
Gofan tersenyum ketika melihat Urore setuju dengan ajakannya. Kemudian Gofan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong ruang pemberian Julala.
Kotak kecil itu adalah sebuah Sangkar Gaib, sebuah benda ajaib yang khusus digunakan untuk tempat tinggal Makhluk buas piaraan, seperti yang dimiliki Yubing.
Gofan mengetahui adanya Sangkar Gaib di antara tumpukan harta Lenchan, saat dia mengambil beberapa Mutiara Jiwa untuk Xionan.
" Xiashe, bisakah aku menggunakan Sangkar Gaib ini? " Tanya Gofan kepada Ular Sisik Naga itu.
Setelah diam sesaat Gofan memutuskan untuk menggunakan Sangkar Gaib yang ada di tumpukan harta berharga Lenchan untuk menyembunyikan ketiga teman Makhluk buasnya saat bepergian ke Kota Langit Cahaya.
" Terserahmu saja. Ssh... Bukankah sudah ku bilang, harta itu juga adalah warisan untukmu... "
" Tapi jangan harap aku mau diam di sangkar itu! " Sahut Julala yang mengetahui niatan Gofan, saat mengeluarkan Sangkar Gaib.
*Blazh*
Julala merubah ukuran tubuhnya menjadi sangat kecil, seukuran telapak tangan Gofan.
" Gofan. Aku lebih memilih tinggal di saku bajumu, di dalam sangkar itu sangat pengap. Aku tidak suka! " Julala merayap mendekati Gofan dan menyelinap masuk ke saku baju Gofan.
Gofan mengangguk dan berjalan ke arah Urore sembari masih membawa Xiaobai di dalam dekapannya.
*Aku tidak akan membuat perjanjian kontrak dengan kalian, jadi untuk sementara, aku harap kalian akan rela bersembunyi di dalam Sangkar Gaib ini * Ucap Gofan kepada Urore dan Xiaobai.
Gofan tidak yakin Xiaobai akan mengerti ucapannya, dia hanya berharap teman kecilnya itu akan rela masuk dan bersembunyi dengan aman di dalam Sangkar Gaib untuk sementara waktu.
Urore tidak menjawab dan hanya meletakkan cakar kanannya di atas Sangkar Gaib yang kini diletakkan Gofan di atas permukaan tangan kanannya. Seketika, tubuh Urore menjadi bola-bola cahaya dan masuk ke dalam Sangkar Gaib.
Seperti yang dikatakan Gofan, selain melalui perjanjian kontrak, seekor Makhluk buas yang rela untuk tinggal di dalam Sangkar Gaib, akan langsung bisa ditempatkan di dalam kotak kecil itu. Urore telah masuk ke dalam Sangkar Gaib, itu berarti dia rela untuk diam di dalam kotak kecil tersebut.
" Bagaimana denganmu kawan? " Tanya Gofan kepada Xiaobai yang masih di dalam dekapannya.
Xiaobai meringis seperti menolak untuk tinggal dengan rela di dalam Sangkar Gaib. Meski demikian, Xiaobai memberikan cakar kanannya yang telah dia gigit hingga berdarah ke tangan Gofan yang mendekapnya.
" Sepertinya anjing kecil ini ingin melakukan perjanjian kontrak denganmu " Ucap Zuena ketika melihat tingkah laku Xiaobai.
Perjanjian kontrak antara manusia dan Makhluk buas sudah lumrah terjadi di kalangan pendekar, apalagi jika itu adalah pendekar dari Perguruan Dewa Binatang.
Demi mengendalikan Makhluk buas, para pendekar dari Perguruan Dewa Binatang akan melakukan perjanjian kontrak secara paksa kepada Makhluk buas yang mereka inginkan menjadi piaraan mereka.
Perjanjian kontrak dilakukan melalui penyatuan darah antara manusia dan Makhluk buas. Dengan demikian akan muncul sebuah ikatan di antara manusia dan Makhluk buas yang melakukan perjanjian.
