Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Satu Ranjang


Di sebuah ruangan yang begitu rapi. Terlihat seorang pria tengah berkutat dengan pekerjaannya. Dia adalah Ye Joon. Pria tampan dengan wajah tegas itu terlihat memandang laptopnya. Selain itu, sikapnya yang dingin dan tegas semakin menambah kesan wibawa dalam dirinya.


Kepalanya sejak tadi terasa pusing. Ye Joon memikirkan segala hal yang terjadi. Pertengkaran dirinya dengan Yuna tadi siang membuatnya merasa frustasi.


Helaan nafas sejak tadi terasa berat. Dia benar-benar merasa sakit kepala. Permasalahan ini semakin lama membuat Ye Joon malas untuk pulang.


Dirinya melirik ke arah jam dinding di ruangannya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam dan dia masih betah di dalam ruangannya.


Tadi sore, orang kepercayaan di rumahnya mengatakan jika Ae ri, istrinya itu pulang ke rumah. Hal itulah yang entah kenapa membuat Ye Joon tak tertarik untuk pulang. Ye benar-benar tak ingin bertemu siapapun sekarang.


Dirinya masih sangat mencintai Yuna. Seseorang yang menemani dirinya dalam suka maupun suka. Seseorang yang sangat amat mencintai dirinya meski dia tahu jika appanya tak menyuukainya.


Wanita yang selalu berjuang akan hidupnya. Pekerjaan yang mungkin memang menurut semua orang tak baik. Namun, di mata kepala Ye Joon sendiri. Dia melihat bagaimana perjuangan kekasihnya itu.


Hingga hal itulah yang membuat Ye Joon mencintai Yuna. Mencintai gadis yang memang bukan berasal dari keluarga berada.


"Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan wanita itu," kata Ye Joon dengan tegas.


Tak lama suara ketukan membuyarkan konsentrasinya. Dia menyuruh seseorang itu masuk dan muncullah sekretarisnya, Dae Jung.


"Ada apa, Dae?" tanya Ye Joon setelah menutup laptopnya.


"Ini sudah malam, Tuan. Anda ingin menginap disini?" kata Dae Jung dengan sopan.


Biasanya jika banyak pekerjaan. Bosnya itu bisa menginap di kantor. Ada ruangan pribadi di ruangan Ye Joon dan membuat pria itu merasa nyaman meski disini.


"Tidak," sahut Ye Joon lalu beranjak berdiri. "Ayo kita pulang!"


Entah kenapa perjalanan kali ini terasa cepat. Mobil yang membawa Ye Joon mulai memasuki halaman rumah. Semua pelayan tentu langsung berdiri menyambut sang Tuan yang baru saja datang dari bekerja.


Dengan langkah tegas, Ye Joon mulai berjalan menuju kamarnya. Namun, sebelum dia menaiki tangga. Seseorang muncul mendekatinya, yang membuat pria itu mengurungkan niat untuk naik ke atas.


"Appa?" Panggil Ye Jun terkejut lalu mendekati appanya dan setelah itu mencium punggung tangan pria tersebut.


"Kamu dari mana saja, Ye? Tak biasanya kamu pulang larut malam," kata Jeon dengan heran.


"Banyak pekerjaan seharian ini, Appa. Mangkanya Ye pulang telat," ucapnya beralasan.


"Kamu yakin?" tanya Jeon penuh curiga. "Semoga alasanmu bukan untuk menghindarinya."


Perkataan sang appa tentu membuat Ye Joon paham apa yang dimaksud. Dia menggeleng dan meyakinkan bahwa keterlambatannya karena pekerjaan.


"Beristirahatlah, Ye. Lalu besok antarkan Ae ri ke lokasi!"


"Apa!" Pekik Ye Joon protes.


"Ya. istrimu berpamitan pada appa. Hal itulah yang membuat appa kesini dan akan tinggal disini sementara waktu."


"Appa, tapi… "


"Tak ada kata tapi!" Jawab Jeon dengan tegas. "Sekarang masuklah! Ini sudah larut malam."


"Baik, Appa."


Ye segera menuju kamarnya. Dia merasa begitu lelah dengan pekerjaannya. Lalu ditambah beban pikiran Ae ri dan Yuna, membuatnya memilih ingin segera beristirahat.


Pria itu memasuki kamarnya. Ye Joon melihat ruangannya mulai redup. Dia menatap ranjang yang seakan melambai padanya.


Badannya memang sudah lelah. Ye Joon lekas melepaskan jasnya dan melempar ke sofa. Lalu dia membuka sepatu dan kemudian merangkak ke ranjang.


Saat dirinya mulai menaiki ranjang. Ye baru menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ya, seperti ada seseorang yang tidur di atas ranjangnya. Namun, karena matanya yang sudah berat. Dirinya yang mengantuk membuat Ye menggelengkan kepalanya.


"Tak mungkin wanita itu tidur disini!" Kata Ye lalu segera memeluk gundukan itu yang dia anggap guling?"


