
Setelah hitungan sebatang dupa untuk dibakar, Gofan muncul di permukaan. Lukanya telah pulih sepenuhnya. Di hadapannya, tanah menghampar dengan beberapa titik berapi. Retakan dimana-mana dan asap putih membumbung ke langit. Langit masih diselimuti dinding cahaya hitam, tidak bisa dipastikan sudah berapa lama waktu berlalu. Awan hitam masih di atas, berderak menderu-deru bersama petir, Gunung berapi masih memuntahkan lava, dan tanah terus bergetar, tapi tidak ada yang menyadari keadaan itu.
Semua masih berada dalam pengaruh Batu Kuasa, semua masih Hening!. Hanya Boudhia yang terlihat tertatih-tatih melakukan penyerangan terhadap tentakel-tentakel darah raksasa. Dia berjuang seorang diri, berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa yang bisa dia selamatkan.
Dia sudah terluka, di beberapa bagian, tubuhnya sudah melayu, terkena serangan tentakel darah. Ribuan ilusi pedang melayang dari langit melesat menebas tentakel-tentakel darah raksasa. Sebagian berhasil diselamatkan, sebagian terlambat. Bagaimana pun fokus utama penyelamatannya adalah Suddha dan keenam saudaranya yang lain, yang melayang mematung di udara. Dia terengah-engah, entah berapa lama dia sudah menebas tentakel darah yang tidak kunjung habis itu, wajahnya terlihat pucat, tapi serangannya tidak kendur. Dia masih bersemangat. Meski tidak ada yang bisa mendengar perjuangannya, selain Gofan.
Gofan berdiri dalam diam, untuk beberapa alasan, dia bersyukur telah banyak yang memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari Pulau Api. Tapi, untuk alasan lain, dia menggeram dalam marah.
“Ini karena AKU!?...” gumamnya. Tubuhnya gemetar pelan dan tangannya mengepal erat. Gofan berdiri marah melihat sebagian besar yang masih bertahan di Pulau adalah orang-orang yang memilih bertahan untuknya, tapi sekarang mereka... MATI!
“Senior!?...” Air mata menetes dari kedua mata Gofan, saat pandangannya jatuh ke arah sebuah mayat kering, itu hanya tinggal kulit dan tulang. Mayat dari seorang Pria tua yang bersikeras bertahan untuk melindunginya. Itu Duan Tianlang. Tidak jauh dari situ, mayat Suezilu juga dalam keadaan sama, semua Penatua Tunjung Putih juga telah menjadi tumpukan kulit dan tulang. Perguruan lain, yang juga dikenali Gofan, mengalami hal serupa.
Hanya segelintir orang, tidak lebih dari enam, yang berhasil terselamatkan berkat Boudhia. Salah satunya seorang Gadis berkepang dua, wajahnya cantik, seandainya saja sebagian tidak melayu karena kehilangan unsur hidup, pasti masih secantik dulu. Sebagian rambutnya telah memutih, sebagian jiwanya telah dihisap keluar. Cahaya kehidupan memancar redup dari tubuh Gadis itu.
“NANNAN!!!” teriak Gofan. Teriakannya melengking, memecah kehingan, meski hanya Boudhia yang bergidik sesaat karena mendengarnya. Gofan mengenali Gadis berkepang dua itu, itu Xionan. Dia terselamatkan, tapi sebagian tubuhnya melayu, kehilangan unsur kehidupannya. Mata Gofan merah bagai darah, saat dia melesat kencang ke arah Xionan.
Ledakan! *Bang!*
Angin berhembus menimbulkan suara berdesing mirip peluru, tangan Gofan membentuk cengkeraman saat Tongkat Emas Naga Kembar melayang ke sisinya. “Ini!?...” Haiwa akhirnya tersadar, dia hanya bingung sesaat sebelum bisa menyadari bahwa dirinya baru saja terbebas dari pengaruh Batu Kuasa. Getaran jiwa Gofan yang marah, menghentaknya hingga tersadar. Gofan mengayunkan Tongkat emas itu, dia melesat cepat dan membantai setiap tentakel darah yang mengahalangi jalannya, Bang! Bang! Bang!
Segera setelah sampai di trmpat Xionan, Gofan mengeluarkan sebotol Pil pemberian Perguruan Tunjung Putih, dia menyalurkan sebagian kekuatan Jiwanya saat Pil itu masuk ke tubuh Xionan.
“Fanfan!?..Per-Pergilah....” Xionan sempat tersadar sesaat, tapi dia pingsan lagi, sebagian Jiwanya sudah hilang. Jika bukan berkat Boudhia dan bantuan Gofan, mungkin Xionan tidak akan bertahan lama.
