
Ae ri berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Jujur dirinya bingung harus membangunkan Ye Joon bagaimana. Dirinya yang terpaksa kabur tadi pagi berharap tak melihat wajahnya kini dihadapkan di siatusi yang sulit.
Gadis itu menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya dengan berat. Berusaha mengurangi beban pikiran yang menurutnya terus menerus terjadi di hidupnya semenjak kedatangan Ye Joon dalam list hidupnya.
Ae ri lekas mengangkat kepalanya dengan tegak. Lalu saat dia hendak menyentuh pintu itu tiba-tiba pintu tersebut terbuka sendiri dan membuat tubuh Humai hampir bertabrakan dengannya.
"Aww! " Pekik Ae ri terkejut saat tubuhnya mundur ke belakang karena bertabrakan dengan pria yang baru saja keluar dari kamarnya.
Ae ri kesulitan menelan ludahnya sendiri. Seakan setiap berhadapan dengan Ye Joon selalu membuatnya mati kutu.
"Apa kau tak mau mata untuk melihat, hah? " Senbur Ye Joon yang membuat Ae ri menggeleng.
"Maafkan aku. Aku… "
Ye Joon tak menggubris. Pria itu lemas melewati sosok Ae ri dan berjalan menuju tangga yang akan membawanya ke lantai pertama.
Hal itu tentu membuat Ae ri mengikuti langkah kaki Ye Joon yang cepat perbedaan tinggi mereka yang sedikit membuat Ae ri tak terlalu lelah menyamakan langkah dengan suaminya itu.
"Sarapan sudah siap. Ayah juga sudah menunggu kita disana," Lirih Ae ri memberitahu.
Telinga Ye Joon mendengar semuanya. Tanpa diduga, dia lekas melingkarkan tangannya di pinggang Ae ri dan membuat perempuan itu terkejut.
"Teruslah berjalan dan jangan membuat ulah! Ingat peraturan yang kubuat. Kau harus bersikap layaknya istri di hadapan keluargaku atau keluargamu! "
Ae ri mengangguk. Dia perlahan membiarkan tangan suaminya melingkar dengan nyaman dan langkah kaki mereka yang menuruni tangga ber sama-sama.
Pemandangan ini tentu dilihat langsung oleh kedua mata Lee Jin. Pria paruh baya itu tersenyum melihat kedekatan anak dan menantunya. Apalagi ketika Ae ri tersenyum ke arah papanya dengan begitu tulus.
Lihatlah hati seorang anak tunggal ini. Demi senyum sang papa, demi baktinya pada orang tua tunggalnya. Dia merelakan hidupnya menikah dengan pria yang tak pernah ia cintai.
Dia menerima perjodohan yang dilakukan ayahnya karena ia yakin semua keputusan yang orang tuanya buat tentu sudah pasti yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Selamat pagi, Appa, " Sapa Ye Joon sambil melepaskan tangannya dari pinggang Ae ri.
Pria itu memilih duduk di samping mertuanya dengan tenang.
"Pagi, Nak. Bagaimana tidurmu semalam. Apa kau nyaman tinggal disini? " Tanya Lee Jin dengan ramah.
Ye Joon menoleh. Dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Ye Joon nyaman, Appa, " Jawabnya yang membuat Ae ri memutar matanya malas.
"Jelas aja nyaman. Lah dia tidur di ranjang, nah aku di sofa! " Umpat Ae ri dalam hati.
"Ambilkan suamimu makanan, Nak!"
"Iya, Appa, " Sahut Ae ri yang mulai bergerak mengambilkan makanan untuk Ye Joon.
Perlakuan manis Ae ri tak membuat Ye Joon bersimpati. Pria itu bahkan hanya menatap ke arah makanan yang mulai diberikan padanya.
"Masakan ini dibuat oleh istrimu sendiri, Nak. Cobalah. Berikan penilaianmu untuknya, " Kata Lee Jin yang membuat Ye Joon melirik istrinya sekilas.
"Ternyata dia bisa memasak juga, " Batin Ye Joon bersuara.
Pria itu perlahan mengangkat garpu miliknya. Dia mencoba memakan gimpap milik Ae ri dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? " Tanya Lee Jin yang sudah tak sabar akan komentar menantunya.
