
Ae ri mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar tak habis pikir jika dirinya diusir oleh ye Joon. Namun, Ae ri tak mau membuat masalah. Dia tak mau membuat keramaian dan semua karyawan tahu tentang hubungan mereka.
Mungkin seperti ini dulu. Mungkin dirinya harus sedikit mengalah. Dia tahu jika melawan Ye Joon. Dia juga rugi sendiri.
"Kalau kau tak memiliki pembicaraan lagi. Silahkan keluar dari ruanganku!" Kata Ye Joon yang membuat Ae ri lekas meraih tasnya.
Dia mengambil tas miliknya lalu segera berjalan mendekat ke arah pintu masuk.
"Aku pegang ucapanmu itu! Jangan sampai kau menyesal karena menjilat ucapanmu sendiri!" Balas Ae ri dengan ucapan pedasnya sebelum dia mulai melangkah keluar dari ruangan Ye Joon dan diikuti Mr. Park di belakangnya.
"Benar-benar pria arogan! Aku tak akan datang kemari lagi!" Umpat Ae ri saat keduanya sudah masuk ke dalam lift.
Ae ri mencoba menarik nafasnya begitu pelan. Dia merasa ingin marah dan mengumpat. Namun, sekuat mungkin perempuan itu mencoba menahannya.
Jika bukan takut ketahuan! Jika bukan karena ini area kantor. Mungkin Ae ri akan bertingkah melebihi tadi.
"Nona!"
Ae ri tersadar akan sesuatu. Di berbalik dan menatap Mr. Park yang berdiri di belakangnya.
"Jangan katakan pada Appa apa yang sudah kita lakukan ini!" Kata Ae ri memohon sambil menatap kedua bola mata bodyguard dirinya itu. "Aku tak mau membuat appa semakin sakit. Jadi apa yang kau lihat hari ini. Tolong tutupi dengan rapat!"
Ae ri benar-benar meminta dan penuh harap pada Mr. Park. Dia tak mau bodyguard dirinya yang diminta oleh appanya membongkar semuanya.
Ae ri sangat tahu bagaimana setianya Mr.. Park pada appanya. Dia sangat tahu bagaimana Mr. Park yang selalu membantu dan berdiri di samping papanya.
"Tapi Nona… "
"Tak ada kata tapi untukku, Mr. Park!" Sela Ae ri dengan tegas. "Demi kesehatan appa. Jangan pernah katakan semua yang kau lihat. Aku tak mau membuat Appa sedih karena masalah ini. Oke?"
Mr. Park mampu melihat ketulusan di mata Ae ri. Wanita muda yang wajahnya cantik dengan perpaduan tuannya itu membuat hatinya luluh. Mau tak mau, akhirnya pria dengan tubuh tegap itu menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjaganya untukmu, Nona!" Kata Mr. Park bersamaan dengan pintu lift terbuka. "Tapi… "
"Tapi apa?" tanya Ae ri dengan cepat.
"Jika terjadi sesuatu pada anda. Jika Tuan Ye menyakiti anda. Tolong beritahu saya. Anda bisa?"
Ae ri mampu melihat ketulusan Mr. Park. Tanpa menunda wanita itu mengangguk menyetujui permintaan bodyguard kesayangannya itu.
"Bisa. Aku akan menceritakan apapun jika terjadi sesuatu hal kepadaku!"
Akhirnya Ae ri dan Mr. Park kembali melewati pintu yang dia lewati saat datang. Mata keduanya menatap sekeliling sampai akhirnya mereka segera menatap ke kanan dan ke kiri untuk menyebrang.
"Apa anda pulang ke rumah besar, Nona?" Tanya Mr. Park sambil membukakan pintu mobil untuk Ae ri.
"Mungkin nanti malam aku akan kesana. Aku akan berpamitan pada appa juga tapi aku tak janji. Aku harus izin pada Ye Joon dulu," Kata Ae ri dengan mulai duduk di kursi kemudi dan menatap Mr. Park yang mulai menutup pintu mobilnya.
"Hati-hati dijalan, Nona. Jangan sungkan mengabariku kembali jika terjadi sesuatu. Oke?"
"Oke. Terima kasih atas bantuannya yah. Aku bisa lega sudah mendapatkan izinnya!"
...****************...
