
Bambang menjadi tertekan, dia kelihatan ingin memukul Dave.
Indrawan yang melihat itu segera menghadang Bambang.
“Bambang. Tuan Dave sedang mengobati istrimu, apa yang kamu lakukan?“
“Tenang saja, istrimu ini hanya pingsan, dia tidak akan kenapa kenapa”
Dave berkata lalu duduk di sisi ranjang, satu tangannya memegangi nadi wanita tua itu, dan kemudian memindahkan sejumlah energi spiritual dari tubuhnya ke tubuh wanita itu.
Kalau wanita tua itu kesurupan, maka energi spiritual yang Dave pindahkan kedalam tubuhnya pasti akan memaksa setan itu keluar, tapi tidak peduli sebanyak apapun energi spiritual yang Dave pindahkan, wanita tua itu tidak bereaksi.
Dave mengernyitkan keningnya. “Lantas apakah saya salah?”
Sejak awal Dave mengira wanita tua ini kesurupan, dan dia perlu memaksa setan itu untuk keluar dari tubuh wanita tua lalu menyerap energinya dan memperbaikinya, tapi sekarang, kelihatannya wanita tua ini tidak kesurupan.
“Tuan Dave?”
Indrawan berteriak pelan pada Dave yang termenung, dengan raut wajahnya yang sedikit aneh.
Yuki juga memberanikan diri untuk berdiri disamping Dave, meskipun dia takut, tapi dia juga penasaran seperti apa rupa setan itu.
Tapi Dave tetap termenung, dan suasana di kamar itu menjadi canggung.
Dave menarik tangannya perlahan, keningnya terlihat mulai berkeringat.
Tadi dia mengerahkan terlalu banyak energi spiritual, dan membuatnya sedikit kelelahan.
“Dia bukan kesurupan, saya akan memeriksanya lagi”
Setelah berkata, Dave mengambil jarum perak dan menusukkannya pada pergelangan tangan wanita tua itu lalu memutarnya dengan pelan.
Segera, jarum perak itu menusuk secara menyeluruh ke pergelangan tangan wanita tua.
Setelah beberapa saat, Dave menarik jarum perak itu dan pergelangan tangan wanita tua itu tiba- tiba meneteskan darah hitam.
Saat melihat tetesan darah hitam dari pergelangan tangan wanita tua, semua orang tercengang, terutama Bambang, wajahnya terlihat sangat panik, dia ingin mengatakan sesuatu tapi takut akan mengganggu Dave.
“Tuan Dave, apa yang terjadi?”
Indrawan merasa heran, orang biasa tidak mungkin meneteskan darah hitam.
“Ini adalah gejala keracunan, sepertinya dia keracunan dan membuat kewarasannya terganggu, makanya dia menjadi seperti orang gila”
Dave menjelaskan.
“Keracunan?”
Indrawan tercengang, dia menatap Bambang lalu berkata.
Bambang mengernyitkan keningnya dan memikirkannya kembali, lalu menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya dia tidak memakan apapun, setelah pulang dari berziarah, kami hanya makan seperti biasa, saya juga ikut makan, kenapa saya tidak keracunan?”
Seketika itu Indrawan juga tidak tahu harus berkata apa, dia hanya menatap Dave.
“Coba ingat–ingat lagi, apakah istrimu memakan sesuatu setelah berziarah, meminum air, memakan buah–buahan atau tanaman liar, atau memegang sesuatu yang ada disekitar sana?”
Dave kembali bertanya kepada Bambang.
“Tidak….tidak ada, tidak memegang apapun"
Hanya saja, saat menjawab, Bambang menghindari tatapan mata Dave.
Melihat Bambang yang bersikap seperti itu, Dave tahu kalau dia pasti sedang berbohong.
Karena mereka tidak berniat berkata jujur, maka tidak peduli betapa Dave mengasihani mereka, dia juga tidak bisa menyembuhkannya.
“Kalau begitu, kalian cari saja dokter lain, saya tidak bisa menyembuhkannya”
Dave menyimpan kembali jarum perak dan hendak pergi.
Seketika itu Bambang menjadi panik, dan Indrawan juga menyadari kalau Bambang sedang menyembunyikan sesuatu, lalu memarahi Bambang.
“Bambang, saya meminta bantuan Tuan Dave untuk menyembuhkan istrimu, tapi kamu malah tidak mau berkata jujur, apa kamu berniat melihat istrimu mati begitu saja?”
Bambang tampak serba salah, dia melihat istrinya yang terbaring di ranjang, dan menggertakkan giginya dan berkata.
“Kami memang melihat sesuatu saat berada di kuburan, lalu istriku mengambilnya dan membawanya sampai ke rumah”
...Bersambung........
...Jika ada saran dan kritik silahkan tulis di kolom komentar 👉...
...Dukung terus Novel Perintah Kaisar Naga dengan cara:...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote 🗳️...
...Hadiah 🎁...
...Dan klik Favorit 💜 biar tidak ketinggalan update terbarunya....
...Terimakasih...