
Perlahan mobil yang dikendarai oleh sekretaris Ye Joon mulai meninggalkan restaurant. Tak ada pembicaraan apapun di sana. Seakan perkataan Ae ri beberapa menit yang lalu begitu mengusik hatinya.
Entah kenapa perkataan itu seakan terekam jelas di otaknya. Ye Joon merasa ada sesuatu yang tak rela dalam dirinya. Hingga hal itu membuatnya ingin menanyakan langsung pada Ae ri.
"Apa kau menyukai Tuan Kai?" Tanya Ye Joon tanpa peduli sekretaeisnya tengah mengendarai mobil mereka.
"Hah, apa?" Mata Ae ri membulat sempurna.
Perempuan itu mendadak tak paham akan
pertanyaan pria di sampingnya. Namun, seketika ingatannya kembali berputar saat mengatakan bahwa dia menyukai seseorang.
Senyuman licik muncul di bibir Ae ri saat menyadari jika Ye Joon pasti mengira dia menyukai Jekai.
Siapapun pasti mengatakan hal yang sama. Apalagi melihat kedekatan mereka yang begitu akrab. Ae ri yakin jika suaminya pasti berpikiran hal itu juga.
"Kalau iya, kenapa?" seru Ae ri dengan melirik Ye Joon.
"Ingat perjanjian kita, Ae ri!" Seru Ye Joon memperingati.
"Di perjanjian kita tidak ada larangan untuk menyukai orang lain," kata Ae ri mengingatkan.
"Aku tau!" balas Ye Joon dengan mimik muka yang dia buat biasa mungkin. "Jangan sampai Appa mengetahui kelakuanmu di belakangnya."
"Dan jangan lupa! Kau itu masih istriku secara sah! Jadi jaga sikapmu!" Kata Ye Joon penuh penekanan.
Wajah Ye Joon benar-benar terlihat penuh peringatan. Mata tajam itu tercetak jelas dengan alis yang hampir ketemu. Hal itu tentu membuat seseorang yang fokus mengemudi menahan tawa.
"Aku tak serendah itu, Ye," ujar Ae ri tak habis pikir. "Aku juga tahu aku masih istrimu. Aku masih memiliki suami dan harus menjaga diriku."
Ye Joon pikir dia perempuan murahan apa, yang bisa jalan dengan pria lain disaat dirinya memiliki hubungan pernikahan dengannya. Apalagi mengingat appanya. Tentu saja Ae ri tak akan berbuat senakal itu.
"Mungkin saja, 'kan?"
"Jangan bicara sembarangan. Kamu belum mengenalku, Ye!" tuding Ae ri dengan marah.
Dia segera memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Seakan perdebatan barusan akan semakin terpancing jika Ye Joon membalas ucapan Ae ri.
Hingga saat mobil mulai memasuki pelataran rumah Ye Joon. Ae ri segera turun dan membanting pintu mobil dengan keras. Dia tak peduli jika mobil itu rusak. Harga dirinya seakan tergores dengan ucapan pedas dari mulut suaminya itu.
Ae ri juga tak peduli jika disana ada tangan kanan suaminya. Sekretaris suaminya yang selalu setia berdiri di samping Ye Joon.
Ae ri juga baru paham jika Ye Joon pasti sudah cerita pada sekretarisnya tentang hubungan mereka. Melihat bagaimana Ye Joon membahas di dalam mobil membuat Ae ri tahu sektetaris suaminya sudah tahu semuanya.
Jika bukan karena appa. Aku sudah pergi dari sini, gumamnya dalam hati dan tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya.
Ae ri tak mau dibilang lemah. Dia segera berjalan dengan cepat dan meninggalkan Ye Joon yang masih berdiri disana. Tatapannya terus tertuju pada tubuh ramping sampai hilang di balik pintu.
"Apa ucapanku terlalu kasar? Tapi aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ucap Ye Joon dengan santai lalu menaikkan kedua bahunya.
~Bersambung