Aku tak selemah itu!"


Ye Joon yang juga emosinya mulai memuncak perlahan mencengkram pergelangan tangan Ae ri. Dia menekannya dengan kuat hingga membuat Ae ri sedikit mengerutkan keningnya.


Namun, dia tak takut. Wanita itu tak memasang wajah sakit. Ae ri tetap memandang kedua bola mata Ye Joon dengan tajam.


"Jangan munafik! Kau pasti mengatakan hal buruk dan membuat Appa marah. Kau benar-benar wanita licik!"


Ye Joon menghempaskan tangan Ae ri. Dia mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk wajah Ae ri dengan emosi yang benar-benar Ye Joon berusaha untuk menahannya.


"Ja… "


"Diam!" Bentak Ye Joon dengan sekali tarikan nafas. "Jangan pernah bermuka dia di depanku karena itu tak akan pernah berhasil sedikitpun!"


Setelah mengatakan itu. Ye Joon berjalan ke arah tangga. Ya dia menuju ke kamarnya dan meninggalkan Ae ri yang menatap kepergian pria itu dengan skor matanya.


Setelah memastikan Ye Joon masuk ke kamar. Setelah memastikan jika pria itu tak ada disini. Akhirnya Ae ri mulai menundukkan kepalanya.


Dia menatap pergelangan tangannya yang sakit. Ae ri menyentuh tangannya yang meninggalkan bekas merah disana.


"Ini benar-benar menyakitkan!" Gumam Ae ri sambil mengusap bekas merah cap tangan di pergelangan tangannya.


Mata gadis itu memerah. Tanpa sadar apa yang dilakukan oleh Ye Joon membuat mata Ae ri memanas tanpa bisa dicegah. Membuat wanita itu mengingat bagaimana ayahnya yang memperlakukan dirinya bak ratu di rumah mereka.


Ya appanya tak pernah memukulnya. Menyisakan dirinya atau melakukan hal kecil seperti mencubit. Appanya selalu menjaganya. Ya keburukan di masa lalu. Kehidupan yang dijalani keduanya tanpa sosok seorang wanita membuat Ae ri dan appanya begitu dekat.


"Appa!" Lirih Ae ri dengan rasa rindu yang membuncah. "Ternyata hanya Appa yang mengerti Aufa. Aufa disini benar-benar tersiksa."


Ae ri mengusap air mata yang mengalir dengan tangannya. Dia mengusap dengan perlahan. Dia tak mau keluar jika air matanya akan ketahuan. Dia benar-benar terlihat sangat buruk sekarang.


Ae ri tak menyangka jika dia tiba-tiba merindukan sosok appanya. Sosok yang selalu mendukungnya. Sosok yang selalu ada untuknya.


Baik saat dia duka maupun suka. Baik saat mereka bahagia ataupun sedih. Yang pasti, hanya aku yang ingin ada disini.


"Nyonya!" Panggil seorang pelayan yang mengejutkan Ae ri.


Ae ri mengerjapkan matanya berulang kali. Dia menatap ke arah sosok seorang perempuan yang memakai pakaian pelayan mendekatinya.


"Maafkan kami, Nyonya. Tapi… " Kata pelayan itu secara perlahan


Ae ri masih diam. Dia menatap ke arah wanita itu yang sedang mengatakan sesuatu untuknya.


"Jangan tinggalkan tuan sedikitpun, Nyonya," Kata pelayan yang tak lagi muda itu pada Aufa. "Tuan hanya sedang butuh hiburan sebentar, Nyonya. Jadi bertahanlah untuk Tuan."


Jantung Ae ri berdegup kencang. Entah apa yang terjadi. Namun, otaknya berpikiran banyak hal.


"Apa yang harus aku lakukan, Bi. Dia sudah sangat keterlaluan!" Kata Ae ri dengan kesal.


"Tuan tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dia hanya tinggal bersama Tuan besar. Tolong berikan waktu untuk Tuan," Kata pelayan itu yang membuat Ae ri terkejut.


Ahh dia baru menyadari satu hal. Dia baru peka sekarang. Selama ini dia tau jika suaminya itu hanya bersama sosok papanya seperti dirinya. Namun, Ae ri tak pernah bertanya kemana mama suaminya itu.


"Kalau boleh tau, kemana ibu mertuaku, Bi?" Tanya Ae ri penasaran.


"Dia pergi meninggalkan Tuan sejak Tuan masih bayi."


...****************...


Keesokan harinya, Ae ri sudah berada di dapur sejak pagi. Dia memiliki jadwal pemotretan dan membuatnya memasak sepagi mungkin. Menyiapkan semuanya dengan atas kemauannya sendiri.


Ya hari ini dia ingin membawa makanan untuknya. Membawa bekal ke tempat kerja dan membuatnya harus membujuk kepala pelayan lagi untuk memakai dapur. Akhhh jujur menggunakan dapur sebenarnya Pak Yin tak mengizinkan.


Semua orang takut dimarahi oleh Ye Joon. Mereka takut karena Ae ri adalah istri tuannya tapi memakai dapur untuk memasak kebutuhannya.


