Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Kedatangan Papa Mertua


"Nyonya," sapa semua orang ketika Ae ri tiba-tiba datang ke arah dapur.


Semua pelayan yang ada di sana tentu langsung menunduk hormat. Mereka semua sama-sama segan pada Ae ri. Apalagi wanita cantik dengan pakaian yang sangat sederhana itu terlihat mulai mendekati meja dapur yang terdapat beberapa bahan makanan yang hendak dimasak.


"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" Tanya Pak Yin dengan hormat.


"Untuk malam ini, biarkan aku memasak sendiri, Pak Yin," Ujar Ae ri dengan pelan.


Hal itu tentu membuat semua pelayan terkejut. Bahkan Pak Yin, pria itu memandang istri tuannya dengan pandangan tak percaya.


"Tapi, Nyonya. Tuan… "


"Tuanmu tak akan tahu. Dia tak ada disini. Jadi, boleh ya, Pak?" Bujuk Ae ri dengan wajah memohon.


Pak Yin melirik ke semua pelayan yang ada di dapur. Entah kenapa Ae ri merasa semua sikap pelayan disini mencurigakan. Seakan apa yang dia katakan barusan seperti ucapan aneh yang baru didengar oleh semua orang.


"Baiklah. Anda boleh menggunakan dapur ini sesuai keinginan anda, Nyonya," Kata Pak Yin yang tak mungkin bisa menolak permintaan istri tuannya.


Wajah Ae ri tentu tersenyum cerah. Wanita itu seperti mendapatkan mainan besar saat dia bisa memasak di dapur baru yang akan menjadi tempatnya bereksperimen sekarang.


"Tapi… "


"Ya?" Tanya Ae ri yang menunggu lanjutan kepala. Pelayan di depannya ini.


"Jika anda butuh sesuatu. Panggil salah satu dari kami. Kami akan siap menunggu anda di belakang," Ujar Pak Yin yang membuat Ae ri mengacungkan jempolnya.


Akhirnya semua pelayan pergi dari sana. Mereka menunduk hormat secara bersama. Lalu memberikan wilayah dapur sepenuhnya untuk perempuan yang mulai menata bahan makanan itu dengan apa yang dia mau.


"Aku ingin membuat capcay," Ujarnya lalu membuka kulkas yang ada di bagian dekat dapur.


Dia membuka lemari itu. Mencari sayuran yang akan dia pakai. Mencari bakso yang akan digunakan serta sosis.


"Kulkas ini lengkap banget. Udah kayak di market, semuanya serba ada," Lirih Ae ri dengan menahan tawa.


Akhirnya wanita itu mulai mengembalikan bahan makanan yang tak ia pakai ke dalam lemari pendingin. Setelah itu dia mulai memotong sayuran serta ikan yang akan dia gunakan.


Semua bahan makanan Ae ri potong dengan cekatan. Tangan cantik dan mulus itu, terlihat sangat familiar dengan dapur.


Namun, mau ditolak atau tidak. Mau ditutupi atau tidak. Meski dia terlahir sebagai seorang model dan penyanyi. Meski dia kaya raya. Ae ri tetaplah Ae ri. Anak yang mandiri dan keras kepala.


Apa yang dia mau, apa yang dia inginkan. Mau tak mau, bisa tak bisa. Akan dia usahakan.


Saat Ae ri memasak dengan bersenandung. Saat dia begitu menikmati waktu sendirinya. Waktu memasak adalah waktu yang sangat dia sukai karena ia bisa mencurahkan dirinya dengan apa yang sangat ia sukai.


"Ae ri," Panggil suara dari belakangnya yang membuat tubuh Ae ri menegang.


Perempuan itu lekas menoleh dan benar saja. Dia hampir kehilangan nafas jika saja dirinya tak berusaha untuk tetap tenang.


Ae ri mengecilkan kompornya. Dia mendekati mertuanya lalu segera meraih punggung tangan Jeon Joon Wo dan mencium tangannya.


"Appa sendiri," Jawab Joon wo pada menantunya.


Mata pria tua itu menelisik. Dia mencoba mencari seseorang yang sangat dia cari.


"Kemana Ye Joon?"


Deg.


Jantung Ae ri tentu berdegup kencang. Dia berusaha mencari alasan. Apa yang akan ia katakan setelah ini.


"Ae ri?" Panggil Joon Wo yang membuat Ae ri menghela nafas berat.


"Ye keluar, Appa."


"Sejak kapan?" Tanya Joon Wo dengan nada suara tak enak.


Ae ri merasa takut. Namun, dia tak mungkin membohongi mertuanya. Dia tak mau membuat kepercayaan mertuanya tercemar kepadanya.


"Sejak tadi," Ucap Ae ri yang membuat nafas Joon Wo tak beraturan.


Hal itu tentu membuat Ae ri khawatir.


"Appa maafkan Ae ri," Kata Ae ri dengan khawatir.


"Kamu gak salah, Nak. Anak itu memang suka main-main. Appa akan menelfonnya!"


"Tapi Appa. Mungkin Ye sedang bekerja. Dia… "


"Seharian ini Papa di perusahaan."


Ae ri tak bisa membela apapun. Apalagi saat mertuanya pergi dari sana dengan tergesa-gesa.


Joon Wo terlihat meraih ponselnya. Dia segera mencari nomor ponsel putranya dengan cepat dan sekali gerakan. Pria tua itu segera melakukan panggilan.


"Kemana kau, Ye!" Seru Joon Wo dengan tak sabar.


Panggilan itu terus berdering. Sampai di seringan terakhir. Akhirnya panggilan itu tersambung.


"Ha… . "


"Cepat pulang sekarang atau! Appa akan benar-benar mencabut hak kamu, Ye Joon!"


~Bersambung