
"Kenapa kamu ingin tahu?" Bukannya menjawab. Ar ri malah balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu."
"Ya sudah. Tidak penting," seru Ae ri tak peduli.
"Penting, Ae ri. Katakan!"
"Kenapa kamu kepo sekali?" sembur Ae ri dengan wajah kesal.
"Memangnya aku tak boleh bertanya?"
"Boleh," sahut Ae ri santai. "Tapi bayar dulu ke aku."
Alis Ye Joon terangkat. Dia menatap Ae ri sekilas lalu kembali fokus menatap jalanan.
"Kamu ingin berapa? Sebutkan!"
"200 juta," sahut Ae ri asal menjawab.
"Aku kirim."
"Hah apa!" Ae ri terperanjat kaget.
Dia spontan mendudukkan dirinya dan menatap Ye Joon keheranan. Pria itu benar-benar sudah gila. Niat hati dirinya bercanda, kenapa pria itu menganggap serius.
"Kenapa? Kurang?" tanya Ye Joon dengan santai. "Aku tambah 500 juta tapi kamu jawab pertanyaanku."
"Kamu gila apa!" sembur Ae ri tak habis pikir. "Kamu pikir uang segitu itu sedikit?"
"Aku hanya ingin tahu tentang dirimu."
"Uang bisa dicari dengan mudah, Ae ri!" kata Ye Joon tak mau kalah.
"Ya untuk pria yang sudah terlahir kaya sepertimu," seru Ae ri dengan mata tajamnya. "Untuk orang yang tak mampu, uang lima ratus rupiah saja sangat berarti, Ye."
Ye Joon terdiam. Dia tak habis pikir kenapa wanita itu malah menceramahinya. Bukankah Ae ri sendiri yang memintanya untuk membayar. Namun, setelah dia menawarkan uang tapi gadis itu malah marah-marah.
"Lebih baik kau diam saja. Tak perlu bertanya apapun," seru Ae ri dengan kesal. "Bicara denganmu selalu membuat kepalaku sakit."
Apa ada yang salah dengan ucapanku? Bukankah dia sendiri yang meminta duluan, batin Ye Joon tak mengerti.
Dia benar-benar pria sombong yang tak menghargai uang. Dengan seenaknya dia mengeluarkan uang seakan itu hanya sebuah kertas. Benar-benar pria gila, umpat Ae di dalam hati.
Akhirnya tak ada lagi pembicaraan di dalam mobil. Ae ri benar-benar memilih diam dan memejamkan matanya. Dia masih begitu kesal pada Ye Joon dan tak mau mengatakan apapun.
Mobil yang dibawa oleh Ye Joon perlahan mulai memasuki pelataran rumah. Saat kendaraan itu sudah berhenti dengan sempurna, dia segera keluar dengan cepat dan masuk ke dalam rumah.
Ye Joon tak memperdulikan Ae ri yang masih ada di dalam mobil. Pria itu tak paham dengan kemauan wanita itu. Sedangkan Ae ri, wanita itu mengangkat bahunya dengan acuh. Dia keluar dari mobil dengan santai dan memasuki rumah tanpa beban.
"Kenapa dia yang marah?" ucap Ae ri tak habis pikir. "Bercandanya anak orang kaya memang beda menurutku. Mereka meremehkan uang yang nilainya sangat berarti untuk orang lain."
Akhhh sepertinya Ae ri juga lupa bahwa dia terlahir dari keluarga berada. Tapi mungkin dengan versi diri mereka yang berbeda.
Menurut Ae ri, seharusnya dirinya yang berhak marah. Namun, kenapa malah sebaliknya. Tak mau ambil pusing akhirnya Ae ri segera memasuki rumah besar itu. Dia tak peduli pada Ye Joon.
Tubuhnya yang lelah meminta untuk istirahat dan membuatnya melupakan sejenak tentang sosok Ye. Ae ri segera menuju ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu, dia segera menaiki ranjang dan beristirahat karena besok dia harus bekerja.
~Bersambung