"Tenanglah, Pak Yin. Dia tak akan bangun!" Kata Ae ri yang sudah memasukkan bekal makanan sehat di dalam kotak bekal.


Bibirnya tersenyum kecil saat satu kotak salad buah dan sandwich terlihat sangat menggiurkan di matanya. Makanan yang sejak kemarin ingin dia makan tapi Ae Ri tahan.


"Nyonya pandai memasak," Kata seorang pelayan yang ikut membantu dan menemani Ae ri di dapur.


Ae ri tersenyum. "Aku dulu tak pandai, Bi. Hanya belajar melalui youtube. Setelah itu, aku sadar, di rumah tak ada seorang mama. Hanya aku dan appa. Jadi mau tak mau. Aku banyak belajar memasak untuk memasakkan Appa makanan."


Pak Yin dan pelayan itu mengangguk. Mereka juga mulai nyaman dengan Ae ri. Istri tuannya itu tak sejahat seperti film ftv. Ya, Ae ri sangat amat ramah. Bahkan dia juga tak jijik untuk membersihkan dapur setelah digunakan.


Hal itulah yang membuat pelayan mulai terbuka dan menerima Ae ri. Mulai terbiasa dengan sikap dan aksinya.


"Pak Yin!" Teriak Ye Joon yang mulai duduk di kursi meja makan dengan tenang.


Pak Yin spontan mendekat setelah merapikan bajunya.


"Ya, Tuan?"


"Dimana sarapannya?"


"Ah maaf, Tuan sebentar," Kata Pak Yin dengan cepat.


Saat dia berbalik dan hendak mengambil makanan. Ternyata Ae ri sudah datang mendekat. Dia meletakkan sepiring sandwich di depan Ye Joon.


"Selamat makan!"


Ye Joon spontan menoleh. Dia menatap ke arah makanan yang diletakkan di atas piring untuknya.


"Kau!"


"Apa kau masih ingin bertengkar?" Tanya Ae ri dengan heran.


"Untuk apa kau membawa makanan ini. Aku meminta Pak Yin bukan kau!"


Kening Ae ri berkerut. Astaga keras kepala dan sikap sombong suaminya ini benar-benar membuatnya kesal. Namun, Ae ri mencoba mengalah.


"Ini masih pagi, Ye. Jangan membuat masalah!"


"Kau yang… "


"Kau mau makan atau tidak!" Seru Ae ri dengan mulai marah. "Kalau kau tak mau. Aku bisa mengambilnya. Ini masakan koki terbaikmu."


Ae ri mengusap piring berisi sandwich itu. Hal itu tentu membuat Ye Joon tanpa sadar menelan ludahnya.


Sandwich adalah salah satu makanan kesukaannya. Apalagi masakan koki terbaik di rumahnya selalu membuatnya ketagihan.


"Kau tak mau? Masih sama?" Goda Ae ri yang sudah tahu jika suaminya itu sudah terpancing dengannya.


"Yakin!" Saat Ae ri hendak menarik piring itu.


Tangan Ye Joon datang dan menariknya.


"Ini milikku!"


Ye Joon mengatakan itu dengan galak. Entah kenapa tanpa sadar hal itu membuat Ar ri tersenyum tipis. Apalagi saat matanya melihat Ye Joon mulai memakan sandwich itu secara perlahan.


"Kenapa rasanya berbeda?" Tanya Ye Joon pada Pak Yin.


Pria itu memakai sedikit sambil menatap kepala pelayannya.


"Itu, Tuan… "


"Aku yang meminta koki membuatnya dengan keinginanku!" Sela Ae ri dengan cepat.


Dia tahu Pak Yin kebingungan. Hal itulah yang membuatnya menyela dan mengedipkan salah satu matanya pada Pak Yin dan membuat pria yang tak lagi muda itu tersenyum.


"Apa anda suka, Tuan? Bagaimana?"


Ye Joon mengangguk setelah menghabiskan satu sandwich.


"Ya. Minta koki terbaik kita lain kali membuatkan lagi untukku!" Kata Ye Joon lalu mulai mengusap bibirnya dengan tisu.


"Ketagihan he?" Goda Ae ri yang membuat Ye Joon beranjak.


"Bukan urusanmu!" Setelah mengatakan itu, Ye Joon lekas pergi dan meninggalkan Ae ri yang geleng-geleng kepala.


Perempuan itu seperti memiliki mainan baru. Mainan yang digunakan menggoda suaminya. Entah kenapa melihat Ye Joon kesal adalah hal yang begitu menarik.


"Nyonya!" Panggil Pak Yin yang membuat Ae ri menoleh.


"Tenanglah, Pak Yin. Aku sudah senang melihat dia menyukai masakanku!" Kata Ae ri dengan tersenyum. "Jangan pernah katakan padanya jika aku yang memasak. Oke?"


Ae ri meminta dan mau tak mau Pak Yin akhirnya mengangguk. Wanita itu perlahan kembali ke dapur dan mengambil kotak bekalnya.


"Aku berangkat ya, Pak Yin. Terima kasih sudah diizinkan memakai dapur dan ya, ingat ini rahasia di antara kita!"


~Bersambung