Ye Joon terlihat menenggak minuman yang diletakkan di atas mejanya. Dia benar-benar merasa moodnya buruk. Kedatangan istrinya itu selalu membuat dirinya naik darah.
Ahh bukan lagi naik darah! Melainkan dia selalu membuat mood Ye Joon buruk. Melihat wajah wanita yang dinikahinya atas paksaan appanya itu membuat Ye Joon mulai tak betah dengan kertas kertas di depannya ini.
Pria itu melonggarkan dasinya. Dia menarik dasinya ke bawah lalu membuka kancing paling atas karena merasa sesak. Setelah itu, Ye Joon beranjak berdiri.
Dia berjalan ke arah kaca yang memperlihatkan gedung tinggi yang berada di area kantornya.
Saat pria itu sedang emosi dan mencoba berdamai dengan keadaan. Suara pintu yang dibuka membuat pria itu tersulut kembali.
"Untuk apa lagi kau datang ke mari, hah?" Bentak Ye Joon yang mengira jika itu Ae ri dengan berbalik.
"Yuna!" Kata Ye Joon terkejut saat dia melihat jika sosok yang masuk ke ruangannya adalah kekasihnya.
"Apa maksudmu, Ye?" Tanya Yuna dengan kening berkerut.
"Siapa yang kau maksud, Ye?" Tanya Yuna dengan mendekati kekasihnya itu. "Siapa yang baru saja datang kemari?"
Yuna tetaplah Yuna. Wanita yang sangat amat posesif. Wanita yang pencemburu buta pada Ye Joon.
Siapapun yang mendekati kekasihnya. Wanita manapun. Bahkan karyawan disini pun pasti akan langsung didatangi oleh Yuna.
Wanita itu benar-benar sangat mencintai Ye Joon. Namun, kesalahan dia banyak. Mencintai dengan tak percaya padanya adalah salah satu hal yang begitu sulit.
"Sayang! Katakan!" Kata Yuna dengan memaksa.
Dia menggenggam jas yang dipakai kekasihnya. Mencoba meminta pria itu menjawab.
"Kalau kau gak mau bicara! Jangan pernah temui aku lagi!"
"No!" Balas Ye Joon dengan cepat.
"Katakan! Siapa yang baru saja datang kemari? Membuat penampilanmu seperti ini?" Tanya Yuna menuntut.
Percayalah, Yuna yang sering menemani Ye Joon bekerja. Yuna yang sering diam di ruangan ini, melihat kekasihnya bekerja tentu sangat hafal bagaimana cara kerja Ye Joon.
Kekasihnya adalah tipikal pria rapi dan begitu fokus. Namun, entah kenapa apa yang Yuna lihat sekarang sangat jauh amat berbeda.
"Ae ri," Kawan Ye Joon yang membuat kepala Yuna memanas.
"Untuk apa wanita perebut kekasih orang itu datang?" Umpat Yuna yang membuat Ye Joon lekas menarik tubuh Yuna dalam pelukan.
Ya Ye Joon hanya berharap kekasihnya itu agar tenang. Dia juga tak mau membuat Yuna mengamuk di ruangannya.
"Lepas, Ye!" Kata Yuna meronta. "Katakan padaku dulu? Apa yang perempuan gila itu lakukan disini?"
"Dia… " Ye Joon benar-benar takut dan bingung.
Dia takut jika kekasihnya semakin meronta seperti ini.
"Katakan atau… "
"Atau apa?" Tanya Ye Joon dengan gemetar takut.
Ye Joon sangat tahu kekasihnya. Sikap dan kegilaan Yuna begitu nyata.
Perempuan itu tak takut apapun. Yuna bukan wanita menye-menye. Hal itulah yang membuat beberapa orang bahagia dan semangat.
"Aku akan menghancurkan diriku sendiri! "
"Nggak!" Seru Ye Joon ketakutan. "Aku tak mau kehilanganmu!"
Ye Joon menangkup kedua pipi Yuna. Pria itu saling menatap mata mereka satu dengan yang lain.
"Kalau kau tak mau kehilanganku. Jauhi wanita itu, Ye! Jauhi dia dan kalau perlu beda kamar. Aku tak mau berbagi milikku dengan orang lain. Jika sampai itu terjadi maka aku akan bunuh diri!"
~Bersambung