Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Rencana Tak Terduga


Akhirnya setelah melewati drama panjang


tentang kamar dan seisinya yang membuat keduanya bertengkar. Membuat Ye Joon dan Ae ri bersitegang. Akhirnya Ae ri sudah memutuskan akan tinggal di kamar samping tepat kamar Ye Joon.


Dia tak peduli meski ada papa mertuanya atau apapun. Dia akan diam disini. Dia tak akan mau satu kamar lagi dengan suami arogan nya itu.


Dengan pelan, Ae ri, gadis yang memakai celana jeans panjang dan kaos hitam polos, terlihat baru saja turun. Dia menatap sekeliling hingga pandangannya jatuh ke arah taman yang terlihat dari jendela rumah ini.


Dengan langkah bersemangat. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat indah itu. Senyumnya mengembang saat matanya dimanjakan dengan deretan bunga mawar dan melati yang tumbuh bersamaan. Tanpa sadar matanya terpejam, dia menghirup udara pagi yang begitu segar sampai suara seseorang memanggil namanya, membuat Ae ri menoleh.


"Appa," sapa Ae ri saat melihat mertuanya berada beberapa meter dari sana.


Dia tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mertuanya yang sepertinya sedang menikmati paginya juga di taman ini.


"Tinggalkan kami berdua. Biarkan menantuku yang menemaniku," kata Jeon pada wanita yang sepertinya pelayan mertuanya.


"Baik, Tuan."


Setelah hanya ada mereka berdua. Jeon mengajak Ae ri duduk di kursi taman. Dia mengatakan ingin membicarakan sesuatu dengannya hingga membutuhkan waktu yang tak lama.


"Apakah ayahmu sudah mengatakan semuanya padamu, Ae ri?" Tanya Jeon saat mereka sudah duduk bersebelahan.


"Tentang perjodohan ini?" tanya Ae ri dengan pelan.


"Itu salah satunya," kata Jeon lalu menatap ke depan. "Apakah Lee Jin tak mengatakan bahwa kamu harus ikut ke kantor Ye Joon dan menjadi asisten Ae ri agar kamu bisa belajar bisnis juga…."


"Apa" Pekik Ae ri dengan mata terbelalak tak percaya. "Jadi Ae ari harus menjadi sekretaris pribadi Ye Joon?" sela Ae ri dengan tepat.


"Ya. Benar, Nak."


Ae ri menggeleng. Dia benar-benar tak tahu akan hal itu. Appanya tak mengatakan tentang ini. Apalagi dirinya yang seorang selebriti, penyanyi juga tak memikirkan tentang bisnis dan kantor.


"Appa tak pernah bilang tapi… " Jeda Ae ri yang mengingat akan sesuatu. "Appa hanya pernah bilang kalau suatu hari ini, Ae ri harus belajar tentang bisnis keluarga."


"Iya itu, Nak," Kata Jeon pada menantunya. "Itu maksud ayahmu tentang ini."


Ae ri terlihat tertekan. Dia bahkan memegang kepalanya karena merasa sakit. Bukan perihal soal pekerjaan tapi world Tour dirinya sudah dekat. Dia harus memikirkan bagaimana membagi waktu.


Latihan dan jadwal semuanya akan dia lakukan di tempat latihan. Dia memiliki jadwal yang padat dan semua itu tentu tak bisa diganti dengan membayar ganti rugi.


Dia harus profesional. Dia harus bertanggung jawab dengan tour kali ini. Ini adalah tour solo konsernya juga.


Mau tak mau. Suka tak suka. Dia harus bisa!


"Tapi, Appa. Ae ri memiliki jadwal… "


"Tour?" Sela Jeon yang membuat Ae ri terkejut.


"Bagaimana appa bisa tau?" Tanya Ae ri dengan mengerutkan keningnya.


Jeon tersenyum. Dia merangkul pundak menantunya dan mengusap kepalanya dengan sayang. Dia sudah menganggap Ae ri seperti putrinya sendiri.


Semenjak dia bertemu Ae ri sejak kecil. Sejak melihat bagaimana besarnya anak itu lalu ditinggal ibunya. Hal itulah yang membuat Jeon sesayang itu pada Ae ri.