Ikatan tersebut cenderung akan merugikan si Makhluk buas, sebab jika si manusia meninggal, maka si Makhluk buas juga akan meninggal namun tidak sebaliknya.
Gofan diam melihat cakar Xiaobai yang berdarah. Gofan ragu untuk melakukan perjanjian kontrak dengan Xiaobai.
' Aku masih belum cukup mampu untuk melindungi diriku, bagaimana aku akan mampu melindungimu? Bagaiamana jika akhirnya aku mati? ' Batin Gofan.
Saat Gofan diam, Mouhuli berjalan mendekatinya dan menepuk pundaknya.
" Tenang. Kamu pasti bisa. Dengan tanggung jawab yang besar akan datang kekuatan yang besar, begitu juga sebaliknya... "
" Tentunya jika kamu masih terus berusaha dan tidak menyerah " Ucap Mouhuli meyakinkan Gofan untuk melakukan perjanjian kontrak dengan teman barunya itu.
" Terima kasih Leluhur " Sahut Gofan yang kini yakin untuk melakukan perjanjian kontrak setelah mendengar kata-kata Mouhuli.
Dengan demikian, Gofan pun melakukan perjanjian kontrak dengan Xiaobai sebelum anjing kecil itu berubah menjadi bola-bola cahaya dan masuk ke dalam Sangkar Gaib.
Untuk menjadi si Pemilik Sangkar Gaib, Gofan menorehkan sisa darah di jarinya ke atas kotak kecil itu. Sangkar Gaib itu berpendar dan menyerap habis tetesan darah Gofan yang ditorehkan di atasnya.
" Ayo... Sudah saatnya kita pergi dari tempat ini! " Ucap Mouhuli ketika melihat semua persiapan telah usai.
Gofan beserta rombongan melangkah masuk ke dalam Gerbang Dimensi, mengikuti langkah Mouhuli yang telah terlebih dahulu masuk.
Memang tidak salah, Kota Langit Cahaya dijadikan sebagai pusat Kerajaan Penda, sebab Kota itu dikelilingi oleh pegunungan yang melingkar bagaikan benteng, sangat luas dan megah. Selain itu ada dua pusat Perguruan Tingkat Darah Murni yang berdiri di Ibu Kota Kerjaan Penda itu.
Kota itu juga memiliki banyak sumber daya, mulai dari tambang emas yang berguna bagi orang biasa hingga tambang batu darah yang berguna bagi para pendekar.
Tidak hanya itu, setiap gunung yang mengelilingi Kota itu, memiliki energi langit dan bumi yang luar biasa tebal, sehingga banyak perguruan bela diri menjadikan Kota Langit Cahaya sebagai pusat perguruan mereka.
Sebagai sebuah Ibu Kota, Kota Langit Cahaya menyediakan berbagai fasilitas akomodasi dan transportasi kelas atas. Salah satunya adalah Restoran Lumbung Parta yang akan dituju Gofan dan rekan-rekannya saat ini.
Restoran Lumbung Parta di Kota Langit Cahaya merupakan pusat dari semua cabang restoran yang ada di Benua Penda. Restoran ini lebih megah daripada yang ada di Kota Gimora tempat pertemuan Yanse dan kelompoknya.
Gofan dan rombongannya sekarang berjalan di jalanan pusat Ibu Kota hendak menuju ke arah Restoran Lumbung Parta. Ide pergi ke restoran itu dicetuskan oleh Zuena. Untuk mengetahui keberadaan Yubing dan Nian mereka memerlukan informasi, dan restoran adalah salah satu tempat informasi bermunculan.
" Kota ini masih seramai dahulu, aku sudah lama tidak kemari " Gumam Gofan.
" Kamu pernah kemari? " Tanya Mouhuli yang mendengar gumaman Gofan.
