
Enam hari berlalu. Bulan Purnama akhirnya bersinar terang, malam ini, tepat enam hari kemudian setelah kesadaran Gofan keluar dari dalam Menara Dewa Naga setengah jadi.
Selama waktu itu, satu per satu kejadian terjadi tepat seperti yang digambarkan dalam lukisan Lengyue.
Pada hari kelima. Di luar Area Turnamen Pulau, dikepung oleh ratusan Kelompok Bandit Serigala Biru. Pemimpinnya tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang menculik Lengyue, Dongkho. Di sana juga terlihat rekan satu timnya, Xionghuo. Entah apa yang dijanjikan padanya, kini dia juga mengenakan jubah kebesaran Bandit itu, sebagai Kapten Bandit ke-13. Saat melihat Dongkho dan Xionghuo, Qimouzha mengamuk lagi, tapi tetap tidak bisa berbuat lebih.
Zawugi dan Mukene jelas kaget, mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya berpikir, perpecahan mungkin sedang terjadi di dalam kelompok Bandit Serigala Biru. Kenapa kami tidak diberitahu tentang pengepungan ini?! pikir keduanya, saat mereka bingung harus berbuat apa.
Pada hari keempat, satu demi satu, tiga Teratai Beku Langit Utara melayang, terbang di atas Formasi Tameng Harimau Naga. Ada sekitar 30an Pendekar di masing-masing alat terbang itu. Tungdie, Xingmou, Huangkong, Guxiu, bahkan Tianyekwang juga ada di antara kumpulan Kultus Abu-Abu itu. Kehadiran Tianyekwang membuat Shiyuxin mendongak heran.
Kehadiran Tianyekwang juga menguak fakta mengenai kematian Zuena dan menghilangnya Kakak Xionan, Xioming. Itu juga menjelaskan kenapa dulu Kipas Lipat Besi Dewi Kipas bisa berada di tangan Tianyekwang. Mengetahui hal itu, Xionan lepas kendali, dia mengamuk namun sama seperti Qimouzha, dia tidak dapat berbuat lebih. Tapi setelah melihat Xionan mengamuk, pada akhirnya, Nian dan Shiyuxin tahu seberapa tinggi tingkat budidaya asli Xionan.
Wajah Nian dan Shiyuxin pucat saat melihat Xionan mengamuk, “Se-seorang Human God... Dia menekan budidayanya hingga menjadi ranah Grand Master?.” Keduanya bersyukur, Xionan dan mereka adalah sekutu. Terlebih lagi Shiyuxin, dia bersyukur, tidak pernah bertarung dengan Xionan, hanya beradu mulut. Setelahnya, ini membuatnya berhati-hati saat berbicara dengan Xionan.
Hari-hari sebelum itu, digunakan Gofan dan teman-temannya untuk mengawasi dan mengamati pergerakan diam-diam Tianfuzi dan anggota dua Perguruan Trah Darah Murni, Perguruan Awan Langit dan Perguruan Dunia Gelap.
Setelah mendengar penjelasan Gofan mengenai identitas Sosok bercahaya, Kultus Abu-Abu, Tianfuzi, serta mengenai lukisan masa depan Lengyue. Vasudev, Mouhuli, Duan Tianlang, Qimouzha, Yuniang, Xunialiang, Zhao Feng dan lainnya, sedikit banyak mengerti apa yang tengah dan akan terjadi. Mereka juga akhirnya tahu mengenai pertempuran yang akan terjadi pada saat bulan purnama dan melakukan pengamatan pada gerakan Tianfuzi dan kawanannya.
Selama hari-hari itu mereka tidak bisa menebak apa yang mungkin direncanakan Tianfuzi, sebagai kawanan, mengapa Tianfuzi dan anggota dua Perguruan Trah Darah Murni masih di dalam Formasi?. Itu membuat Gofan dan lainnya tidak mungkin mengambil langkah terlebih dahulu. Sebab selama hari itu, baik Dewa Gelap atau pun sekutunya, tidak ada yang melakukan penyerangan.
Namun... Hari ini, saat bulan purnama bersinar terang. Lonceng besar itu kembali berdentang. Lonceng itu tidak bergerak sedikit pun, tapi berdentang secara ajaib.
*Dong!*
*Dong!*
*Dong!*
Suara Lonceng besar itu semakin lama semakin kencang. Di langit atas, awan hitam perlahan berkumpul. Awan hitam menutupi sebagian bulan, dan angin dingin bertiup sepoi-sepoi di sepanjang daratan Pulau Api, bersama dengan terdengarnya ratapan tangis, jerit kesedihan, yang sesekali terdengar seperti tersedu-sedu tetapi teredam, tidak jelas.
Pada titik inilah, tanah mulai bergetar. Awalnya sangat pelan, mengikuti dentuman Lonceng besar. Lambat laun semakin kencang. Tanah merah di Pulau itu perlahan mulai retak. Jerit tangis dan ratapan sedih itu semakin terdengar jelas, semakin jelas, seiring banyaknya celah yang muncul dari permukaan tanah. Dari celah itu, satu demi satu asap-asap hitam keluar. Di dalamnya terlihat banyak wajah pucat, mata merah, dan ratapan sedih. Dari wajah-wajah pucat itulah asal suara itu.
“Ini Formasi... Formasi Roh Air Kuning.” Tiba-tiba celetuk Xunialiang. Xunialiang adalah yang pertama menyadari apa yang sedang terjadi, alasan kenapa Tianfuzi dan dua anggota Perguruan masih di dalam Formasi.