"Appamu yang mengatakan semuanya, Nak. Appamu sudah mengurusnya," Kata Jeon yang membuat Ae ri semakin tak mengerti.


"Maksudnya?"


"Kamu tetap akan mengadakan tour dunia bersama teman kerjamu di agensi tapi… "


"Tapi?" Tanya Ae ri dengan tak sabar.


Ae ri terpaku. Dia semakin tak mengerti.


"Rumah Ye Joon ini lengkap dengan semua fasilitasnya. Ada ruang musik, ruang latihan dan semaunya. Jadi, selama kamu latihan tour. Semua crew kamu akan disini, kamu akan latihan disini dan paginya, kamu akan ke kantor sebentar untuk belajar tentang bisnis."


Mata Ae ri semakin melebar. Dia tak menyangka akan hal ini terjadi. Namun, setelah berkeliling rumah suaminya ini. Ae ri juga tak menolak.


Dimanapun dia latihan, yang terpenting ada tuang musik dan ruang latihan untuk coreo dancer tentu dia sudah nyaman melakukan semua pekerjaannya.


"Jadi semuanya sudah diurus?"


"Tentu. Semua crew, asisten kamu dan manager. Sudah ditelpon oleh appamu. Jadi jangan khawatir ya, Nak?"


Ae ri semakin terpanah. Namun, dia tak bisa menolak. Alasan apalagi yang akan di permasalahkan. Semuanya sudah dilakukan untuknya.


"Bagaimana? Mau kan?"


Ae ri mengangguk lemah. Dia seperti tak memiliki alasan lagi untuk berkilah.


"Iya, Appa. Ae ri mau."


"Bagus. Appa akan mengurus semuanya disini dan untuk ketentraman kamu. Appa akan tinggal disini untuk sementara waktu!"


"Tapi, bagaimana kalau Ye Joon..."


"Dia tak akan menolak, Ae ri. Ye Joon sudah setuju dengan perjanjian ini."


Perempuan dengan rambut dikuncir kuda tersebut terkejut. Dia menelan ludahnya paksa seakan tak bisa berkata-kata lagi. Bibirnya terasa kelu dan kepalanya terasa pusing. Jujur dirinya belum siap dengan semua hal gila ini.


"Mulai hari ini kamu sudah bisa ke perusahaan. Cepatlah bersiap dan sopir akan mengantarmu!"


"Tapi, kenapa cepat sekali?" tanya Ae ri dengan bingung.


Jeon tak lagi mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum dan segera menyuruh Ae ri bersiap-siap. Perempuan itu hanya bisa mengangguk dan menuruti perkataan mertuanya itu.


Dirinya tak bisa mundur lagi. Sejak pernikahan itu, perjodohan dengan Ye Joon, dirinya sudah harus siap akan apa yang terjadi di hidupnya. Hanya saja, tinggal satu langkah lagi dirinya harus memastikan. Apakah Ye Joon bisa diajak kerja sama atau tidak.


Setelah penampilannya sudah rapi. Ae ri segera keluar dari kamarnya. Dia menuruni tangga hingga bertemu mertuanya yang ada di ruang tamu.


"Ae ri berangkat dulu ya, Appa." Pamitnya lalu mencium punggung tangan Jeon.


"Hati-hati, Ae ri. Semoga Tuhan menyertai jalanmu , Nak."


Ae ri meringis dalam hati. Dia tak tahu harus menjawab apa. Pekerjaannya semakin banyak. Dia juga baru mendapatkan email jadwalnya selama latihan tour yang akan dilakukan sepulang dia dari kantor.


Akhirnya Ae ri segera menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di sana.


"Silahkan masuk, Nona," kata pria berpakaian seragam hitam dan baru pertama kali dijumpai.


"Terima…." Suara Ae ri seakan tertelan dengan matanya yang melotot.


Dia mengurungkan niatnya untuk masuk saat menyadari jika bukan hanya dirinya saja yang ada di dalam mobil.


"Kamu!" serunya dengan suara kesal.


Siapa tak menyangka jika di dalam mobil itu bukan hanya dirinya. Ternyata disana ada Ye Joon, pria menyebalkan yang harus ditemui sepagi ini.


"Masuk!" Perintah Ye Joon dengan tegas.


~Bersambung