
Ketika ketiganya tengah terkejut melihat pertarungan tersebut, seketika itu pula, langit di Dimensi terpisah itu tiba-tiba bergemuruh.
*Gelegar*
Kilat-kilat terang muncul di tengah awan gelap, saat suara tawa lantang terdengar dari puncak tugu batu Menara Enam Pilar Binatang.
HaHaHaHa....
Tawa lantang itu semakin lama semakin jelas terdengar di telinga Gofan, membuatnya menengadah ke atas, melihat ke arah puncak Menara.
“Apa yang sedang dia rencanakan?” gumam Gofan saat kedua matanya melihat ke arah sosok siluet yang tertawa, berdiri di puncak Menara.
“Siapa? Apa ada seseorang di atas sana?” tanya Gu Rong penasaran.
“Siapa lagi, itu dia, Dewa Sastra, apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan? Apa dia akan mengambil kembali Orb Jiwa ini?” pandangan Gofan masih mengarah ke arah atas puncak Menara.
Gu Rong dan Kakek Jo tidak bisa tidak bingung mendengar apa yang baru saja diucapkan Gofan, sebab keduanya tidak bisa melihat sosok siluet Dewa Sastra yang kini tengah tertawa di atas Menara tersebut.
“Benarkah? Tapi aku tidak melihat siapa pun berada di atas sana.” sahut Gu Rong.
Dengan nada yang sama, Kakek Jo juga menyatakan bahwa dia tidak melihat siapa pun berada di atas Menara tersebut.
“Dia bahkan tertawa begitu lantang... Apa kalian benar-benar tidak melihatnya?” saat Gofan menanyakan hal tersebut, tiba-tiba semua yang berada di sekelilingnya berhenti bergerak, seperti semua dunia telah membeku, waktu terhenti. Gu Rong dan Kakek Jo kini terdiam kaku, begitu pula dengan pertempuran yang terjadi di sekitarnya...
*Blazh*
Sosok siluet Dewa Sastra mendadak muncul tepat di sebelah Gofan, “Jangan begitu khawatir. Aku datang hanya untuk memperingatimu, seseorang dari Alam Netherworld sudah lebih dulu memasuki Dimensi terakhir milikku, jika dia berhasil, dia akan mewarisi warisan terbesar milikku.”
Siluet Dewa Sastra berdiri membelakangi Gofan, tangan kirinya dilipat ke belakang punggung, “Aku lebih suka Gadis itu yang mewarisi semua milikku.” tunjuk Dewa Sastra dengan tangan yang lain ke arah Putri Suci, Li Yuan, “Aku tidak berharap pada kalian, baik kamu ataupun Re-demon dari Netherworld itu. Aku tidak ingin kalian yang mengambil warisanku itu... Jadi... aku minta padamu, tolong cegah Re-demon itu mendapatkan warisanku di Dimensi yang terakhir.”
Gofan sempat terdiam sesaat ketika melihat semua yang ada di sekitarnya mendadak membeku, tapi itu bukan kali pertama baginya mengalami hal semacam itu, jadi dia segera menyadari bahwa itu semua perbuatan dari Dewa Sastra “Jadi, maksud Dewa... Dewa memintaku untuk membantu Li Yuan mendapatkan warisanmu itu?” tanyanya.
Siluet Dewa Sastra berbalik dan mengangguk pada Gofan, “Aku tahu kamu memiliki hubungan dengan Tian Baixiang karena itu kamu dengan mudah bisa mengalahkan kedua Slime milikku, aku juga bisa merasakan samar-samar aura Re-demon dari tubuhmu. Meski kamu memiliki warisanku, itu tidak akan berguna banyak bagi dirimu. Bagaimanapun juga kamu sudah mendapatkan Orb Jiwa itu, itu lebih dari cukup bagimu.”
“Dewa... Jika aku boleh tahu, apakah warisan itu, dan kenapa itu tidak akan berguna bagiku?.”
“Perpustakaan Dunia Langit. Siapa pun yang mendapatkan kunci kepemilikannnya dapat menjadi pemilik Perpustakaan Dunia Langit.” sahut siluet Dewa Sastra sebelum separuh bagian tubuhnya tiba-tiba perlahan memudar, “Ini belum berakhir... Ingat, jika Re-demon itu yang mendapatkanya, hanya kehancuran yang akan terjadi di Alam Besar ini. Semua, Sembilan Alam Langit akan mengalami bencana lagi... Jaga dirimu bocah, sampaikan salamku pada Tian Baixiang.... Hahaha...”
*Blazh* sosok siluet Dewa Sastra menghilang sepenuhnya.
Trang...
Trang...
Zyuutt..
Dentuman pertarungan kembali terdengar, semua telah kembali normal, waktu yang terhenti kembali berputar.
Jiang Mulan, Li Yuan, dan Chen Feng terperangah mendengar teriakan tersebut. Mereka tengah disibukkan oleh pertarungan dan baru menyadari kemunculan Gofan setelah teriakan lantang Mo Yun yang memecah hiruk pikuk pertarungan.
