
Ae ri merapikan penampilannya. Lalu dia segera turun dan menundukkan kepalanya. Dirinya berjalan di belakang Ye Joon dengan jantung terasa berdegup kencang.
Jujur berjalan disini dengan berdiri di depan kamera atau penggemarnya sangat berbeda. Menurutnya berjalan di depan penggemarnya masih sangat nyaman dan tenang. Namun, disini melihat tatapan para karyawan wanita yang seperti menunggunya membuat dirinya gugup.
Hingga tiba-tiba, Ye Joon berhenti melangkah dan membuat Ae ri mendongakkan wajahnya.
"Angkat kepalamu dan berdiri disampingku!"
"Baik."
Akhirnya Ae ri mulai menarik nafasnya begitu dalam. Dia merapikan rambutnya lalu mulai mensejajari langkah kaki Ye Join. Hingga saat dirinya mulai memasuki Perusahaan keluarga suaminya. Semua karyawan disana terperangah dengan penampilan dan kecantikan Ae ri.
Bahkan beberapa ada yang mulai berbisik.
"Ae ri!"
"Akhh idolaku!"
Bisik-bisik itu tentu terdengar di telinga Ae ri dan membuat wanita itu tersenyum kecil.
Mereka semua merasa dihipnotis dengan senyuman manis yang Ae ri berikan, hingga saat wanita itu masuk di dalam lift yang sama dengan Ye Joon. Semua karyawan mulai berbisik-bisik.
"Dia benar-benar cantik, Monic," kata temannya yang berkacamata.
"Ya betul. Bukankah dia penyanyi kelas atas?"
"Betul. Bagaimana bisa seorang penyanyi dan model bekerja disini?"
"Apa Tuan Ye ada hubungan dengan Penyanyi Ae ri?"
Gosip itu tentu melebar ke mana-mana. Namun, tak ada yang memiliki jawaban. Sampai akhirnya sebuah atasan mulai menegur kelompok wanita itu hingga mereka bubar.
***
Suasana di dalam lift terasa kaku. Bahkan Ae ri hanya bisa melirik sosok pria yang berdiri di sampingnya. Tak ada ekspresi di wajahnya. Dia berdiri diam seperti patung hingga membuat Ae ri begitu bosan.
Dia benar-benar patung es. Betah sekali berdiri diam tanpa bicara, keluh Ae ri dalam hati.
"Pergilah ke Departemen Sekretaris dan lakukan administrasi!" seru Ye Joon penuh perintah.
"Sendirian?" tanya Ae ri dengan wajah terkejut.
"Kamu bukan anak kecil yang harus ditemani," sahut Ye Joon dengan nada dingin.
"Aku tau!" seru Ae ri dengan kesal.
Aku bukannya manja tapi aku, 'kan, pertama kali datang kesini. Kalau aku kesasar, bagaimana? jeritnya dalam hati dengan perasaan dongkol yang mendalam.
Suara lift yang terbuka membuat mata Ae ri terbuka. Dia masih berdiri diam sampai sebuah suara kembali memerintah.
"Cepat keluar!"
"Apa!" Ae ri membenarkan pakaiannya. Dia berdehem lalu mulai melangkahkan kakinya keluar.
Saat dirinya sudah keluar dari lift. Ae ri teringat sesuatu dan membuatnya segera membalikkan tubuhnya.
Ting.
"Aghhh." Kedua tangan Ae ri terkepal.
Matanya melotot dengan nafas menderu. Dirinya benar-benar sial sekali hari ini. Niat hati ingin bertanya tapi Ye Joon sudah menutup pintu lift dan meninggalkan dirinya sendirian.
"Dasar patung es gak punya hati!" dengusnya begitu kesal.
Hingga Ae ri baru menyadari jika dirinya menjadi bahan perhatian disana. Dia mulai menenangkan hati dan moodnya yang kacau. Sebelum mencari ruangan yang sangat dia cari.
Setelah tenang, Ae ri mulai melangkahkan kakinya. Matanya mengedar untuk mencari ruangan Departemen Sekretaris. Sampai matanya tanpa sengaja menemukan nama tulisan bagian yang dia cari hingga membuatnya bernafas lega.
Semoga tak menemukan sosok menyebalkan lagi di kantor ini, doanya sebelum mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!"
~Bersambung