Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Ucapan Pedas Ae ri


Dia segera menerima uluran Paman Yota dan memaksakan senyumnya.


"Halo, Paman," Sapa Ae ri dengan sikapnya yang canggung.


Paman Yota mengangguk.


"Bagaimana kabarmu, Nona? Apa anda baik-baik saja?"


Ae ri mengangguk kaku. Dia terlihat memaksakan senyumannya seakan dirinya merasa gugup dan takut.


"Baik, Paman."


Ae ri menghela nafas lega. Dia menatap Paman Yota yang tersenyum tipis ke arahnya. Dia baru menyadari jika Paman Yota ada di pihaknya. Rahasia tentang masa lalunya akan terus terjaga sampai batas waktu yang tak bisa diduga.


"Syukurlah. Sudah lama sekali Paman tak melihatmu. Setelah kejadian terakhir waktu itu," Kata Paman Yota yang melirik ke arah Ye Joon.


"Kejadian apa jika boleh tahu, Tuan Yota?"


"Ahh hanya insiden kecil," Kata Paman Yota yang membuat Ae ri bernafas lega.


"Kalau boleh tau, Kenapa Tuan Lee Jin kenapa tidak datang?" tanya Jeon yang penasaran pada keadaan sahabat yang menjadi besannya itu.


"Tuan sedang ada perjalanan bisnis saat ini. Jadi Tuan meminta maaf tak bisa datang," kata Paman Yota dengan pandangan bersalah.


"Tidak apa-apa, Tuan Yota. Saya sangat tahu jika sahabat saya itu sangat pekerja keras."


Berbeda dengan Jeon. Ae ri menatap Paman Yota dengan tajam. Seakan meminta penjelasan apa maksud Paman Yota mengatakan itu.


Appanya bekerja? Pekerjaan bisnis?


Jadi maksudnya dalam keadaan ini Appanya masih memikirkan pekerjaan kantor?


Kenapa semua orang tak ada yang mengatakan kepadanya. Terlalu banyak berpikir membuat Ae ri tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Paman Yota dan mertuanya.


"Mari, Tuan!" Ajak Jeon dengan ramah. "Ayo, Ri. Kamu makan juga!"


Akhirnya kepergian Paman Yota dan Appa Jeon diikuti oleh Hana dan Nadin. Mereka semua menuju ke arah makanan yang disediakan dan meninggalkan Ye Joon yang masih berdiri di antara Ae ri dan Yuna.


"Cepat ambil makan, Ae ri !"


Setelah mengatakan itu, Ye Joon segera meninggalkan kedua perempuan yang saling bertatapan. Jika yang satu menatap penuh kebencian. Sedangkan yang satunya, menatap penuh ledekan.


"Apa yang kau tertawakan, Ae ri?" seru Yuna dengan marah.


"Tidak ada. Hanya saja, kau ingin menjatuhkanku tapi ternyata kau yang jatuh sendiri kan," ujar Ae ri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kau!" Seru Yuna yang hendak mengangkat tangannya tapi langsung ditahan oleh Ae ri.


"Jika kau mengangkat tanganmu. Maka kau akan terlihat semakin rendah!" Bisik Ae ri dengan tatapan tajamnya. "Apa kekalahanmu barusan belum membuatmu malu?"


"Kau benar-benar!"


"Aku tak pernah menunjukkan bakatku tapi kau yang memancingku!"


"Kau bahkan tanpa malu melakukan semuanya di hadapan istri dari Ye Joon!"


"Ae ri!" seru Yuna dengan wajah memerah.


Ae ri tersenyum penuh kemenangan. Dia melepaskan tangan Yuna yang dia tahan. Menatap perempuan yang nafasnya naik turun itu. Perempuan yang terpancing kemarahan oleh dirinya.


Sebenarnya Ae ri tak suka begini. Dia tak suka menindas orang lain. Namun, Ae ri tak akan melakukannya jika tak dipancing.


Siapa yang mulai duluan permainan. Maka dia yang akan mengikuti permainan itu. Bukankah seorang lawan akan mengikuti musuhnya.


Jadi Ae ri hanya mengikuti jalan yang diinginkan oleh Yuna.


"Jika kau masih tak memiliki rasa malu. Maka kau akan ikut di meja makan tersebut!" Kata Ae ri dengan menunjuk meja makan yang mulai diduduki oleh keluarga suaminya dan Paman Yota.


~Bersambung