
Siapa orang di kantornya yang bisa diajak kerja sama. Siapa yang ada di dekat Ye Joon, semua Yuna pantau. Dia segera menggulirkan layar kontaknya dan menekan panggilan di salah satu nomor yang ada disana.
Percayalah Yuna juga begitu posesif sejak dulu. Dia paling tak suka jika ada seseorang yang mendekati kekasihnya.
"Halo, Marissa," sapa Yuna setelah dia berjalan di tempat sepi.
"Siapa ini?" tanya Marissa dengan nada ingin tahu.
"Yuna, kekasih atasanmu, Ye Joon," ucap Yuna penuh percaya diri.
Di seberang sana Marissa terdiam. Dia menatap layar ponselnya yang menunjukkan nomor baru tersebut. Pikirannya menerawang dan mengingat siapa sosok bernama Yuna tersebut.
Hingga tak lama, matanya membulat. Dia baru mengingat sosok Yuna yang dikenal sebagai kekasih bosnya. Dia bahkan ingat bagaimana Yuna yang dibawa ke kantor oleh bosnya itu.
Wah pancingan besar. Ada apa Nona Yuna menghubungiku, gumam Marissa dalam hati.
"Marissa?"
"Ah ya, Nona. Maaf saya baru mengingat, Anda," kata Marissa sopan.
"Apa aku mengganggu waktumu? Aku ingin mengajakmu bekerja sama denganku," seru Yuna dengan mata menatap tajam ke depan.
Otaknya masih mengingat betul bagaimana pria yang dia cintai mengajak wanita yang merebut cintanya itu pulang bersama. Bahkan tatapan Ye Joon kepada dirinya sangat berbeda ketika bersama dirinya.
"Tidak, Nona. Saya sedang bersantai. Ada apa?"
"Kau mengenal Ae ri?" tanya Yuna tanpa basa-basi.
Marissa terdiam. Dia tersenyum miring seakan paham maksud Selina menghubunginya malam ini.
"Ya saya mengenalnya, Nona. Dia bekerja bersamaku," kata Marissa dengan percaya diri.
"Bagus. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku?" kata Yuna dengan senyum miring. "Buat Ae ri tak betah bekerja di perusahaan. Persulit langkahnya agar dia menyerah dan pergi."
"Hanya itu, Nona?" tanya Marissa meremehkan.
"Aku akan melakukannya untukmu, Nona," kata Marissa dengan yakin. "Itu hanya pekerjaan kecil untukku."
"Bagus. Aku akan memberikanmu uang jika rencanamu berhasil."
"Okey."
Yuna segera menutup panggilan tersebut dan memasukkan kembali ponselnya. Wajahnya menengadahkan ke langit. Gelapnya malam seperti gelapnya mata Yuna. Dia tak tahu lagi apakah yang dia lakukan benar atau tidak.
Yang terpenting tujuannya harus berhasil.
Dia harus menyingkirkan wanita perebut kekasihnya itu. Menjauhkan Ae ri dari Ye Joon agar dia bisa terus bersama cinta pertamanya itu. Yuna sudah sangat lama menjaga hubungan ini dengan Ye Joon. Namun, hanya karena restu Appa dari Ye Joon saja semuanya menjadi sulit.
"Kamu hanya milikku Ye Joon. Tak ada perempuan lain yang boleh memilikimu kecuali aku!"
...****************...
Di dalam sebuah mobil yang membawa Ae ri dan Ye Joon hanya ada keheningan. Perasaan Ae ri yang kesal membuatnya lebih memilih menatap keluar jendela daripada melihat muka menyebalkan pria itu.
Sedangkan Ye Joon, pria itu mencuri pandang ke arah Ae ri. Dia begitu penasaran tentang wanita itu. Seakan apa yang ada di dalam diri Ae ri begitu membuatnya penasaran.
Akhirnya Ye Joon berdehem. Dia ingin menanyakan sesuatu yang sejak tadi membuat pikirannya berkelana.
"Ae ri ," panggil Ye Joon dengan pelan. "Kamu tidur?"
Ae ri yang sejak tadi memejamkan matanya untuk menghindari Ye Joon akhirnya terpaksa membuka mata. Dia masih memiliki hati dan sopan santun. Maka dari itu dirinya memilih menoleh dan menatap Ye Joon dengan alis terangkat.
"Ada apa?" tanya Ae ri dengan ketus.
"Sejak kapan kamu pandai bermain piano?" tanya Ye Joon penuh penasaran.
~Bersambung