Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Jangan Ikut Campur!


Ae ri benar-benar dengan berat hati memasukkan semua pakaian yang ia butuhkan ke dalam koper dengan bantuan pelayan. Dia membawa dua buah koper besar untuknya.


Setelah semuanya selesai. Dia lekas keluar dari ruang ganti dan menatap sekeliling kamarnya. Kamar yang menjadi tempatnya berkeluh kesah. Kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana beratnya hidup Ae ri.


Besar tanpa seorang ibu adalah suatu hal yang menyakitkan untuknya. Apalagi menerima kenyataan yang sangat membuatnya sakit di usia yang masih sangat kecil.


Hal yang tak seharusnya dia lihat dan dia tahu ternyata dengan kepalanya sendiri di melihatnya. Merekam dalam pikiran dan membuatnya tak bisa melakukan apapun selain terus mengingatnya dan menyimpan ke dalam otak kecilnya.


Ae ri menghela nafas berat. Dengan langkah berat dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu dimana menjadi penghubung antara ruang kamar dan ruangan di depannya.


Sebelum benar-benar menutup pintu kamar. Lagi dan lagi Ae ri menatap sekitarnya. Dia akan merindukan kamar ini. Dia akan merindukan semua yang ada disini. Karena setelah ini, di menit ini dan detik ini. Dia harus ikut Ye Joon kemanapun berada.


Dia harus berada di belakang pria itu terus. Dimana Ye Joon berpijak maka dirinya juga harus ada disana.


"Udah selesai? " Tanya Lee Jin saat putrinya sudah berjalan ke arah ruang tamu.


Mata Ae ri memerah. Ini adalah hal tersulit untuknya. Hal yang membuatnya berat meninggalkan ayahnya itu.


Dia hanya memiliki ayahnya seumur hidup. Dia hanya memiliki Lee Jin semasa hidupnya. Hanya ayahnya yang menjadi penguat untuknya. Hanya Lee Jin yang menjadi Ayah terbaik untuknya selama ini.


"Udah, Appa, " Sahut Ae ri dengan lemas.


Perlahan wanita itu mendekati ayahnya dan memeluk Lee Jin dengan erat. Perasaan anak pada ayahnya yang begitu besar membuat Ji Eun berat meninggalkannya. Membuat wanita itu rasanya ingin berada disini saja daripada ikut suaminya itu.


"Berangkatlah, Nak. Ingat, suamimu masih harus bekerja," Kata Lee Jin sambil berusaha melepaskan pelukan putrinya.


"Aku masih ingin disini, Appa, " Lirih Ae ri dengan air mata menetes.


"Kamu masih bisa kesini, Nak. Ye Joon juga tak akan melarangmu. Iya, 'kan, Nak? "


Ye Joom yang malas itu hanya bisa mengangguk. Dia benar-benar kesal dengan istrinya itu. Ae ri benar-benar membuat semuanya sangat lama dan membosankan.


"Ayo! "


Akhirnya dengan berat hati akhirnya Ae ri melepaskan pelukannya. Dia mengusap air matanya yang menetes sejak tadi. Ae ri mencoba menarik nafasnya begitu dalam untuk menenangkan dirinya yang benar-benar merasa berat.


"Ae ri berangkat ya, Appa. Appa harus jaga diri baik-baik. Jangan telat makan. Ae ri sayang, Appa! "


"Appa juga sayang Ae ri. "


Akhirnya pasangan suami istri itu mulai berjalan ke depan rumah. Lee Jin dengan tanah dan sabar menguatkan hatinya mengantar putri yang sangat dia sayang pergi meninggalkannya.


Putri yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Putri yang dia cintai begitu dalam dan begitu besar itu kini harus ikut dengan pria yang sudah menjadi pengganti tanggung jawabnya.


"Hati-hati kalian yah, " Ujar Lee Jin saat Ye Joon dan Ae ri mulai naik ke dalam mobil. "Kabarin Appa kalau sudah sampai. "


"Iya, Appa. Jangan lupa jaga kesehatan! "


Akhirnya perpisahan terjadi. Mobil yang dikendarai oleh supir Ye Joon mulai bergerak meninggalkan halaman rumah dimana Ae ri dibesarkan. Mata anak itu meneteskan air mata dengan tangan melambai ke arah ayahnya.


