
Sambil menggertakkan giginya, Billy hanya bisa mengangguk.
“Saya pernah bertemu dengan Tuan Yansen”
Kata–kata Billy ambigu, karena pernah bertemu belum tentu dia mengenal Tuan Yansen.
“Awalnya kalian hanya perlu berlutut dan minta maaf saja, tapi tidak disangka kalian malah menjual nama Tuan Yansen sembarangan, karena sudah seperti ini maka hari ini kalian tidak akan bisa pergi dari sini”
Kata–kata Rafli yang menakutkan membuat sekelompok orang–orang yang tidak tahu apa–apa itu merinding.
“Hahaha, dasar preman jalanan, apa kalian tahu siapa orang yang ada dihadapan kalian ini? Dia adalah pembunuh bayaran nomor satunya Dexter, tangan kanan dari Tuan Yansen, kalian malah membual dihadapannya dan mengaku mengenal Tuan Yansen, sepertinya kalian bosan hidup”
Fitra mulai tertawa terbahak–bahak.
Sekelompok orang ini hanyalah orang biasa yang sangat biasa, mana mungkin mengenal Yansen, Fitra tahu kalau mereka pasti sedang berakting.
Tentu saja, setelah mendengar kata–kata Fitra, Billy langsung berkeringat dingin, dia tidak menyangka bualan nya akan membuat dirinya berada di posisi terpojok.
Hanya saja, bawahan Billy benar–benar tidak banyak berpikir, mereka menganggap kalau Billy benar–benar mengenal Yansen.
Begitu juga dengan Mona yang mempercayai kebohongan itu, Billy pasti mengenal Yansen, bahkan jika Billy tidak mengenalnya pun, temannya Billy pasti kenal, kalau tidak bagaimana.
Mungkin Tuan Yansen akan membantu keluarga mereka mendapatkan kembali piutang perusahaan mereka?
“Pak Fitra, tadi kami juga sudah minum banyak dan mabuk, sekarang kami akan meminta maaf padamu, semoga Pak Fitra”
Billy menciut, dan mulai meminta maaf kepada Fitra.
Hanya saja belum sempat menyelesaikan ucapannya, Rafli langsung menyela.
“Berani menjual nama Tuan Yansen, minta maaf saja tidak akan cukup, bisa tetap hidup atau tidak, itu tergantung keberuntungan mu"
Selesai berkata, Raffi melambaikan tangannya dan berkata.
“Bawa mereka semua pergi, biarkan Kak Dexter yang mengadili”
Segera, belasan preman berwajah sangar itu langsung mengepung mereka, membuat Billy, Mona dan yang lainnya terkejut setengah mati.
Rico yang ada dipojok ruangan juga ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetaran, celananya basah, dan kedua tangannya mencengkram erat lengan baju Dave.
Dia hanyalah seorang mahasiswa baru, belum pernah melihat kejadian seperti ini, dan sekarang dia sudah sangat ketakutan.
Melihat Rico ketakutan hingga seperti itu, Dave menepuk–nepuk pundaknya dan berkata.
“Tenanglah, tidak aka nada masalah”
Segera, mereka dibawa pergi menuju ruangan Dexter.
Saat ini Dexter sedang menyipitkan matanya dan menikmati pijatan sekretarisnya, dan saat melihat Raffi kembali dengan sekelompok bocah bocah, dia mengernyitkan keningnya dan berkata.
“Rafli, untuk apa kamu membawa sekelompok bocah ini kemari?”
“Kak Dexter, mereka adalah orang yang memukuli bawahannya Pak Fitra”
“Saya kan sudah menyuruhmu mengurusnya, kenapa malah dibawa ke ruanganku?”
Wajah Dexter terlihat tidak senang.
“Kak Dexter, bocah ini berkata kalau dia mengenal Tuan Yansen, dan sangat akrab dengan Tuan Yansen, maka saya membawanya kemari untuk Kak Dexter adili"
Raffi sibuk menjelaskan.
“Apa?”
Dexter yang mendengarnya langsung membenarkan posisi duduknya, dan menatap Billy dengan dingin.
“Kamu mengenal Tuan Yansen?”
“Saya….saya….”
Billy terbata–batam
“Teman saya mengenal….”
“Siapa nama temanmu? Saya sudah lama ikut dengan Tuan Yansen, orang–orang yang dikenalnya, pasti saya tahu namanya”
Dexter meneruskan pertanyaannya.
Saat ini, Billy sudah tidak bisa menjawab, dia sebenarnya tidak memiliki teman yang kenal dengan Tuan Yansen, dengan statusnya itu mana mungkin dia bisa mempunyai koneksi dengan Tuan Yansen.
Bam….
Tiba–tiba Dexter membanting mejanya dan bangkit berdiri.
“Besar sekali nyali kalian, berani menjual nama Tuan Yansen sembarangan”
...Bersambung........
...Jika ada saran dan kritik silahkan tulis di kolom komentar 👉...
...Dukung terus Novel Perintah Kaisar Naga dengan cara:...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote 🗳️...
...Hadiah 🎁...
...Dan klik Favorit 💜 biar tidak ketinggalan update terbarunya....
...Terimakasih...