Dia takut melakukan kesalahan juga. Bagaimanapun gadis itu tahu jika makanan bisa meraih perasaan seseorang. Ya dari makanan bisa turun ke hati dan membuat cinta tumbuh di antara mereka.
Hal itulah yang membuat Ae ri berharap. Berharap pria yang wajahnya tampan dan merupakan suaminya itu bisa mencintainya sepertinya dia yang mulai menaruh perasaan pada Ye Joon.
"Enak, " Sahut Ye Joon saat dia berhasil memakan satu gimpap dan menelannya.
Ae ri bernafas lega. Dia lekas mengambil makanannya sendiri dan mereka mulai makan dengan tenang. Tak ada suara apapun melainkan suara garpu dan sendok serta pisau yang saling berbenturan dengan piring.
Semua makanan yang dimasak ayah dan anak itu juga dimakan oleh Ye Joon. Pria itu tak menyangka jika wanita yang berstatus istrinya itu bisa memasak.
...****************...
Setelah acara sarapan bersama itu. Ye Joon meminum minuman yang disediakan sampai habis. Dia juga mengusap bibirnya dengan tisu dan penuh ke hati-hatian.
"Kamu mau ke kantor, Nak? " Tanya Lee Jin yang baru sadar penampilan menantunya sudah sangat rapi.
"Ya, Appa. Tapi aku akan kembali ke rumah dulu, " Ujar Ye Joon mulai masuk ke dalam pembicaraan.
Lee Jin paham apa yang dimaksud menantunya itu. Dia menatap Ye Joon yang juga menatapnya.
"Jungkook izin membawa Ae ri tinggal bersamaku, Appa, " Pamitnya dengan berani.
Ucapan Ye Joon seakan hantaman di hati Ae ri. Perempuan itu membelalakkan matanya tak percaya. Dia menatap ke arah pria yang duduk di sampingnya itu.
"Jarak perusahaan dengan mansion Ye Joon sangat dekat. Jadi bolehkah Ye Joon membawa Ae ri bersamaku? "
"Tentu, " Sahut Lee Jin tanpa ragu.
"Appa. Ae ri mau tinggal bersama, Appa. Siapa yang akan merawat Appa nanti? "
Lee Jin tersenyum. Dia tahu bagaimana perasaannya anaknya padanya. Dia tahu bagaimana Ji Eun yang tak pernah jauh darinya selain karena pekerjaan.
"Ada suster yang akan menemani Appa, Sayang, " Kata Lee Jin menenangkan. "Kamu bukan tanggung jawab Appa lagi. Setelah kamu menikah. Kamu adalah tanggung jawab Ye Joon. Kamu harus menurut dan ikut kemanapun suamimu pergi dan tinggal. "
Air mata Ae ri menetes. Ini adalah hal paling menyakitkan. Jika dia tinggal dengan pria yang mencintainya mungkin itu adalah hal yang paling membahagiakan. Namun, Ye Joon tak memiliki rasa untuknya.
Bahkan sejak awal pria itu sudah membangun benteng kuat di antara mereka. Sebuah perjanjian yang berlangsung selama satu tahun dan Ae ri tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Appanya jika semua itu.
"Kamu masih bisa datang ke rumah ini, Sayang. Ini rumahmu. Ini istana kecilmu. Kamu bisa pulang jika rindu dengan Appa. Appa menunggumu disini! " Kata Lee Jin yang membuat Ae ri beranjak dari duduknya.
Wanita itu segera berlari ke arah Lee Jin dan memeluknya.
"Appa janji buat nungguin Ae ri yah. Appa harus jaga kesehatan. Appa gak boleh telat makan. Appa juga harus rajin minum obat, " Kata Ae ri dengan air mata yang mengalir deras.
Lee Jin mengangguk. Dia mengusap rambut Ae ri dengan lembut.
"Appa akan menurut. Appa tak akan nakal lagi. "
Perlahan pelukan itu terlepas. Ae ri mengusap air mata appanya yang ikut menetes.
"Bagaimana? "
"Baiklah. Ae ri mau tinggal bersama Ye Joon."
~Bersambung