Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Tingkah Yuna


Ae ri terkejut. Bahkan dirinya sampai menegang kaku tak percaya. Dia mencoba berkedip berusaha menetralkan keterkejutannya.


"Tapi sayangnya, Om Jeon tak pernah merestui hubungan mereka," Lanjutnya yang membuat Ae ri segera menoleh.


Dia menatap kedatangan dua orang yang baru dia ketahui jika keduanya adalah sepasang kekasih. Ae ri juga bisa melihat tatapan lembut di kedua mata Ye Joon yang tak pernah dilihatnya.


Ahh! Tentu saja.


Tatapan mata itu hanya untuk kekasihnya. Bukan untuk konsumsi publik, batin Ae ri mencuat.


"Halo, Tante. Apa kabar?" sapa Yuna lalu memeluk saudara dari kekasihnya itu.


"Baik, Sayang," sahut Nadin dengan ramah. "Kamu makin cantik aja, Yuna."


"Masak sih, Tante?"


"Iya. Katanya bulan kemarin kamu dari Amerika, 'kan?" tanya Nadin dengan senyuman begitu lebar.


"Ya, hanya sebentar, Tante. Terlalu lama, Yuna tidak betah."


"Kamu sendirian?" Tanya Nadin yang sangat ramah.


Jujur Ae ri hanya diam. Dia memegang kedua tangannya di bawah meja. Perasaannya campur aduk. Antara senang dan sedih.


Senang melihat pria yang biasanya kaku dan dingin itu sekarang terlihat hidup. Tatapan mata menghangat. Bibirnya yang tersenyum tipis setiap kali menatap ke wajah wanita bernama Yuna.


"Iya, Tante. Aku sendirian."


"Coba ajak Ye Joon, pasti liburannya makin betah."


Yuna tersenyum malu. Namun, kepalanya mengangguk menyetujui ucapan dari Nadin. Tak lupa dia melirik Ae ri yang sedari tadi diam dengan senyum kemenangan.


"Appa," Lirih Ae ri dalam hatinya.


Ah entahlah. Ada perasaan tak rela dalam hati Ae ri. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Apalagi saat mata Ae ri menatap ke arah Ye Joon yang mengambilkan minuman di meja untuk Yuna.


"Ya gakpapa dong. Kalian itu sangat amat cocok sekali. Apalagi hubungan kalian sudah lama. Jadi Tante mereka kalian berdua gak akan terpisahkan!" Kata Nadin yang benar-benar merupakan tim Yuna.


"Hihi jangan, Tante. Nanti Om Jeon tak setuju."


"Ajak Hana saja, Kak. Hana mau jalan-jalan loh! Mama juga pasti ngizinin. Ya kan Ma?" celetuk Hana dengan menggaet lengan Yuna.


Ae ri tak tahu sejak kapan Hana sudah beranjak berdiri. Gadis itu juga terlihat begitu akrab dengan Yuna.


Hubungan yang lama, hubungan yang benar-benar ke jenjang serius. Membuat Yuna tahu keluarga besar Ye Joon. Apalagi setiap ada acara keluarga. Yuna selalu ikut.


"Baiklah. Nanti akan Kakak ajak."


Ae ri hanya bisa diam. Sejujurnya dia ingin muntah melihat sikap Yuna yang menurutnya berubah-ubah. Baru saja beberapa menit yang lalu, dia menjelma seperti mak lampir. Lalu sekarang berubah seperti seekor kucing imut.


Sungguh sangat munafik ketika dipandang seperti ini. Wajah cantiknya seakan lenyap dengan hatinya yang busuk. Tak ada rasa iri di mata Ae ri. Bahkan dia menyayangkan sikap Yuna yang seperti itu.


"Dia siapa, Ye?" tanya Yuna menunjuk Ae ri.


Ye Joon menoleh. Dia menatap Ae ri sekilas lalu kembali pada Yuna.


"Kenalkan dia Ae ri."


"Istri Ye Joon," sela Appa Jeon tanpa basa basi.


Entah darimana datangnya appa dari Ye Joon itu. Pria yang tak lagi muda dan memiliki wajah seperti Ye Joon menggandeng tangan menantunya. Pria itu memperkenalkan Ae ri dengan hangat.


Hal itu tentu membuat Ae ri tersenyum penuh kemenangan. Dia mengulurkan tangannya ke arah Yuna dengan ramah.


"Ae ri."


"Yuna." Keduanya bersalaman.


~Bersambung