Entah kenapa dia menghirup aroma yang menenangkan. Dia merasa tenang dan nyaman lalu tak lama matanya mulai terpejam dengan pelan.


...****************...


Seakan kehangatan tubuh keduanya. Seakan pelukan itu sangat amat nyaman untuk keduanya dan membuat mereka melupakan semua kegiatan yang harus di lakukan pagi ini.


Jadwal yang padat. Jadwalnya kantor dan ke agensi. Semua itu seharusnya sudah menunggu keduanya. Bahkan jarum jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Namun, tak ada satupun dari keduanya yang membuka mata.


Sampai akhirnya, suara ketukan pintu, membuat tidur sepasang manusia yang saling berpelukan terganggu. Sang wanita, mulai menggeliat dalam tidurnya. Dia merasa terusik akan suara itu. Hingga ketukan yang semakin sering, membuat keduanya membuka mata secara bersamaan.


"Aaaaa!" Teriak Ae ri begitu kencang.


Dia mendorong tubuh sosok yang ada si dekatnya. dengan jantung berdegup kencang.


"Kamu ?" Seru Ae ri dengan mata terbelalak tak percaya.


Dia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Dirinya berusaha menenangkan keterkejutannya dan mulai memegang selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. . "Kenapa bisa masuk kemari?"


"Apa kau lupa jika ini kamarku?" Seru Ye Joon dengan mendudukkan dirinya.


Ae ri merasa bingung. Bangun tidur ternyata membuat dirinya mulai merasa pusing. Apalagi saat dirinya terasa bingung seperti ini seakan semuanya yang sudah dia lakukan semalam dia lupakan.


Ae ri terlihat tersenyum dengan terpaksa. Ya dia mulai ingat akan sesuatu. Semalam kedatangan papa mertuanya mau tak mau membuatnya masuk ke dalam kamar ini sampai dirinya ketiduran.


Niat hati menunggu Ye Joon untuk berbicara tetnatta lambaian tangan dari ranjang membuat matanya yang sudah mengantuk sudah tak tertahankan.


"Apa kau sudah ingat?" Seru Ye Joon dengan nada mengejek.


Ae ri perlahan mendudukkan dirinya.


"Aku…"


"Kelaur kau sekarang dari kamarku!" Usir Ye Joon yang membuat Ar ri mendongakkan kepalanya.


"Keluar katamu?" Seru Ar ri yang sudah tersulut emosi sejak tadi. "Salahkan appa jika kau ingin marah kepadaku. Aku tidur disini karena aku tak mau appa curiga."


"Aku menyelamatkanmu dari Appa tapi balasanmu?" Seru Ae ri dengan emosi yang tertahan.


"Aku tak pernah meminta bantuanmu!"


"Tapi jika kau tak minta. Apa pagi ini kau masih selamat disini?" Seru Ae ri dengan membela dirinya sendiri.


Dia benar-benar merasa kesal pada pria di depannya ini. Dirinya sudsh menyelamatkan dari kemarahan mertuanya. Dia juga terpaksa tidur di ruangan yang sangat dia tahu ruang kamar suaminya untuk menyelamatkan Ye Joon.


Ae ri hanya tak mau jika pisah kamar keduanya diketahui oleh mertuanya lalu laporan pada appanya. Dia tak mau membuat appanya kepikiran. Maka apapun itu, demi keselamatan appanya dia rela melakukan ini.


"Ngapain masih diam?" seru Ye Joon dengan dingin. "Cepat pergi dari sini!" usirnya dengan tegas.


Ae ri benar-benar merasa kesal setengah mati. Namun, dia benar-benar tak mau mencari ribut. Ae ri tanpa membantah. Dia segera turun dari ranjang dengan selimut yang masih dia pegang dan bergerak merapikan rambutnya. Semua pergerakannya, tentu diawasi langsung oleh Ye Joon.


"Tutup matamu dan jangan melihatku!"


Ye Joon memiringkan bibirnya.


"Kenapa? Kau takut aku bergairah padamu?" Seru Ye Joon dengan sarkas. "Bahkan meski kau tak memakai apapun di hadapanku. Aku tak tertarik padamu!"


Ae ri mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Akhh rasanya dia ingin mencakar mulut pedas itu. Namun, tak mau membuat masalah. Tak mau mencari masalah di antara keduanya.


Ae ri memilih diam. Dia lekas melepaskan selimut dari tubuhnya hingga menampipkan celana pendek yang menunjukkan paha mulus dan juga atasan baju yang sedikit menerawang. Dengan percaya diri dan juga tanpa mempedulikan Ye Joon.


Ae ri membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Dia hanya takut jika ada seseorang yang melihat dirinya.


"Aman!" Gumamnya lalu setelah itu dia lekas keluar dan meninggalkan Ye Joon yang mencengkram ujung selimut dengan gigi gemelatuk.


"Sial!"


~Bersambung