Ae ri benar-benar merasa sakit. Baru kali ini dia pergi dalam jangka waktu yang lama. Bukan lama lagi bisa dibilang sampai satu tahun kedepan, selama pernikahan mereka terjalin. Dia harus ikut kemanapun Ye Joon tinggal.


"Berhenti menangis atau kau kuturunkan disini! " Ancam Ye Joon yang membuat Ae ri menarik nafasnya begitu dalam


Dia harus mulai menyiapkan stok sabar. Jalan hidupnya akan dimulai sekarang. Perjalanan dia yang harus menghadapi sikap Ye Joon yang menyebalkan. Sikap gila pria itu yang membuatnya banyak-banyak mengelus dada.


Tak ada pembicaraan apapun. Baik Ae ri ataupun Ye Joon hanya saling diam sambil menatap jalanan di luar. Mereka menikmati pemandangan tanpa ingin berbicara di antara keduanya.


Tak lama, pintu gerbang itu terbuka dan membuat Ae ri terpesona dengan di dalamnya. Dari mobil dia bisa melihat rumah yang begitu megah dan luar.


Rumah dengan pemandangan yang sangat amat cantik yaitu laut. Sebuah rumah bertingkat tiga, dengan banyak kaca di sana ditambah sekeliling area itu di tembok tinggi menjadi pagar dan juga bagian belakang yang langsung menatap atau bertemu dengan laut yang membuat Ae ri benar-benar dibuat takjub.


Kepala itu menoleh ke belakang. Ae ri merasa benar-benar gila saat melihat rumah utama dan pintu utama sangat lumayan jauh dengan pagar rumah.


"Jika aku kabur dari sini. Harapan lolos pun sangat kecil," Ucap Ae ri dalam hati.


Akhirnya kendaraan itu berhenti di depan pintu utama. Ae ri dan Ye Joon segera turun dari dalam mobil dan langsung disambut oleh beberapa pelayan yang berdiri di depan dengan menundukkan tubuhnya.


Ye Joon tiba-tiba menghentikan langkah kakinya yang membuat Ae ri menabrak punggung Ye Joon tanpa sengaja.


Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar merasa muak dengan Ae ri.


"Pak Yin! " Panggil Ye Joon yang membuat seorang pria berpakaian sopan itu mendekat dengan sedikit berlari.


"Iya, Tuan? " Sahut Pak Yin sambil menunduk hormat.


"Siapkan satu kamar tamu untuknya! " Ujar Ye Joon yang membuat Ae ri menatap pria itu dengan lekat.


"Baik, Tuan," Ujar Pak Yin dengan sopan.


"Dan kau! " Seru Ye Joon pada Ae ri. "Dia adalah kepala rumah disini. Pak Yin yang akan mengurus semuanya dari urusan rumah dan pelayan."


"Iya, " Sahut Ae ri mengangguk.


"Pak Yin. Bawa semua barang miliknya ke dalam kamar itu. Sekarang! "


"Iya, Tuan. "


Akhirnya Pak Yin meninggalkan suami istri itu untuk menjalankan perintah dari bosnya. Sepeninggal Pak Yin, Ae ri akhirnya mulai gatal untuk bertanya apa yang ingin dia tanyakan.


"Jadi kita beda kamar? "


"Tentu, " Sahut Ye Joon dengan tegas. "Kita tak akan pernah satu kamar. Jangan melewati batas di perjanjian kita! Kau paham? "


"Aku paham tapi bagaimana jika Appa datang? " Tanya Ae ri yang memikirkan semuanya dengan baik.


"Aku yang akan mengurusnya nanti! " Seru Ye Joon lalu hendak beranjak pergi.


"Tunggu! " Kata Ae ri meraih tangan Ye Joon.


Hal itu membuat pria itu dengan kasar menepis tangan istrinya yang dengan lancang memegang tangannya.


"Maaf tapi… "


"Kau mau kemana, Ye? " Tanya Ae ri dengan pelan.


Pertanyaan itu tentu membuat Ye Joon naik pitam. Dia merasa seperti memiliki seorang satpam yang akan mengurus dan memantau dirinya yang hendak pergi kemana saja.


"Jangan pernah ikut campur urusanku! " Kata Ye Joon mendekat dan mencengkram kedua pipi Ae ri dengan kuat. "Ingat perjanjian itu baik-baik. Kau hanya istri kontrak untukku dan itu berlangsung selama satu tahun!


~Bersambung