“Yo.. Kemana matamu melihat? Jangan lengah ketika melawanku Tuan muda cantik.” ucap Mo Zhi dengan tatapan anehnya ke arah Tian Duoduo, “Hmm... Sepertinya dugaanku benar, kamu pastilah Tian Qiao saudara kembar Tian Duoduo bukan?.” Imbuh Mo Zhi saat Gada besar miliknya menahan serangan kipas besi milik Tian Duoduo.
Sejenak tatapan mata Tian Duoduo seperti terkejut, kedua matanya seperti mengatakan bahwa apa yang dikatakan Mo Zhi adalah kebenaran, “Diam!!.” bentak Tian Duoduo sembari sekali lagi menghempaskan kipas besi miliknya.
*Duaghhh*
Gada Mo Zhi terlepas dari genggaman tangannya, dia terdorong mundur oleh terpaan angin dingin dari serangan kipas Tian Duoduo.
Sementara itu, Mo Yun melesat secepat kilat, menghunuskan pedang ke arah Gofan, “MO FAN!!!?.” teriaknya kencang.
*Zyuutt* Tian Duoduo muncul menghadang, dia berdiri menengahi serangan Mo Yun.
*Trang* Serangan pedang Mo Yun ditepis Kipas besi Tian Duoduo.
Mo Yun jelas terkejut, dia tidak mengira Tian Duoduo akan melesat melindungi Gofan dan menangkis serangan pedangnya.
“Minggir! Ini bukan urusan Menara Harta Ilahi!.” ucap Mo Yun di saat sebelah tangannya membentuk segel tangan, “Tian Qiao, minggirlah atau aku akan mengungkap kelemahan Menara Harta Ilahi!.” imbuhnya.
Blazh... Sosok Bayangan Jiwa dengan pedang besar terlihat muncul menyelimuti tubuh Mo Yun. Kali ini terlihat semakin jelas, seakan-akan sosok Bayangan Jiwa di ranah Mighty Star miliknya telah mencapai titik puncak penerobosan.
Tian Duoduo tersenyum kecil, “Aku rasa kalian generasi muda dari Klan Mo, sudah benar-benar gila, bahkan membedakan aku dan almarhum saudariku pun kalian tidak bisa...” *Blazh* Bayangan Jiwa berbentuk Pendeta Tua dengan Kipas besi terlihat membayangi Tian Duoduo, “Aku peringatkan, sebaiknya kalian menghentikan semua ini, jika tidak ingin merugikan Klan Suci kalian!.” Tian Duoduo mengibaskan Kipas besinya, dia melayang lima kaki dari permukaan tanah bersamaan dengan angin dingin yang muncul dari sosok Bayangan Jiwa miliknya.
Mo Yun terkekeh pelan mendengar ancaman tersebut, “Tian Duoduo sudah mati!!.” tungkasnya saat ayunan pedangnya menepis terjangan angin dingin,“Tian Qiao. Berhentilah memaksakan penyamaranmu... Jika kamu masih menghalangiku membunuh kutu busuk itu, jangan salahkan aku untuk menelanjangimu di sini!.” pedangnya diacungkan ke arah Gofan berada.
Zyuut... Mo Zhi muncul tepat di depan Mo Yun, “Yo... Tuan muda cantik. Jangan lupakan aku, urusan kita belum selesai...” ucapnya sebelum melirik ke arah belakang, ke arah Mo Yun “Saudara Yun. serahkan Gadis ini padaku, aku pasti akan menelanjanginya hehe... Kamu silahkan beri pelajaran si Mo Fan itu.” ucapnya dengan sopan.
Mendengar ucapan Mo Zhi, Mo Yun hanya menatap Mo Zhi dengan tatapan menjijikkan, kemudian dia bergegas melompat dan menerjang kembali ke arah Gofan.
Mo Zhi menggelengkan kepalanya, “Haih... Benar-benar arogan..” belum usai menggumam, Mo Zhi dengan cepat mengayunkan Gada besarnya untuk mencegah Tian Duoduo menghalangi langkah Mo Yun.
Tian Duoduo baru saja mengayunkan Kipas besinya, saat serangan Gada Mo Zhi menghalau serangan kipasnya tersebut.... Trang...
“Sudah ku bilang. Urusan kita belum selesai!” *Blazh* sosok Bayangan Jiwa, Pria berjanggut tebal dengan Gada berduri muncul di belakang Mo Zhi.
Bersambung...
Di sisi lain, Gofan berdiri diam, pikirannya masih bertanya-tanya tentang ucapan Dewa Sastra. Dia sadar akan percobaan serangan Mo Yun, tapi dengan dua orang teman barunya, dia tidak begitu khawatir akan serangan tersebut.
“Mo Fan. Sepertinya orang itu benar-benar membenci dirimu... Apa kamu pernah membunuh kerabatnya atau semacamnya?.” ucap Gu Rong sembari menatap ke arah Mo Yun yang tengah menerjang dengan penuh amarah.
“MO FAN!!!?.... MATILAH!!!”