Saat melihat tatapan Xionan, dan mendengar ucapannya itu, Gofan mengingat hari dimana dia untuk pertama kalinya bisa memeluk Xionan. Saat itu, Xionan begitu gembira telah hidup kembali. Xionan melompat, berlari-lari riang karena akhirnya, dia bisa hidup kembali. Dia bukan lagi roh gentayangan, dia hidup. Gofan bahkan mengingat, bagaimana Xionan menyombongkan tubuh barunya.
Tubuh Gofan bergetar, air mata menetes, dia bisa merasakan bagaimana sakitnya itu, sakit yang dirasakan Xionan sekarang. “Aku.. Aku pasti akan menyelamatkanmu... Aku pasti akan menyembuhkanmu.. Jangan.. Jangan tinggalkan aku... Bertahanlah... Aku pasti akan menyembuhkanmu... Nannan!!.” Gofan meraung sedih, dia memeluk Xionan dan menyalurkan sebanyak mungkin Energi miliknya, untuk memastikan sisa Jiwa Xionan tidak akan lenyap.
Setelah membentuk segel tangan dan meletakkan Energi untuk memyelimuti tubuh Xionan, Gofan menarik tubuhnya dan menyimpannya dalam Cincin Dimensi. Dia juga melakukan itu kepada beberapa orang lainnya yang masih hidup. Mayat kering Duan Tianlang dan Suezilu serta yang lain yang dikenalnya, juga disimpannya ke dalam Cincin Dimensi.
Dewa lalim itu muncul melayang, cahaya emas memancar dari tubuhnya, dia tertawa terbahak-bahak. “Aku berhasil... Akhirnya aku berhasil. AKU KEMBALI...” tawanya berhenti, pandangannya jatuh ke arah Gofan yang menatapnya dengan mata merah.
“Oh benar. Aku hampir melupakanmu... Berlututlah dan serahkan Batu Surga milikmu. Aku akan membiarkanmu hidup setelah itu...” Ucap Dewa Gelap saat tangannya meraih tubuh Fanjia dan melemparnya ke arah Gofan, “Aku kembalikan bonekamu.. Kamu bisa menyimpannya lagi, aku sudah tidak butuh.”
Dewa Gelap tidak mengeringkan tubuh Fanjia, bukan karena dia tidak butuh, tapi karena setetes darah Gofan. Dewa itu merasakan racun Teratai Racun Pelangi juga ada di dalam tubuh Fanjia. Selain jiwa dan energinya, dia tidak membutuhkan yang lain.
Gofan melihat tubuh Fanjia dilempar ke arahnya. Dia mengibaskan lengan, dan tubuh Fanjia teruari. Fanjia kembali menjadi tanah dan setetes darah melayang kembali ke arah Gofan. Darah itu masuk kembali ke tubuhnya.
Gofan tidak berlutut, dia tidak melakukan seperti yang diinginkan Dewa Gelap. “HYAAAAAA!!!.” teriaknya saat dia melaju ke arah Dewa Gelap.
“Jadi inilah jawabanmu... Aku sudah memberimu kesempatan, tapi...” Dewa Gelap mendengus dingin. Dia masih melayang di udara, tidak menghiraukan serangan Gofan atau pun serangan pedang ilusi Boudhia. Dia tenang, kedua tangannya terlipat ke belakang, dan berjalan dengan santai.
Saat Gofan berjarak beberapa puluh langkah, Dewa Gelap mengibaskan tangannya, udara kencang berisi bilah darah tajam menebas Gofan dan memukulnya mundur. Dia memuntahkan beberapa suap darah karena kibasan tangan itu.
“Gofan. Benar bukan? Jangan melebih-lebihkan dirimu, bahkan dengan semua Energi Surgamu, itu masih bukan tandinganku.” Dewa Gelap kembali mengibaskan lengannya dan sebilah angin darah tajam kembali menyerang Gofan.
“Uhk!...” Gofan batuk tiga suap darah lainnya. Wajahnya pucat pasi, tapi matanya tidak berkedip. Itu merah dan marah. Dia kembali meraung marah dan cahaya ungu membalut seluruh tubuhnya.
“MATA SURGA.”
Gofan terlihat seperti kilatan cahaya ungu saat dia melesat menyerang lagi ke arah Dewa Gelap. Kali ini dia bisa membalas serangan bilah darah tajam.
Dewa Gelap sempat terkejut sesaat, tapi kemudian, senyum meremehkan kembali terlihat di matanya. “Aku juga punya.” ucapnya saat seluruh tubuhnya juga diselimuti cahaya ungu.
Bersambung...