" Pernah. Aku pernah tinggal di Kota ini dan menjadi pelayan di sebuah restoran kecil selama beberapa bulan "
Gofan mengangguk dan mengingat sekilas kehidupannya beberapa tahun sebelum dia ditangkap sebagai tahanan para Bandit Serigala Biru.
" Aku juga pernah kemari, tapi dulu tidak seramai ini. Setelah 700 tahun, aku tidak menyangka tempat ini akan seramai ini, bahkan bangunan-bangunan seperti ini pun baru pertama kali ku lihat " Ucap Mouhuli yang juga mengingat keadaan Kota Langit Cahaya 700an tahun yang lalu.
" Manusia memang tidak pernah puas, kalian terus saja memperbarui bangunan yang sudah bagus " Celetuk Bailaohu yang berjalan di sebelah Mouhuli.
Bailaohu melihat sebuah bangunan yang masih terlihat bagus, dibongkar kembali dan diperbaharui, dibuat menjadi bertingkat.
Gofan hanya menggelengkan kepala pelan dan tersenyum kecil menanggapi celetukan Bailaohu.
Sementara Xioming dan Zuena menoleh dengan takjub, perubahan Kota Langit Cahaya setelah 700an tahun berlalu. Menurut mereka Kota Langit Cahaya menjadi lebih megah dan lebih sempit. Banyak bangunan-bangunan bertingkat dan juga perguruan bela diri baru yang sekarang berdiri di Kota tersebut.
Di sisi lain, Xionan yang terbang melayang tidak begitu antusias dengan perkembangan yang terjadi di Kota Langit Cahaya setelah 700an tahun berlalu. Perasaan Xionan sedang gundah, karena perubahan sikap Gofan kepadanya.
' Fanfan, kenapa kamu mendiamiku? ' Tanya Xionan ketika mereka terus berjalan ke arah Restoran Lumbung Parta.
Selama perjalan dari Gerbang Dimensi, tidak sekali pun Gofan mengucapkan sesuatu kepada Xionan.
' Apa ini karena aku murid perguruan tingkat darah murni? ' Imbuh Xionan yang menyadari ada hal yang janggal dari Gofan setelah dia mengatakan asal-usul perguruannya kepada Xioming dan Zuena.
Xionan tahu bahwa Gofan memiliki masa lalu yang tidak baik berkaitan dengan trah darah murni, jadi Xionan ingin memastikan kembali dan bertanya kepada Gofan.
Belum sempat Gofan menanggapi pertanyaan Xionan, sebuah kereta kuda berjalan menghampiri Gofan dan rombongan.
" Hei... Kalian!! Minggir!! Beri jalan!! " Teriak si Kusir kereta kuda.
Kereta kuda itu tampak mewah dan dilapisi emas di beberapa bagiannya. Kereta itu juga dikawal oleh beberapa pendekar berkuda yang mengenakan pakaian bangsawan.
Gofan tidak menyingkir dari posisinya, sebab dia sudah berjalan di jalan yang benar. Gofan dan rombongannya sudah berjalan di sisi luar jalan.
' Arogan sekali! Masih ada sisa jalan di sana, kenapa Kusir ini tidak membelokkan sedikit laju kudanya?! ' Batin Gofan.
Gofan tidak menanggapi dan tetap berjalan maju. Melihat yang dilakukan Gofan, rombongannya pun tidak mengindahkan teriak si Kusir kereta kuda tersebut.
" Kurang ajar! Kalian tuli ya? Minggir!! " Teriak si Kusir kereta kuda sekali lagi.
Namun Gofan dan rombongan tetap berjalan maju. Baru saja Gofan hendak menjawab pertanyaan Xionan, seorang pemuda dari dalam kereta menoleh keluar dari jendela kereta.
" Suruh mereka minggir atau singkirkan mereka, ini sudah siang, kita harus segera tiba di Istana " Ucap pemuda itu kepada si Kusir kereta dan para pendekar berkuda yang mengawal kereta kuda tersebut.
Bersambung...