Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Ciuman?


Jujur jantung Ae ri berdegup sangat kencang. Bahkan dia seperti ingin tercekik dengan situasi saat ini. Jaraknya dengan Ye Joon sangat dekat. Bahkan wajah keduanya yang hanya berjarak satu jengkal, membuat Ae ri bisa merasakan hembusan nafas Ye Joon yang begitu berat.


Ae ri bahkan tak mampu mengedipkan matanya. Dia tercengang dan shock sampai hanya mampu melihat kedua bola mata Ye Joon yang sama sedang memandang ke arahnya.


Tangannya memegang area dada Ye Joon. Dia mampu merasakan degupan jantung yang kuat seperti miliknya.


Entah kenapa keduanya merasa nyaman. Tak ada yang ingin melepaskan atau menjauh. Seakan keduanya terhipnotis dengan adegan ini.


Sampai akhirnya entah siapa yang memulai. Hidung keduanya mulai menyatu. Mata mereka tetap saling terfokus satu dengan yang lain.


Hingga perlahan mata Ye Joon menunduk sedikit. Memandang bibir Ae ri yang begitu menggiurkan. Sampai akhirnya ya kesadaran keduanya hilang.


Seakan tanpa sadar bibir itu mulai menyatu bersamaan dengan mata keduanya mulai terpejam. Hingga ciuman itu terjadi tanpa bisa dielakkan.


Keduanya benar-benar seakan mulai terbawa suasana. Ciuman itu bahkan mulai bergerak. Antara Ae ri dan Ye Joon seakan mulai saling menuntut.


Bahkan bunyi kecapan bibir itu mulai memenuhi ruang kamar yang kedap suara. Sampai Ae ri tak sadar jika dia sudah ada di bawah Ye Joon.


Ya wanita itu sudah tak berdaya disana. Dia benar-benar berada di bawahnya kepuasan Ye Joon.


Tangan pria itu bahkan bergerak dengan lihat. Sampai akhirnya, saat tangan Ye Joon berhenti tepat di atas gundukan Ae ri yang masih suci.


Kesadaran itu mulai naik. Tangan Ae ri mendorong dadan Ye Joon sampai dirinya bisa lepas dari kungkungan pria itu.


Ae ri menarik nafasnya dengan berat. Turun dari ranjang dengan tangan gemetar. Air matanya menetes seakan dia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ae ri!" Kata Ye Joon memanggil dengan lirih karena nafasnya juga berat.


Ae ri menggeleng. Dirinya lekas berlari keluar dari kamar Ye Joon dan membuat pria itu mengacak rambutnya ke belakang.


"Kau benar-benar hilang akal, Ye!" Umpatnya pada dirinya sendiri.


***


"Om kamu itu ada di belakang wanita itu. Makanya Mama tak bisa berbuat banyak," sahut Nadin dengan wajah malas.


"Tapi Ana tak mau melihat wanita itu di rumah ini, Ana benar-benar muak," seru Ana dengan suara pelan.


"Sabarlah, Nak. Mama yakin, Ye lambat laun akan mengusirnya. Dia juga yak mencintai wanita itu. Dalam hati Ye hanya ada Yuna."


"Kita akan tinggal disini berapa lama, Ma?" Tanya Ana berbisik.


Keduanya mengatakan itu dengan pelan karena disana ada Jeon yang membaca koran sambil menunggu anak dan menantunya turun.


"Beberapa hari saja. Mama juga ingin melihat bagaimana sikap menantu om kamu itu!"


Dari ujung tangga, Ae ri yang benar-benar kaget dan tak tahu harus apa mulai turun. Dia bahkan menghapus air matanya dengan pelan.


Suara ketukan sepatu dengan lantai membuat Jeon mendongak dan tersenyum pada Ae ri.


"Bagaimana, Nak?"


"Ye Joon sudah bangun, Appa. Tapi… "


"Tapi apa?" Tanya Jeon dengan lembut.


"Ae ri harus pergi dulu. Ae ri dapat telefon kalau harus ke kantor sekarang karena ada pekerjaan yang lupa Ae ri lakukan!" Kata Ae ri berbohong.


Dia hanya ingin menghindari Ye Joon. Dia tak tahu harus mengatakan apa karena dirinya juga menyalahkan dirinya sendiri.


"Tapi kamu belum sarapan, Nak?"


"Ae ri akan beli nanti, Appa. Ae ri berangkat dulu yah!"


~Bersambung