
Akhirnya Ae ri segera kembali ke dalam. Dia segera berjalan mendekati Appa Jeon yang sudah kembali berbicara dengan Paman Yota. Ya, tadi Ae ri meminta pamannya itu untuk kembali terlebih dahulu agar tak memancing kecurigaan semua orang.
Ae ri lebih banyak diam. Namun, sejujurnya dia menyadari jika Ye Joon sejak tadi menatapnya dalam diam. Dia tak bisa melakukan apapun bahkan untuk membalas tatapan Ye Joon, Ae ri rasanya malas.
Bagaimana dia bisa bermain piano begitu lihai? Sejak kapan dia bisa memainkannya, batin Ue Joon dalam diam.
Ini bukan hanya Ye Joon. Banyak orang yang datang memikirkan itu. Sebagai seorang penyanyi, siapa yang tak mengenal Ae ri. Semua yang ada disini tentu kenal. Dan sangat tahu sepak terjang Ae ri di dunia entertainment.
Kehidupan artis yang selalu diekspos membuat mereka bisa menerka bagaimana kehidupan Ae ri.
Melihat waktu yang terus beranjak naik. Akhirnya Ae ri pamit untuk pulang terlebih dahulu. Dia segera pergi meninggalkan gedung perayaan sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
Hingga saat dia terlalu fokus menunduk. Tubuhnya menabrak sesuatu yang membuat tubuhnya sedikit mundur.
"Aduh siapa…." Suara Ae ri seakan tertelan lagi.
Matanya membulat saat melihat siapa sosok yang menghadangnya itu.
"Ye Joon!" seru Lora kesal. "Kamu ngapain sih hadang aku?"
"Kita pulang!"
"Gak mau. Aku pulang sendiri!" kekeh Ae ri dengan mata membulat.
Dia benar-benar tak habis pikir dengan pria di depannya ini. Ye Joon adalah sosok orang yang tak bisa ditebak. Kadang dia enak diajak kerjasama dan ada kalanya dia sangat menyebalkan. Benar-benar pria yang sulit ditafsir menurut Ae ri.
"Ingat perjanjian kita, Ae ri!" seru Ye Joon dengan nada dingin. "Selama 1 tahun kamu adalah tanggung jawabku. Jadi jangan merepotkan!"
"Aku ingat! Tapi aku ingin pulang sendiri," kata Ae ri dengan tegas.
"Ini sudah malam!"
"Sudah biasa, Ye!"
"Jangan membantah, Ae ri. Masuk!"
Melihat tatapan Ye Joon yang dingin. Entah kenapa membuat nyali Ae ri menciut. Dia akhirnya berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju mobil yang sudah menunggu mereka di sana.
Mulut Ae ri tak henti memaki, menghina dan mengutuk anak dari Appa Jeon itu. Pria itu benar-benar sangat sangat menyebalkan jika seperti ini.
"Kalau tak ingat surat perjanjian itu. Aku pasti sudah menendang burungnya," ucapnya pelan dengan mulut memberengut.
Tanpa berbicara Ae ri segera masuk ke dalam mobil dan membanting pintu itu. Ye Joon yang melihat hanya menggelengkan kepalanya. Tingkah Ae ri saat ini sudah seperti anak kecil. Namun, entah kenapa dia tak bisa marah.
Akhirnya Ye Joon segera menyusul Ae ri dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Dia segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya membelah jalanan.
Tanpa keduanya sadari jika sejak tadi, ada sepasang mata yang menatapnya penuh amarah. Bahkan kedua tangannya terkepal kuat dengan sumpah serapah ditujukan untuk Ae ri.
Dia tak bisa tinggal diam. Yuna merasa dia harus melakukan sesuatu sehingga membuatnya segera meraih ponselnya. Selama ini, perempuan itu selalu memata-matai pergerakan Ye Joon.
"Aku tak akan membiarkan ini terus terjadi. Ye Joon milikku. Selamanya akan menjadi milikku!"
~Bersambung