Setelah Lonceng besar berdentang, Xunialiang mengamati gerakan diam-diam Tianfuzi dan anggota dua Perguruan. Menurutnya, gerekan mereka membentuk sebuah pola. Pola yang mereka bentuk itu adalah sebuah Formasi Kematian yang disebut Formasi Roh Air Kuning.
Mata Xunialiang menyipit saat dia mulai menerangkan mengenai Formasi itu kepada Gofan dan lainnya, “Formasi ini akan membangkitkan Roh Jahat yang terkubur jauh di dalam tanah dan di sekitar Pulau ini....” Dia melihat keadaan sekelilingnya, wajahnya semakin pucat, “Keadaan saat ini sangat tidak menguntungkan, kemungkinan besar, akan banyak yang kehilangan kendali dan mengamuk saat Roh Jahat mengambil alih kesadaran mereka dan menghasut niat buruk mereka.”
“Mengenai bulan purnama, secara khusus Formasi ini harus diaktifkan saat bulan purnama...” Xunialiang melihat ke atas ke arah langit. Asap-asap hitam berwajah pucat dengan ratapan sedih semakin lama semakin banyak.
Saat itu, Dewa Gelap menekan tingkat budaya semua yang terkurung dalam Formasi. Dia mencegah Gofan dan lainnya mendekati Tianfuzi dan anggota dua Perguruan. Senyum terwujud di wajah Tianfuzi dan anggota dua Perguruan lainnya saat melihat para Pendekar lain menyadari apa yang mereka lakukan.
“Tianfuzi! Apa maksudnya ini?!.”
“Penyelenggara dan Donatur terbesar... Ini sebuah jebakan.. Tianfuzi dan mereka, sengaja menjebak kita!!.”
“Sialan... Yang seblumnya melarikan diri, sudah mati dipenggal para bandit. Yang akan datang juga demikian, sekarang kita dikepung seperti ini...”
“Apa mau kalian?!.”
“Bebaskan kami! Keluarkan kami!!.” Teriakan memuncah, ketika hampir ratusan ribu Pendekar yang terkurung dua Formasi panik.
“Aku menolak!... Gelap! Aku tidak akan mau kembali padamu...” Tiba-tiba, sesaat setelah Formasi Roh Air Kuning mulai diaktifkan, Gumulryong berteriak dan mendongak ke arah Dewa Gelap.
Raungan marah Gumulryong membuyarkan tuntutan para Pendekar lainnya kepada Tianfuzi. Mereka menatap heran dengan tingkah aneh Gumulryong.
Gumulryong masih terikat dan berlutut di atas Ring Tarung. Selama beberapa kali dalam enam hari ini, Qimouzha akan mengambil kesempatan untuk menghajarnya. Dia babak belur.
“Menolak atau tidak itu bukan tergantung padamu.” Dewa Gelap bahkan tidak melihat ke arah Gumulryong saat dia membalas ucapannya. Seperti mereka sudah saling mengenal untuk waktu yang lama.
Asap-asap hitam itu, Roh-roh jahat itu... mulai merasuki Gumulryong. Dia adalah orang pertama yang diserang oleh Roh-roh jahat. Bukan satu tapi Enam. Enam Roh jahat menyusup masuk ke dalam tubuhnya.
Dua hela napas setelah raungan Gumulryong. Satu per satu seluruh orang yang terkurung dalam Formasi Roh Air Kuning menjerit kesakitan. Roh jahat memaksa masuk dan mengambil alih tubuh dan kesadar mereka.
“Aarrgghhh!!.”
“Aarrgghhh!!.”
“Tidak... Jangan!! Tinggalakan aku.”
“Aarrgghhh!!.”
“Pergi!!.” Teriak mereka kesakitan.
“Mata Surga.”
Gofan segera melapisi dirinya dengan cahaya ungu, melindunginya dari serangan para Roh jahat.
“Ini aneh.. Bukankah dia juga memiliki Batu Bertuah. Kenapa dia tidak bisa mengaktifkan Mata Surga?.” Batin Gofan saat menyadari Gumulryong berusaha keras melawan para Roh jahat yang berusaha menguasainya.
Dengan mata merah dan napas terengah-engah. Gumulryong menggigit ujung lidahnya dan meludahkan darah dari sana. “Sangkar Gaib. Dengan darah dalam perjanjian! Aku memanggilmu! Keluarlah!.” Teriaknya.
Sebuah cahaya kuning melesat keluar dari Kantong Ruang miliknya dan Bang! Bang! Ledakan terjadi.
“Grroooaahh!.”
“Auuuu.”
Seekor Serigala Mata Biru melolong keluar dari dalam asap ledakan. Lolongannya membuyarkan para Roh jahat yang menyerang Gumulryong. Memukul mundur mereka.
Saat para Roh yang menyerang Gumulryong terpukul mundur, Gofan tersentak. Dia baru bisa melihat perbedaan jelas dari Enam Roh jahat yang menyerang Gumulryong, itu seperti mereka memiliki kasta yang lebih tinggi daripada Roh jahat lain. Mereka seperti Jendral di antara para Roh jahat lain.
“Mati!!.”
Pandangan Gofan teralihkan, dua orang Pendekar bermata merah melesat menyerang ke arahnya. Mereka mengarahkan cakar hitam mereka, menyerang ke arah Gofan. Gofan menghindar dan memperhatikan sekitar, mereka kerasukan, mereka mengamuk, semua sudah mulai terjadi... Seperti di dalam Lukisan Lengyue...
Pertempuran dimulai...
Bersambung...